Perlu Tahu! 6 Kondisi Langka Terkait Kehamilan

Perlu Tahu! 6 Kondisi Langka Terkait Kehamilan

Nurvita Indarini - detikHealth
Jumat, 13 Nov 2015 09:07 WIB
Perlu Tahu! 6 Kondisi Langka Terkait Kehamilan
Foto: thinkstock
Jakarta - Kehamilan lumrah terjadi kala sperma berhasil membuahi sel telur. Nah, terkait kehamilan, rupanya ada aneka kondisi langka yang bisa terjadi.

Berikut ini enam kondisi langka terkait kehamilan yang dirangkum detikHealth dan ditulis pada Jumat (13/11/2015):

Baca juga: Aneka Kondisi Tak Disangka yang Bisa Terjadi Saat Hamil

1. Hamil Janin Batu

Foto: Thinkstock
Hamil janin batu. Ya, ini memang kondisi super langka. Dalam literatur medis, ada kurang dari 300 kasus yang dilaporkan. Meski langka, kondisi yang disebut litopedion tetap harus diketahui agar bisa diantisipasi.

Umumnya kondisi ini diketahui setelah sekian puluh tahun saat pasien memeriksakan dirinya dengan melibatkan sinar-X. Janin yang dilahirkan sudah membatu seperti mumi.

Litopedion terjadi ketika kehamilan gagal dan janin mengalami kalsifikasi atau pembatuan selama berada dalam tubuh ibu. Karena janin terlalu besar untuk diserap tubuh, maka sisa-sisa janin atau kantung ketuban di sekitarnya perlahan-lahan mengapur, sehingga janin mengeras seperti batu. Ini merupakan mekanisme untuk melindungi tubuh ibu dari infeksi jaringan yang membusuk.

Jika tidak ada komplikasi yang terjadi, pada dasarnya ibu bisa saja hidup normal seperti biasa. Kebanyakan kasus litopedion ditemukan pada perempuan yang sudah berusia lanjut.

2. Fobia Hamil

Foto: thinkstock
Fobia hamil disebut juga tokophobia. Merupakan ketakutan disertai kengerian yang berlebihan terhadap proses melahirkan. Keadaan ini memengaruhi setidaknya satu dari sepuluh wanita. Ketakutan ini lantas diimplementasikan melalui cara berbeda.

Ada beberapa wanita yang merasa takut untuk melahirkan sehingga mereka memutuskan untuk tidak mempunyai anak. Sementara yang lainnya bahkan secara signifikan menunda untuk memulai berumah tangga.

Beberapa wanita juga bisa mengalami tokophobia sekunder akibat pengalaman melahirkan sebelumnya yang dinilai cukup mengerikan. Jika ini yang terjadi, sebaiknya berkonsultasi dengan psikolog atau ahli kandungan yang berpengalaman.

3. Hamil Tanpa Janin

Foto: Thinkstock
Hamil tanpa janin bisa terjadi. Ini dialami mereka yang mengalami hamil palsu atau pseudosiesis. Konon yang mengalami masalah ini tidak menstruasi, mengalami morning sickness, mengidam, sakit di bagian perut dan pembesaran payudara sebagaimana perempuan di awal-awal kehamilan.

Keinginan yang begitu mendalam untuk memiliki anak bisa membuat pikiran melancarkan sugesti-sugesti ke otak sehingga kelenjar yang berada di otak terangsang dan menghasilkan hormon oksitosin dan prolaktin yang mengarah pada gejala kehamilan sebenarnya. Alhasil menimbulkan gejala-gejala menyerupai gejala kehamilan.

Bahkan mungkin terjadi perubahan puting dan produksi susu. Perasaan adanya gerakan janin pun sangat mungkin dirasakan. Gejala-gejala tersebut dapat berlangsung selama beberapa minggu, selama sembilan bulan, atau bahkan beberapa tahun.

