"Meskipun hingga kini belum jelas alasannya, namun penelitian menunjuk jika beberapa faktor seperti genetik dan lingkungan memicu anak mengalami depresi," kata Profesor Anick Berard dari University of Montreal dan Rumah Sakit Anak CHU Sainte-Justine, dikutip dari Telegraph, Senin (21/12/2015).
Penelitian yang dilakukan peneliti di University of Montreal dan melibatkan 140 wanita hamil tersebut menemukan jika obat-obatan antidepresan yang dikonsumsi saat trimester kedua dan ketiga secara rutin bisa meningkatkan kemungkinan anak mengalami autisme. Hal tersebut akan meningkat lagi apabila obat yang diminum oleh ibu adalah jenis obat serotonin reuptake atau sering dikenal SSRI.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Penelitian kami telah menetapkan bahwa konsumsi antidepresan selama trimester kedua atau ketiga kehamilan hampir meningkatkan risiko anak akan mengalami autisme pada usia tujuh tahun sampai dua kali lipat, terutama jika ibu mengonsumsi SSRI," ucap Prof Berard.
Prof Berard mengungkapkan cukup masuk akal jika konsumsi antidepresan meningkatkan anak mengalami autisme karena serotonin diyakini akan terlibat dalam proses perkembangan pra dan pasca melahirkan. Namun, menurut Prof Berard hal tersebut masih belum jelas apakah peningkatan risiko autisme berasal dari obat atau penyebab lainnya.
"Bagi perempuan yang memiliki kondisi tersebut, tidak boleh langsung untuk berhenti mengonsumsi obat. Maka, jika ia ingin memiliki anak namun bingung untuk melanjutkan konsumi obat atau tidak disarankan untuk berdiskusi dengan dokternya," lanjutnya.
Baca juga: Santa Klaus di Sini Dilatih untuk Bisa Berkomunikasi dengan Anak Autis
Menurut Prof Berard, penelitian ini bertujuan untuk memberikan pemahaman yang lebih baik mengenai perkembangan saraf dalam jangan panjang dan efek antidepresan yang digunakan selama kehamilan. Terlebih, badan kesehatan dunia (WHO) memperkirakan depresi akan menjadi penyebab kematian nomor dua pada tahun 2020.
Sayangnya, penelitian tersebut memiliki keterbatasan. Menurut Prof Seena Fazel dari University of Oxford, studi tersebut tidak memperhitungkan perbedaan latar belakang dari berbagai kelompok wanita dalam penelitian sepenuhnya. (rdn/vit)











































