Selasa, 07 Jun 2016 11:01 WIB

Studi: Ngidam Makin Dituruti, Kenaikan Bobot Ibu Hamil Cenderung Berlebihan

Radian Nyi Sukmasari - detikHealth
Foto: Ilustrasi (Thinkstock)
Jakarta - Di masyarakat, ketika ibu hamil ngidam atau ingin makan sesuatu bisa saja terdengar wajar. Kadang pun, keinginan itu akan dituruti. Namun, jika ngidam terus-terusan dituruti, sebuah studi baru mengungkap konsekuensi yang bisa dialami oleh sang ibu.

Baru-baru ini, studi dari University of Albany di New York menemukan bahwa ibu hamil yang cenderung menuruti ngidamnya akan mengalami kenaikan berat badan yang cukup drastis. Studi sebelumnya menyebut bahwa kenaikan berat badan yang signifikan membuat ibu sulit mengembalikan lagi bobotnya pasca melahirkan.

Belum lagi berbagai risiko yang bisa timbul ketika ibu hamil terlampau gemuk. Studi yang diketuai mahasiswa pascasarjana psikologi klinis University of Albany, Natalia Orloff ini merekrut dua kelompok wanita hamil. Sebanyak 43 orang direkrut secara online sedangkan 40 orang direkrut langsung dari rumah sakit.

"Selama hamil mereka kami minta mengisi kuisioner berisi apa ngidam yang mereka alami di tiap semester. Opsi makanan ada empat yakni makanan manis, karbohidrat dan pati, makanan cepat saji, dan makanan tinggi lemak. Kemudian dilaporkan pula seberapa sering mereka menuruti keinginan ngidam itu," papar Orloff seperti dikutip dari Live Science.

Baca juga: Ibu Hamil Bingung Pilih Menu Makan? Ini Tips Diet Sehatnya per Trimester

Body Mass Index (BMI) ibu hamil juga dihitung, termasuk berat badan sebelum mereka hamil. Dari data yang terkumpul diketahui makanan manis dan makan cepat saji paling sering diidamkan oleh ibu hamil. Contoh makanannya seperti pizza, cokelat, dan permen.

Hasil studi menunjukkan makin sering ibu hamil ngidam, makin sering ia menuruti keinginan itu. Pada akhirnya, memenuhi keinginan ngidam berdampak pada kenaikan bobot yang berlebih. Namun, Orloff menekankan ada perbedaan pada kelompok responden online dan rumah sakit. Sebab, akibat ini lebih banyak terjadi pada ibu hamil yang direkut secara online.

"Kami berasumsi bahwa wanita hamil yang kami rekrut di rumah sakit rata-rata dalam kondisi obesitas. Dan di rumah sakit seperti kita ketahui, pengawasan terhadap asupan makanan pastinya lebih ketat, tidak seperti responden yang kami rekrut secara online yang notabene berada di rumah dan lebih bebas," kata Orloff.

Meski masih diperlukan penelitian lebih lanjut, menurut Orloff setidaknya melalui studi ini perlu diperhatikan pentingnya manajemen berat badan pada ibu hamil. Orloff menuturkan boleh-boleh saja ibu hamil mengonsumsi makanan tertentu tapi tetap mesti diperhatikan porsi dan kalori makanan sehingga tak berdampak pada kenaikan berat badan yang berlebihan.

Baca juga: Idap Pica, Jenny Ngidam Batu Bata, Pasir, dan Tanah Selama Hamil

(rdn/vit)