Dikutip dari Daily Mail dan ditulis pada Selasa (3/3/2015), anak-anak yang lahir dari ibu yang mengalami penambahan bobot berlebihan saat hamil lebih mungkin memiliki penyakit jantung, diabetes tipe 2, dan stroke. Temuan itu diterbitkan sebagai bagian dari konsorsium DORIAN (Developmental Origins of Healthy and Unhealthy Ageing: The Role of Maternal Obesity) yang didanai oleh Komisi Eropa.
DORIAN merupakan proyek besar tentang obesitas di Eropa, yang tujuannya mendukung penelitian terkait proses penuaan yang sehat, penyakit yang berkaitan dengan usia, kemajuan biomedis, serta pencegahan dan strategi manajemen penyakit.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Proyek ini dikembangkan dari penelitian yang dilakukan University of Helsinki dan Folkhalsan Research Centre di Helsinki, Finlandia. Penelitian diikuti lebih dari 13.000 orang yang dari lahir antara tahun 1930-an dan 1940-an sampai sekarang. Studi ini menemukan bahwa plasenta ibu yang mengonsumsi makanan tinggi lemak memberikan perlindungan yang lebih lemah pada janin terhadap hormon stres kortisol.
Kortisol adalah hormon yang diproduksi oleh kelenjar adrenal dan dilepaskan sebagai respons terhadap stres, serta meningkatkan tekanan darah dan kadar gula darah. Hormon ini membantu metabolisme lemak, protein, dan karbohidrat. Namun kortisol yang berlebihan dalam darah bisa menyebabkan masalah kesehatan, karena bisa menekan sistem kekebalan tubuh.
Bayi yang lahir dari ibu yang kelebihan berat badan juga memiliki telomere yang lebih pendek. Telomere merupakan pelindung ujung kromosom dari kerusakan atau dari fusi dengan kromosom tetangga. Telomere yang lebih pendek dijadikan tanda penyakit dan ancaman umur yang lebih pendek. Sementara telomere yang panjang memungkinkan menjalankan fungsi yang lebih baik dan lebih sehat.
Baca juga: Lahir dari Ibu Obesitas, Bayi Berisiko Lebih Tinggi Meninggal Setelah Lahir
Pemimpin proyek tersebut, Dr Patricia Iozzo dari Institute of Clinical Physiology di Pisa, Italia, mengatakan seorang wanita yang memiliki indeks masa tubuh berlebih memiliki telomere yang pendek, dan kemungkinan akan melahirkan anak dengan telomere yang pendek pula. Namun janganlah menerima keadaan begitu saja, karena keadaan ini bisa diperbaiki.
"Seharusnya bisa segera aktif berolahraga dan jalani pola makan sehat. Tujuannya agar saat hamil, ia nantinya dapat menurunkan DNA dengan telomere yang panjang pada anaknya," terang Patricia.
"Dalam konteks kesehatan ibu-anak, perhatian harus ditujukan untuk pencegahan kelebihan berat badan dan obesitas di kalangan gadis-gadis muda, yang akan menjadi ibu di kemudian hari. Strategi yang ditargetkan juga diperlukan untuk memastikan wanita hamil tidak mengalami kelebihan berat badan, juga melindungi kesehatan fisik dan mental mereka dan anak-anaknya," imbuhnya.
(vit/vit)










































