Rabu, 15 Jun 2016 09:30 WIB

Hormon yang Berubah-ubah Bisa Tingkatkan Risiko Kanker Kulit pada Ibu Hamil

Rahma Lillahi Sativa - detikHealth
Foto: Kristin Nyerges/Cleveland Clinic
Ohio - Kristin Nyerges tahu betul jika perubahan fisik saat mengandung lazim terjadi. Itulah sebabnya ketika ia melihat tahi lalatnya membesar saat dirinya sedang berbadan dua, Kristin tak terlalu ambil pusing.

Untungnya ia mendengarkan saran rekan-rekan kerjanya di sebuah rumah sakit di Willoughby, Ohio untuk memeriksakan diri. Tak disangka, dari hasil pemeriksaan terungkap wanita yang berumur 31 tahun itu mengidap melanoma, jenis kanker kulit paling mematikan.

Secepatnya Kristin menjalani operasi pengangkatan tahi lalat, dan sejurus kemudian ia sudah dinyatakan terbebas dari kanker dan bayinya dinyatakan aman dari risiko 'tertular' kanker dari sang ibu.

Baca juga: Pada Wanita Hamil, Kanker Kulit Bisa Jadi Lebih Ganas

Dokter yang menangani Kristin, Brian Gastman menduga perubahan hormonal dan variasi sistem imun yang terjadi selama kehamilan dapat meningkatkan risiko kanker kulit.

Bahkan dari hasil studi yang dilakukan direktur program melanoma di Cleveland Clinic itu terungkap, wanita yang didiagnosis kanker kulit satu tahun selepas melahirkan berpeluang lima kali lebih besar untuk meninggal karena penyakit tersebut, dibandingkan dengan ibu hamil yang tidak mengalami melanoma.

Tak hanya itu, kanker di tubuh mereka juga berpeluang untuk menyebar tujuh kali lebih banyak dan sembilan kali lebih mungkin terjadi kekambuhan daripada mereka yang tidak sakit kanker kulit.

Studi yang dipublikasikan dalam Journal of the American Academy of Dermatology itu menegaskan, proses kehamilan ditengarai mampu menekan fungsi sistem kekebalan, sehingga meningkatkan risiko penyakit pada individu, termasuk kanker.

"Akan tetapi perubahan hormonal seperti estrogen dan progesterone selama masa kehamilan juga bisa memacu mutasi sel-sel kanker, bahkan mempercepat proliferasi mereka," timpal Pedram Gerami, direktur program melanoma dari Northwestern University Skin Cancer Institute mengomentari kasus Kristin.

Pada kasus Kristin, Gastman mengungkapkan kanker terdiagnosis pada fase awal, sehingga bila tidak diobatipun kemungkinan untuk menular ke bayinya hanya 20 persen. Untungnya Kristin belum sempat mengalami metastasis, dan operasinya menggunakan bius lokal untuk mengurangi risiko terpapar pada janinnya.

"Untuk pasien melanoma stadium awal dengan usia rata-rata 20-an, tingkat keberlangsungan hidupnya masih 93 persen. Tetapi karena dia hamil, prognosisnya mungkin berbeda," urai Gastman. Hanya saja prognosis ibu hamil yang juga kanker kulit masih perlu digali lebih mendalam lewat riset.

Baca juga: Bayi Tertular Kanker Ganas Ibunya Sejak dalam Kandungan

Gastman juga mengingatkan, pada wanita yang bisa sembuh dari melanoma, risiko kekambuhan tetap harus diantisipasi sebelum ingin punya anak lagi. Yang tak kalah penting adalah menghindari faktor risiko seperti paparan sinar matahari, bahkan saat musim dingin sekalipun.

"Sejak saat itu saya selalu memakai tabir surya tiap kali pergi keluar rumah, meskipun hanya untuk jalan-jalan. Saya juga pastikan membawa topi," kata Kristin kepada Foxnews.

Setidaknya, Kristin yang mengaku gemar berada di ruang terbuka selama berjam-jam tanpa memakai tabir surya itu bersyukur karena kondisi ini sudah ketahuan sejak dini sehingga risikonya tidak sampai kemana-mana, apalagi ke buah hatinya. (lll/vit)