Padahal Mitos, 4 Hal Soal Risiko Olahraga Saat Hamil Ini Masih Dipercaya

Padahal Mitos, 4 Hal Soal Risiko Olahraga Saat Hamil Ini Masih Dipercaya

Radian Nyi Sukmasari - detikHealth
Kamis, 22 Okt 2015 08:35 WIB
Padahal Mitos, 4 Hal Soal Risiko Olahraga Saat Hamil Ini Masih Dipercaya
Foto: Instagram
Jakarta - Asal kondisi kehamilan sudah dipastikan baik-baik saja, olahraga tidak akan membahayakan ibu dan juga bayi. Namun sayang, di masyarakat masih sering didengar kepercayaan tentang kaitan olahraga dan keselamatan bayi.

Nah, apa saja hal-hal yang dipercaya masyarakat terkait kegiatan olahraga pada ibu hamil dan nyatanya hanya mitos? Berikut ini penjelasannya seperti dikutip dari Fox News pada Kamis (22/10/2015).

Baca juga: Studi: dengan Olahraga Rutin, Wanita Hamil Bisa Kurangi Risiko Diabetes

1. Terlalu banyak olahraga akan mengambil nutrisi dari bayi

Foto: Wavebreakmedia Ltd/Thinkstock
Fisioterapis dan penulis buku 'Your Best Pregnancy', dr Denise Jagroo, menuturkan nutrisi dari ibu akan disuplai pertama kali untuk bayi di rahim. Selain itu, selama tidak ada masalah pada pembuluh darah, pasokan oksigen untuk janin juga cukup karena ada peningkatan volume aliran darah selama masa kehamilan.

"Plasenta akan mengalirkan cukup nutrisi pada bayi Anda selama memang tidak ada gangguan. Jadi, hanya mitos jika olahraga terlalu banyak bisa membuat ibu mencuri nutrisi yang ditujukan untuk bayi," kata dr Jagroo.

2. Prenatal yoga tidak membantu Anda tetap fit

Foto: Instagram
Wanita hamil menurut dr Jagroo boleh-boleh saja melakukan yoga. Tapi, carilah instruktur yoga yang memang mumpuni untuk yoga hamil. dr Jagroo menyarankan lakukan yoga yang berfokus pada pernapasan dan mengurangi stres.

Amat tidak disarankan ibu hamil mengambil posisi yoga dengan bertumpu pada lutut kemudian bersandar dan membuat tulang belakangnya melengkung. Menurut dr Jagroo, selama kehamilan pusat gravitasi wanita sudah jauh ke depan sehingga banyak tekanan pada ligamen dan tulang belakang.

"Dengan melakukan posisi seperti itu, akan lebih banyak tekanan pada ligamen dan tulang belakang ibu hamil dan itu amat membahayakan," tutur dr Jagroo.

3. Terlalu semangat berolahraga bisa membuat bayi 'stres'

Foto: Wavebreakmedia Ltd
"Ini mitos!" ujar dr Jagroo. Sebab, menurutnya bahkan ketika ibu hamil trimester tiga berlari maraton, bayi tidak akan stres dan kegiatan itu tidak akan membahayakan janin. Asalkan, dipastikan medan lari si ibu aman dan alas kaki yang digunakan nyaman.

"Pastikan medan lari datar, tidak curam atau mendaki. Lalu pastikan pakai sepatu yang ukurannya sesuai serta diikat dengan benar. Selain itu, tentunya Anda sudah memastikan sebelumnya pada dokter jika kondisi kehamilan Anda tak bermasalah," jelas dr Jagroo.

4. Gerakan olahraga pada perut aman

Foto: Thinkstock/Jupiterimages
Gerakan yang melibatkan otot perut belum tentu aman untuk semua ibu hamil. Sehingga, dr Jagroo tak mengharuskan ibu hamil untuk melakukan gerakan olahraga, misalnya sit up. Sebab, masih ada olahraga lain yang relatif lebih aman ketimbang melakukan sit up.

Misalnya saja, Anda berbaring di lantai lalu angkat satu kaki selama beberapa detik, dan lakukan bergantian pada kaku yang lain. Cara lainnya, dalam posisi berdiri, angkat lengan ke atas sambil mengangkat satu kaki di arah berlawanan. Namun, gerakan ini harus dilakukan di bawah pengawasan.

"Jangan khawatir dengan bentuk perut Anda. Biasanya dua bulan setelah bayi lahir, perut Anda sudah kembali seperti semula. Tapi, patut diperhatikan pula gaya hidup, asupan nutrisi, dan lakukan beberapa latihan seperti kegel, peregangan, jalan, atau latihan pernapasan," tutur dr Jagroo.
Halaman 2 dari 5
Fisioterapis dan penulis buku 'Your Best Pregnancy', dr Denise Jagroo, menuturkan nutrisi dari ibu akan disuplai pertama kali untuk bayi di rahim. Selain itu, selama tidak ada masalah pada pembuluh darah, pasokan oksigen untuk janin juga cukup karena ada peningkatan volume aliran darah selama masa kehamilan.

"Plasenta akan mengalirkan cukup nutrisi pada bayi Anda selama memang tidak ada gangguan. Jadi, hanya mitos jika olahraga terlalu banyak bisa membuat ibu mencuri nutrisi yang ditujukan untuk bayi," kata dr Jagroo.

Wanita hamil menurut dr Jagroo boleh-boleh saja melakukan yoga. Tapi, carilah instruktur yoga yang memang mumpuni untuk yoga hamil. dr Jagroo menyarankan lakukan yoga yang berfokus pada pernapasan dan mengurangi stres.

Amat tidak disarankan ibu hamil mengambil posisi yoga dengan bertumpu pada lutut kemudian bersandar dan membuat tulang belakangnya melengkung. Menurut dr Jagroo, selama kehamilan pusat gravitasi wanita sudah jauh ke depan sehingga banyak tekanan pada ligamen dan tulang belakang.

"Dengan melakukan posisi seperti itu, akan lebih banyak tekanan pada ligamen dan tulang belakang ibu hamil dan itu amat membahayakan," tutur dr Jagroo.

"Ini mitos!" ujar dr Jagroo. Sebab, menurutnya bahkan ketika ibu hamil trimester tiga berlari maraton, bayi tidak akan stres dan kegiatan itu tidak akan membahayakan janin. Asalkan, dipastikan medan lari si ibu aman dan alas kaki yang digunakan nyaman.

"Pastikan medan lari datar, tidak curam atau mendaki. Lalu pastikan pakai sepatu yang ukurannya sesuai serta diikat dengan benar. Selain itu, tentunya Anda sudah memastikan sebelumnya pada dokter jika kondisi kehamilan Anda tak bermasalah," jelas dr Jagroo.

Gerakan yang melibatkan otot perut belum tentu aman untuk semua ibu hamil. Sehingga, dr Jagroo tak mengharuskan ibu hamil untuk melakukan gerakan olahraga, misalnya sit up. Sebab, masih ada olahraga lain yang relatif lebih aman ketimbang melakukan sit up.

Misalnya saja, Anda berbaring di lantai lalu angkat satu kaki selama beberapa detik, dan lakukan bergantian pada kaku yang lain. Cara lainnya, dalam posisi berdiri, angkat lengan ke atas sambil mengangkat satu kaki di arah berlawanan. Namun, gerakan ini harus dilakukan di bawah pengawasan.

"Jangan khawatir dengan bentuk perut Anda. Biasanya dua bulan setelah bayi lahir, perut Anda sudah kembali seperti semula. Tapi, patut diperhatikan pula gaya hidup, asupan nutrisi, dan lakukan beberapa latihan seperti kegel, peregangan, jalan, atau latihan pernapasan," tutur dr Jagroo.

(rdn/vit)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads