WHO: Wanita Sering Mendapat Perlakuan Buruk Petugas Medis Saat Melahirkan

WHO: Wanita Sering Mendapat Perlakuan Buruk Petugas Medis Saat Melahirkan

Nita Sari - detikHealth
Jumat, 03 Jul 2015 18:00 WIB
WHO: Wanita Sering Mendapat Perlakuan Buruk Petugas Medis Saat Melahirkan
Ilustrasi (Foto: Thinkstock)
New York -

World Health Organization (WHO) menunjukkan tingginya perlakuan buruk dari petugas kesehatan dan rumah sakit yang dialami wanita saat proses melahirkan. Hal ini menyebabkan beberapa wanita cenderung bersalin di rumah tanpa bantuan tenaga medis profesional dan dapat meningkatkan risiko kematian.

Laporan terbaru berdasarkan informasi di 34 negara, yang dipublikasikan di jurnal PLOS Medicinie, menemukan bahwa banyak wanita di dunia mengalami penanganan yang buruk saat proses kelahiran, termasuk pelayanan yang kasar, lalai dan tidak sopan dari petugas medis.

Informasi tersebut dikumpulkan dari 65 penelitian pada kelompok wanita yang berjumlah ratusan hingga 2.000 orang. Salah satunya, penelitian di Nigeria yang menemukan bahwa 98 persen dari 446 wanita melaporkan bentuk perlakuan buruk. Kemudian pada penelitian lainnya ditemukan laporan sebanyak 28 persen dari 593 wanita di Tanzania.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Mendapatkan perlakuan tidak baik di masa 'spesial' tersebut sangatlah menyedihkan bagi wanita," ucap Meghan A. Bohren, konsultan penelitian di World Health Organization (WHO) dan penulis artikel, seperti dikutip dari NY Times pada Jumat (3/7/2015).

Baca juga: Dalam Perjalanan ke RS, Wanita Ini Melahirkan di Pinggir Jalan

Bentuk perlakuan buruk ini membuat wanita tidak ingin datang ke rumah sakit untuk melahirkan. Akibatnya wanita lebih rentan mengalami masalah saat proses melahirkan dan bahkan kematian, karena tidak mendapat perawatan yang cepat dan berasal dari tenaga medis profesional.

Sekarang ini terdapat sekitar 300.000 kasus kematian ibu melahirkan setiap tahunnya, terutama di negara dengan pendapatan rendah dan menengah. Kebanyakan kematian tersebut disebabkan pendarahan, infeksi, dan tekanan darah tinggi yang sebenarnya dapat dicegah.

WHO telah mengungkapkan keprihatinan mengenai isu tersebut dalam pernyataan mereka di tahun 2014 yang menyebutkan bahwa terdapat berbagai bentuk perlakuan buruk yang dialami wanita, antara lain dipaksa mengikuti prosedur medis seperti sterilisasi, dan kasus ibu dan bayi yang tidak mendapat fasilitas medis karena tidak mampu membayar.

Meghan juga mengatakan bahwa ia pernah bekerja pada isu kesehatan wanita di Ghana, Sudan, Uganda, Guinea, dan Nigeria. Ia mendengar laporan mengejutkan dari wanita tentang perlakuan buruk yang mereka rasakan.

"Perlakuan buruk tersebut dikarenakan staf medis yang tidak memadai, kurangnya pelatihan, dan kurangnya pengawasan. Belum lagi masalah kekurangan persediaan, air, dan listrik di rumah sakit yang membuat tidak nyaman. Masalah yang lebih mendasar adalah status rendah wanita dan banyaknya budaya yang kurang menghormati wanita," ungkap Meghan.

Dalam artikel yang dipublikasikan di PLOS tersebut, Meghan menyebutkan tujuh kategori perlakuan buruk antara lain perlakuan bentuk fisik, seksual, verbal, stigma dan diskriminasi, gagal mendapatkan standar pengobatan profesional, hubungan yang buruk, dan masalah dengan sistem kesehatan. Meghan berharap laporan tersebut mampu mendorong penelitian lebih lanjut dan mengembangkan cara untuk menghentikan perlakuan buruk.

Baca juga: Tersasar di Hutan, Ibu Ini Terpaksa Melahirkan Sendirian

(vta/vta)

Berita Terkait