Solusio Plasenta, Komplikasi Kehamilan ketika Plasenta Lepas dari Rahim

ADVERTISEMENT

Ketika Plasenta Lepas dari Rahim

Solusio Plasenta, Komplikasi Kehamilan ketika Plasenta Lepas dari Rahim

Radian Nyi Sukmasari - detikHealth
Kamis, 26 Nov 2015 10:16 WIB
Foto: thinkstock
Jakarta - Beberapa waktu lalu, seorang bidan muda di pedalaman Kalimantan Barat meninggal setelah mengalami komplikasi kehamilan solusio plasenta. Sebenarnya, apa yang dimaksud dengan solusio placenta dan apa saja penyebabnya?

"Solusio plasenta per definisi adalah kejadian lepasnya plasenta secara prematur dari rahim. Normalnya, plasenta akan lepas dari rahim pada saat bayi sudah dilahirkan. Rahim yang mengecil akibat retraksi tanpa disertai plasenta yang mengecil mengakibatkan plasenta terlepas secara alami," kata dr Hari Nugroho SpOG dari RSUD Dr Soetomo Surabaya saat berbincang dengan detikHealth dan ditulis pada Kamis (26/11/2015).

Dihubungi terpisah, dr Irfan Mulyana Mustofa SpOG dari RSUD Leuwiliang Bogor mengatakan solusio plasenta masuk dalam kategori kegawatan obstetri. Ia menjelaskan plasenta seperti cakram dan jika lepas di bagian tengahnya, darah tidak bisa keluar karena bagian pinggir plasenta masih menempel.

"Sehingga kalau dilihat seperti ubur-ubur yang terbalik.  Ini yang menyebabkan perdarahan tersembunyi di mana darah tidak bisa
keluar dan pastinya berbahaya. Biasanya solusio plasenta terjadi di atas usia kehamilan 20 minggu karena jika di bawah usia kehamilan 20 minggu termasuk dalam keguguran atau abortus," jelas dr Irfan.

Baca juga: Banjir Simpati untuk Bidan Anik yang Meninggal Saat Bertugas di Pedalaman

Lantas, apa penyebab terjadinya solusio plasenta? dr Hari mengungkapkan penyebab terjadinya solusio plasenta adalah pecahnya pembuluh darah di antara plasenta dan rahim. Akibat pembuluh darah pecah, darah keluar dari pembuluh darah dan menumpuk di antara plasenta dan rahim lalu menekan rahim dan plasenta yang berakibat terpisahnya plasenta dengan rahim.

dr Hari mengatakan, perdarahan yang sedikit disertai mekanisme pertahanan terhadap perdarahan dari dalam tubuh bisa menghentikan perdarahan. Sehingga, pemisahan yang minimal tidak berlanjut dan sisa perdarahan dapat diserap oleh tubuh. Namun, perdarahan yang banyak akan membuat area plasenta yang terpisah dengan rahim semakin besar.

"Sesuai fungsi plasenta, yang memberikan nutrisi dari ibu ke janin dan mengambil sisa metabolisme janin ke Ibu, apabila terpisah, maka fungsi ini tidak dapat berjalan seperti semestinya dan dapat membahayakan ibu dan janin," kata dr Hari.

Sementara, dikatakan dr Sita Ayu Arumi SpOG dari RS Bunda Jakarta, hipertensi menjadi salah satu faktor risiko solusio plasenta karena tekanan darah yang tinggi bisa meningkatnkan risiko putus plasentanya. Selain itu, trauma eksternal seperti ibu yang jatuh atau mengalami kecelakaan lalu perutnya terbentur juga bisa memicu terjadinya solusio plasenta.

Baca juga: Kembalikan Nutrisi, Kati Mengonsumsi Plasenta Sendiri dengan Cara Dijus

(rdn/vit)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT