Para Ibu Hamil yang Rela Tunda Terapi Kanker Demi Pertahankan Bayinya

Para Ibu Hamil yang Rela Tunda Terapi Kanker Demi Pertahankan Bayinya

Radian Nyi Sukmasari - detikHealth
Selasa, 29 Des 2015 20:00 WIB
Para Ibu Hamil yang Rela Tunda Terapi Kanker Demi Pertahankan Bayinya
Foto: thinkstock
Jakarta - Pengobatan kanker bisa berefek pada janin. Untuk itulah, beberapa wanita berikut lebih memilih menolak menjalani terapi kanker dengan alasan mereka ingin mempertahankan bayinya.

Meskipun nyawa menjadi taruhannya, tapi wanita-wanita ini tetap bersikukuh menunda terapi kanker demi bayi di kandungannya. Seperti dirangkum detikHealth, berikut para wanita yang menolak terapi kanker demi bayi di kandungannya.

Baca juga: Makin Banyak Wanita Terdeteksi Kanker Saat Hamil

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


1. Elizabeth Joice

Foto: CNN
Di tahun 2010, Liz menjalani kemoterapi untuk mengobati sarkoma yang dialaminya. Namun, kanker kembali muncul saat Liz sedang hamil satu bulan. Ahli bedah pun mengangkat tumor di punggung Liz.

Tapi, ia tetap memerlukan scan MRI untuk mengetahui apakah sel kanker sudah menyebar di tubuhnya. Namun, pewarna kontras pada MRI berisiko menghambat perkembangan janin. Sehingga, Liz memilih menolak melakukan MRI dan melanjutkan kehamilan tanpa mengetahui status kankernya.

Beberapa bulan setelahnya, ia mengalami kesulitan bernapas. Setelah melakukan pemeriksaan X-ray, ditemukan tumor di paru-parunya. Akibatnya, wanita berusia 36 tahun ini harus melahirkan enam minggu lebih awal lewat operasi caesar. Setelah melahirkan, dokter menemukan kanker sudah menyebar ke jantung, perut, dan pinggul Liz.

Meski begitu, ia dan sang suami tetap berusaha menikmati momen-momen merawat si kecil Lily Joice yang lahir tepat pada tanggal 23 Januari. Tanggal 9 Maret, Liz menghembuskan napas terakhirnya di rumah sakit.

2. Bally Taylor

Foto: thinkstock
Saat hamil anak pertamanya, Bally Taylor (37) mengalami rasa sakit yang menyiksa di punggungnya. Ternyata, rasa sakit itu disebabkan adanya kanker plasenta yang diidap Taylor. Karena saat itu usia kehamilannya baru 3 bulan, Taylor tidak berani mengonsumsi obat penghilang rasa sakit selain parasetamol.

Saat usia kehamilannya tujuh bulan, Taylor tidak bisa berjalan dan harus dilarikan ke rumah sakit. Akhirnya, dokter melakukan operasi caesar darurat agar dia tetap hidup. Setelah melahirkan, Taylor berada dalam kondisi koma selama 3 hari. Sayangnya hasil tes menunjukkan ia memiliki Choriocarcinoma of the placenta, yaitu kanker langka yang berkembang di rahim.

Kanker yang dialami Taylor juga telah menyebar ke paru-paru dan tumornya berkembang di sekitar tulang belakang hingga memicu timbulnya rasa sakit punggung yang parah.

Setelah menjalani operasi, kemoterapi, operasi fisio, fisioterapi serta tekad yang kuat, Taylor bisa berjalan lagi dan kanker yang dimilikinya dalam masa remisi.

3. Cara Combs

Foto: Emily Lucarz/Facebook
Saat mengandung anak ke-empatnya, Cara Combs (38) dididagnosis melanoma atau kanker kulit stadium 4. Tapi, Cara memutuskan untuk menunda terapi hingga ia melahirkan anaknya saat usia kandungannya 28 minggu.

Usai melahirkan, Cara dijadwalkan akan menjalani kemoterapi di Texas 48 jam setelah melahirkan. Tapi sayang, tiga hari setelah melahirkan putrinya Shaylin, Cara meninggal dunia. Menurut dokter, kanker yang dialami Cara sudah menyebar ditambah dengan komplikasi kehamilan yang ia alami.

Dua hari sebelum Shaylin lahir, Cara dan suaminya Roy, beserta tiga anak mereka melakukan sesi foto bersama di mana foto tersebut merupakan hasil jepretan tangan salah satu teman Cara bernama Emily Lucarz.

4. Heidi Loughlin

Foto: PA Real Life
Di bulan September lalu, dalam keadaan hamil tiga bulan, Heidi Loughlin (32) didiagnosis kanker payudara. Dokter sempat menyarankan Heidi menggugurkan kandungannya sehingga sesudahnya pengobatan kanker bisa dilakukan. Tapi, Heidi tak yakin kondisinya akan membaik.

Diakui Heidi, kala itu ia dihadapkan pada pilihan yang sangat sulit. Di sisi lain ia harus mengobati penyakitnya, tapi di lain pihak ia ingin mempertahankan bayinya. Setelah mempertimbangkan banyak hal, Heidi memilih mempertahankan bayinya.

"Saya harus mengonsumsi obat hormonal untuk membantu mengatasi kanker selama kehamilan saya. Kemoterapi juga saya jalani dengan dosis lebih rendah sampai saya melahirkan di mana saya tidak tahu sudah seberapa parah penyakit saya nantinya," kata Heidi.

Namun, Heidi yakin bagaimanapun kondisi akhirnya nanti, ia sudah membuat keputusan tepat dengan mempertahankan anak keduanya. "Saya hanya ingin melihat anak saya bisa hadir di dunia ini dengan sehat dan selamat meski nyawa saya bisa saja jadi taruhannya," katanya.
Halaman 2 dari 5
Di tahun 2010, Liz menjalani kemoterapi untuk mengobati sarkoma yang dialaminya. Namun, kanker kembali muncul saat Liz sedang hamil satu bulan. Ahli bedah pun mengangkat tumor di punggung Liz.

Tapi, ia tetap memerlukan scan MRI untuk mengetahui apakah sel kanker sudah menyebar di tubuhnya. Namun, pewarna kontras pada MRI berisiko menghambat perkembangan janin. Sehingga, Liz memilih menolak melakukan MRI dan melanjutkan kehamilan tanpa mengetahui status kankernya.

Beberapa bulan setelahnya, ia mengalami kesulitan bernapas. Setelah melakukan pemeriksaan X-ray, ditemukan tumor di paru-parunya. Akibatnya, wanita berusia 36 tahun ini harus melahirkan enam minggu lebih awal lewat operasi caesar. Setelah melahirkan, dokter menemukan kanker sudah menyebar ke jantung, perut, dan pinggul Liz.

Meski begitu, ia dan sang suami tetap berusaha menikmati momen-momen merawat si kecil Lily Joice yang lahir tepat pada tanggal 23 Januari. Tanggal 9 Maret, Liz menghembuskan napas terakhirnya di rumah sakit.

Saat hamil anak pertamanya, Bally Taylor (37) mengalami rasa sakit yang menyiksa di punggungnya. Ternyata, rasa sakit itu disebabkan adanya kanker plasenta yang diidap Taylor. Karena saat itu usia kehamilannya baru 3 bulan, Taylor tidak berani mengonsumsi obat penghilang rasa sakit selain parasetamol.

Saat usia kehamilannya tujuh bulan, Taylor tidak bisa berjalan dan harus dilarikan ke rumah sakit. Akhirnya, dokter melakukan operasi caesar darurat agar dia tetap hidup. Setelah melahirkan, Taylor berada dalam kondisi koma selama 3 hari. Sayangnya hasil tes menunjukkan ia memiliki Choriocarcinoma of the placenta, yaitu kanker langka yang berkembang di rahim.

Kanker yang dialami Taylor juga telah menyebar ke paru-paru dan tumornya berkembang di sekitar tulang belakang hingga memicu timbulnya rasa sakit punggung yang parah.

Setelah menjalani operasi, kemoterapi, operasi fisio, fisioterapi serta tekad yang kuat, Taylor bisa berjalan lagi dan kanker yang dimilikinya dalam masa remisi.

Saat mengandung anak ke-empatnya, Cara Combs (38) dididagnosis melanoma atau kanker kulit stadium 4. Tapi, Cara memutuskan untuk menunda terapi hingga ia melahirkan anaknya saat usia kandungannya 28 minggu.

Usai melahirkan, Cara dijadwalkan akan menjalani kemoterapi di Texas 48 jam setelah melahirkan. Tapi sayang, tiga hari setelah melahirkan putrinya Shaylin, Cara meninggal dunia. Menurut dokter, kanker yang dialami Cara sudah menyebar ditambah dengan komplikasi kehamilan yang ia alami.

Dua hari sebelum Shaylin lahir, Cara dan suaminya Roy, beserta tiga anak mereka melakukan sesi foto bersama di mana foto tersebut merupakan hasil jepretan tangan salah satu teman Cara bernama Emily Lucarz.

Di bulan September lalu, dalam keadaan hamil tiga bulan, Heidi Loughlin (32) didiagnosis kanker payudara. Dokter sempat menyarankan Heidi menggugurkan kandungannya sehingga sesudahnya pengobatan kanker bisa dilakukan. Tapi, Heidi tak yakin kondisinya akan membaik.

Diakui Heidi, kala itu ia dihadapkan pada pilihan yang sangat sulit. Di sisi lain ia harus mengobati penyakitnya, tapi di lain pihak ia ingin mempertahankan bayinya. Setelah mempertimbangkan banyak hal, Heidi memilih mempertahankan bayinya.

"Saya harus mengonsumsi obat hormonal untuk membantu mengatasi kanker selama kehamilan saya. Kemoterapi juga saya jalani dengan dosis lebih rendah sampai saya melahirkan di mana saya tidak tahu sudah seberapa parah penyakit saya nantinya," kata Heidi.

Namun, Heidi yakin bagaimanapun kondisi akhirnya nanti, ia sudah membuat keputusan tepat dengan mempertahankan anak keduanya. "Saya hanya ingin melihat anak saya bisa hadir di dunia ini dengan sehat dan selamat meski nyawa saya bisa saja jadi taruhannya," katanya.

(rdn/vit)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads