Semacam Lotere, Kehamilan Sehat Juga Bisa Kena Penyakit Jantung Bawaan

Semacam Lotere, Kehamilan Sehat Juga Bisa Kena Penyakit Jantung Bawaan

Jeems Suryadi - detikHealth
Kamis, 29 Okt 2015 10:38 WIB
Semacam Lotere, Kehamilan Sehat Juga Bisa Kena Penyakit Jantung Bawaan
Foto: thinkstock
Jakarta - Penyakit jantung bawaan (PJB) adalah kelainan pada jantung yang ada bahkan sejak bayi lahir. Sampai saat ini, belum diketahui penyebab pasti dari munculnya PJB pada bayi. Bahkan tidak ada vaksinasi yang bisa mencegah terjadinya PJB. Kelainan PJB adalah kelainan yang sudah muncul saat perkembangan bayi menginjak 3-4 bulan.

"Saat sudah ada ketahuan ada kelainan bahkan ketika bayi ada di dalam perut, tidak ada yang bisa kita lakukan untuk itu. Langkah pencegahan tidak bisa dilakukan sejak jantung sudah terbentuk," jelas dr Maizul Anwar, SpBTKV saat ditemui di Media Gathering Siloam Hospitals, Kebon Jeruk, Jakarta Barat dan ditulis pada Kamis (29/10/2015).

Meskipun sang ibu menjaga kandungannya dengan memberi suplai susu, berolahraga, ataupun sering melakukan konsultasi ke dokter, tidak selalu bisa menjadi jaminan sang anak lahir tanpa PJB.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Saat ibu hamil benar-benar menjaga kesehatan, memang dalam perkembangan bayi akan menjadi sangat baik. Tetapi ada faktor X yang bisa menyebabkan munculnya PJB," ucap dr Maizul.

Baca juga: Ini Sebabnya Tubuh Membiru pada Penyakit Jantung Bawaan 

"Faktor X itu adalah faktor yang kita belum ketahui hingga sekarang, membuat PJB menjadi sesuatu yang bisa dicegah," lanjutnya.

dr Maizul juga menyarankan bahwa pasien PJB yang telah didiagnosis untuk segera dilakukan pembedahan dan koreksi. "Setelah ketahuan, langsung dioperasi dan dilakukan koreksi juga. Agar pasien bisa melakukan aktivitas juga seperti biasa," paparnya.

Dokter yang juga chairman Siloam Heart Institute (SHI) mengatakan pasien yang sembuh dari PJB dan telah menjalani proses koreksi bisa menjalani aktivitas seperti biasa.

"Kalau mereka sudah dilakukan operasi dan koreksi, bisa melakukan aktivitas asal perkembangannya sudah baik dan tidak sering sakit-sakitan. Kalau habis koreksi masih sering sakit, atau malah masih terlihat birunya, lebih baik jangan dipaksakan beraktivitas," ujar dr Maizul. (up/up)

Berita Terkait