Di samping minyak bumi, gas alam merupakan salah satu sumber bahan bakar yang bermanfaat bagi manusia. Hanya saja karena keserakahan, sumber daya yang tidak terbarukan (unrenewable resources) semacam ini sering diambil dengan cara yang tidak memerhatikan lingkungan, salah satunya dengan metode rekah hidrolik (fracking).
Rekah hidrolik merupakan sebuah metode yang digunakan untuk menyuling atau mengambil gas alam dari dalam tanah, dengan cara memanfaatkan bahan kimia berbahaya. Belakangan metode ini ditentang para ilmuwan dan pegiat lingkungan karena merusak tanah.
Di sisi lain, jumlah sumur gas alam yang dibuat dengan metode penyulingan ini justru semakin bertambah, terutama di negara bagian Pennsylvania, AS. Dari yang awalnya hanya 44 sumur di tahun 2007 menjadi lebih dari 2.800 buah di tahun 2010.
Baca juga: Efek Senjata Kimia di Suriah: Banyak Bayi Cacat dan Ibu Keguguran
Namun yang paling mengejutkan, tim peneliti dari University of Pittsburgh Graduate School of Public Health menemukan bahwa wanita yang tinggal bersebelahan atau dekat dengan sumur gas alam yang dibuat menggunakan metode rekah hidrolik berpeluang 34 persen lebih besar memiliki bayi dengan 'usia gestasional yang kecil'.
Artinya, ia akan lahir dengan berat di bawah rata-rata. Fakta ini mereka dapatkan setelah analisis dilakukan pada rekam medis lebih dari 15.400 bayi yang lahir di negara bagian Pennsylvania, di antaranya di kota Washington, Westmoreland dan Butler antara tahun 2007-2010.
Bahkan ketika dibandingkan dengan faktor lain yang identik dengan berat bayi baru lahir, seperti kebiasaan merokok, usia dan tingkat pendidikan ibu, hasilnya masih tetaplah sama.
"Studi kami adalah yang pertama mengaitkan antara proses penyulingan gas alam yang berbahaya dengan kondisi kesehatan orang-orang di sekitarnya, tapi kami masih harus memastikannya dengan studi lanjutan," tandas salah satu peneliti, Bruce Pitt seperti dikutip dari CBS News, Selasa (9/6/2015).
Baca juga: Penelitian Ini Sebut Kota Paling Berbahaya untuk Bayi Ada di Amerika Serikat
Pitt dan rekan-rekannya meyakini hal ini didasari pada kenyataan bahwa metode fracking untuk penyulingan gas alam menghasilkan limbah pada air, termasuk mengotori udara bahkan menimbulkan polusi suara.
"Seperti kita tahu, janin yang sedang berkembang sangatlah peka terhadap dampak dari polutan lingkungan. Tentu saja jika ibunya terpapar polusi udara seperti logam berat dan benzena maupun stres karena polusi suara yang dihasilkannya, bukan tidak mungkin bayi yang dilahirkannya akan mengalami komplikasi," jelasnya.
(lll/ajg)











