Kadang-kadang, dokter akan menemukan beberapa perubahan fisik yang terjadi seperti umumnya wanita hamil, seperti rahim yang membesar dan leher rahim yang melunak. Akan tetapi jika melakukan tes urine kehamilan, maka yang terjadi hasilnya selalu negatif, terkecuali kanker langka yang menghasilkan hormon mirip dengan kehamilan.

4. Hamil di Luar Rahim

Foto: thinkstock
Kehamilan di luar rahim ada kalanya bisa terjadi. Fenomena ini disebut juga ectopic pregnancy. sel telur yang telah dibuahi akan menempel pada jalan menuju rahim, dan berkembang di luar rahim. Dalam persentase kecil, kehamilan bisa terjadi di dalam rongga perut, atau di tempat-tempat lain seperti usus, ovarium, atau bahkan di aorta.

Dalam kebanyakan kasus, biasanya dokter akan merekomendasikan agar kehamilan dihentikan. Pertimbangannya karena risiko ekstrem yang bisa dialami sang ibu. Selain itu karena berada di tempat yang tidak tepat, janin akan mati dengan sendirinya karena kurangnya suplai darah.

Di Tanzania pernah terjadi kehamilan di rongga perut. Diyakini, janin itu tumbuh di rongga perut karena bergeser dari tuba fallopi atau saluran telur. Meski tidak tumbuh di rahim, janin itu berkembang dan akhirnya lahir bayi seberat 1,7 kg melalui operasi. Ya, berbeda dengan kehamilan ektopik lainnya, kehamilan di rongga perut masih memungkinkan bayi lahir sehat. Meskipun ada pula kemungkinan ibunya meninggal.

Kasus kehamilan di rongga perut terbilang langka, diperkirakan hanya 1 dari 10.000 kehamilan.

5. Alergi Janinnya Sendiri

Foto: Thinkstock
Seorang perempuan hamil di Cornwall, Inggris, beberapa waktu lalu mengaku kulitnya terbakar dan muncul ruam-ruam pada kulitnya. Antibiotik dan lotion calamine tidak mampu meringankan gatal-gatal yang ia derita. Dokter menyuruhnya untuk merebus serta mencuci semua pakaiannya dan menaruh sepatunya di lemari es, tetapi penyakitnya tak juga sembuh.

Uniknya, setelah si jabang bayi lahir, ruamnya mereda walau beberapa hari, kemudian kumat lagi. Perempuan itu menemui seorang dokter pengganti yang menduga kuat bahwa penyakitnya disebabkan oleh gangguan auto imun atau alergi. Dokter ini pun meresepkan antihistamin dosis tinggi untuk meredakan alergi.

Empat bulan setelah diresepkan anti histamin, ruam yang diidap perempuan itu hilang. Rupanya dia mengalami kondisi yang disebut pemfigoid gestationis, yaitu gangguan kehamilan yang diakibatkan jaringan plasenta janin memasuki aliran darah ibu dan bereaksi dengan sistem kekebalan tubuh ibu.

Pemfigoid gestationis diyakini hanya terjadi pada 1 dari 2 juta kehamilan di seluruh dunia. Gejalanya cenderung lebih parah saat kehamilan berikutnya.

6. Hamil Lagi Saat Sedang Hamil

Foto: thinkstock
Ketika seorang perempuan hamil, serviks seharusnya tertutup lendir. Karena itu, teorinya perempuan hamil akan berhenti berovulasi atau memproduksi sel telur. Namun nyatanya, tidak selalu demikian. Sehingga hamil lagi saat hamil bisa saja terjadi, meski sangat jarang.

Ini terjadi karena beberapa perempuan ada yang bisa memproduksi dua telur, bukan hanya satu. Dalam kasus yang jarang, mungkin pula terjadi ovulasi sampai beberapa pekan setelah perempuan hamil. Jika lendir penutup serviks tidak terbentuk, maka seorang perempuan bisa hamil dua kali di waktu yang bersamaan. Bisa terjadi pula perempuan yang memiliki dua rahim, sehingga masing-masing rahim bisa menampung bayi yang dikandung secara terpisah.

Hamil lagi saat sedang hamil disebut dengan superfetasi. Merupakan terjadinya lebih dari satu tahap pengembangan embrio pada hewan atau manusia yang sama. Sedangkan jika terjadi pembuahan dua atau lebih sel telur oleh sperma dalam siklus haid yang sama dari hubungan seks yang berbeda waktu, dikenal sebagai superfekundasi.

Pada manusia, superfetasi bisa disertai beberapa risiko. Umumnya yang terjadi adalah bayi kedua lahir prematur, di mana hal ini dapat meningkatkan peluang masalah perkembangan paru-paru.
Halaman 2 dari 7
Hamil janin batu. Ya, ini memang kondisi super langka. Dalam literatur medis, ada kurang dari 300 kasus yang dilaporkan. Meski langka, kondisi yang disebut litopedion tetap harus diketahui agar bisa diantisipasi.

Umumnya kondisi ini diketahui setelah sekian puluh tahun saat pasien memeriksakan dirinya dengan melibatkan sinar-X. Janin yang dilahirkan sudah membatu seperti mumi.

Litopedion terjadi ketika kehamilan gagal dan janin mengalami kalsifikasi atau pembatuan selama berada dalam tubuh ibu. Karena janin terlalu besar untuk diserap tubuh, maka sisa-sisa janin atau kantung ketuban di sekitarnya perlahan-lahan mengapur, sehingga janin mengeras seperti batu. Ini merupakan mekanisme untuk melindungi tubuh ibu dari infeksi jaringan yang membusuk.

Jika tidak ada komplikasi yang terjadi, pada dasarnya ibu bisa saja hidup normal seperti biasa. Kebanyakan kasus litopedion ditemukan pada perempuan yang sudah berusia lanjut.

Fobia hamil disebut juga tokophobia. Merupakan ketakutan disertai kengerian yang berlebihan terhadap proses melahirkan. Keadaan ini memengaruhi setidaknya satu dari sepuluh wanita. Ketakutan ini lantas diimplementasikan melalui cara berbeda.

Ada beberapa wanita yang merasa takut untuk melahirkan sehingga mereka memutuskan untuk tidak mempunyai anak. Sementara yang lainnya bahkan secara signifikan menunda untuk memulai berumah tangga.

Beberapa wanita juga bisa mengalami tokophobia sekunder akibat pengalaman melahirkan sebelumnya yang dinilai cukup mengerikan. Jika ini yang terjadi, sebaiknya berkonsultasi dengan psikolog atau ahli kandungan yang berpengalaman.

Hamil tanpa janin bisa terjadi. Ini dialami mereka yang mengalami hamil palsu atau pseudosiesis. Konon yang mengalami masalah ini tidak menstruasi, mengalami morning sickness, mengidam, sakit di bagian perut dan pembesaran payudara sebagaimana perempuan di awal-awal kehamilan.

Keinginan yang begitu mendalam untuk memiliki anak bisa membuat pikiran melancarkan sugesti-sugesti ke otak sehingga kelenjar yang berada di otak terangsang dan menghasilkan hormon oksitosin dan prolaktin yang mengarah pada gejala kehamilan sebenarnya. Alhasil menimbulkan gejala-gejala menyerupai gejala kehamilan.

Bahkan mungkin terjadi perubahan puting dan produksi susu. Perasaan adanya gerakan janin pun sangat mungkin dirasakan. Gejala-gejala tersebut dapat berlangsung selama beberapa minggu, selama sembilan bulan, atau bahkan beberapa tahun.

Kadang-kadang, dokter akan menemukan beberapa perubahan fisik yang terjadi seperti umumnya wanita hamil, seperti rahim yang membesar dan leher rahim yang melunak. Akan tetapi jika melakukan tes urine kehamilan, maka yang terjadi hasilnya selalu negatif, terkecuali kanker langka yang menghasilkan hormon mirip dengan kehamilan.

Kehamilan di luar rahim ada kalanya bisa terjadi. Fenomena ini disebut juga ectopic pregnancy. sel telur yang telah dibuahi akan menempel pada jalan menuju rahim, dan berkembang di luar rahim. Dalam persentase kecil, kehamilan bisa terjadi di dalam rongga perut, atau di tempat-tempat lain seperti usus, ovarium, atau bahkan di aorta.

Dalam kebanyakan kasus, biasanya dokter akan merekomendasikan agar kehamilan dihentikan. Pertimbangannya karena risiko ekstrem yang bisa dialami sang ibu. Selain itu karena berada di tempat yang tidak tepat, janin akan mati dengan sendirinya karena kurangnya suplai darah.

Di Tanzania pernah terjadi kehamilan di rongga perut. Diyakini, janin itu tumbuh di rongga perut karena bergeser dari tuba fallopi atau saluran telur. Meski tidak tumbuh di rahim, janin itu berkembang dan akhirnya lahir bayi seberat 1,7 kg melalui operasi. Ya, berbeda dengan kehamilan ektopik lainnya, kehamilan di rongga perut masih memungkinkan bayi lahir sehat. Meskipun ada pula kemungkinan ibunya meninggal.

Kasus kehamilan di rongga perut terbilang langka, diperkirakan hanya 1 dari 10.000 kehamilan.

Seorang perempuan hamil di Cornwall, Inggris, beberapa waktu lalu mengaku kulitnya terbakar dan muncul ruam-ruam pada kulitnya. Antibiotik dan lotion calamine tidak mampu meringankan gatal-gatal yang ia derita. Dokter menyuruhnya untuk merebus serta mencuci semua pakaiannya dan menaruh sepatunya di lemari es, tetapi penyakitnya tak juga sembuh.

Uniknya, setelah si jabang bayi lahir, ruamnya mereda walau beberapa hari, kemudian kumat lagi. Perempuan itu menemui seorang dokter pengganti yang menduga kuat bahwa penyakitnya disebabkan oleh gangguan auto imun atau alergi. Dokter ini pun meresepkan antihistamin dosis tinggi untuk meredakan alergi.

Empat bulan setelah diresepkan anti histamin, ruam yang diidap perempuan itu hilang. Rupanya dia mengalami kondisi yang disebut pemfigoid gestationis, yaitu gangguan kehamilan yang diakibatkan jaringan plasenta janin memasuki aliran darah ibu dan bereaksi dengan sistem kekebalan tubuh ibu.

Pemfigoid gestationis diyakini hanya terjadi pada 1 dari 2 juta kehamilan di seluruh dunia. Gejalanya cenderung lebih parah saat kehamilan berikutnya.

Ketika seorang perempuan hamil, serviks seharusnya tertutup lendir. Karena itu, teorinya perempuan hamil akan berhenti berovulasi atau memproduksi sel telur. Namun nyatanya, tidak selalu demikian. Sehingga hamil lagi saat hamil bisa saja terjadi, meski sangat jarang.

Ini terjadi karena beberapa perempuan ada yang bisa memproduksi dua telur, bukan hanya satu. Dalam kasus yang jarang, mungkin pula terjadi ovulasi sampai beberapa pekan setelah perempuan hamil. Jika lendir penutup serviks tidak terbentuk, maka seorang perempuan bisa hamil dua kali di waktu yang bersamaan. Bisa terjadi pula perempuan yang memiliki dua rahim, sehingga masing-masing rahim bisa menampung bayi yang dikandung secara terpisah.

Hamil lagi saat sedang hamil disebut dengan superfetasi. Merupakan terjadinya lebih dari satu tahap pengembangan embrio pada hewan atau manusia yang sama. Sedangkan jika terjadi pembuahan dua atau lebih sel telur oleh sperma dalam siklus haid yang sama dari hubungan seks yang berbeda waktu, dikenal sebagai superfekundasi.

Pada manusia, superfetasi bisa disertai beberapa risiko. Umumnya yang terjadi adalah bayi kedua lahir prematur, di mana hal ini dapat meningkatkan peluang masalah perkembangan paru-paru.

(vit/lll)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads