Dikatakan oleh Direktur Jenderal Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) Kementerian Kesehatan, dr Anung Sugihantono, MKes, beberapa orang tua kadang hamil tanpa perencanaan yang memadai. Kehamilan diperlakukan sebagai sesuatu yang biasa dan dibiarkan berjalan seadanya.
Pemenuhan gizi ibu tak diperhatikan dan pemeriksaan kandungan juga hanya dilakukan satu dua kali saja.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi pada saat kita akan berkreasi (merencanakan anak -red) kita harus sudah berpikir untuk 25 tahun ke depan. Anak saya harus jadi presiden, insinyur, dokter,.... bagi calon orang tua ini akan mendorong merencanakan kehamilan dengan benar," lanjutnya.
Risiko kematian ibu dan bayi sangat dekat dengan perencanaan kehamilan yang tak matang. Perkembangan anak juga bisa tak optimal tanpa ada stimulasi yang baik dan semua itu harus dipikirkan oleh orang tua.
dr Anung mengatakan Indonesia saat ini akan mengejar target Sustainable Development Goals (SDG) pada tahun 2030. Salah satu indikator target tersebut adalah memastikan bahwa aspek kesehatan semua golongan usia mendapat perhatian, termasuk anak yang belum lahir.
"Bicara anak saat ini kita tak hanya bicara yang sudah lahir tapi juga yang kelak akan menjadi generasi pengganti," pungkasnya. (fds/up)











































