Salah satu kondisi yang mungkin muncul adalah sindrom metabolik. Ini merupakan kombinasi dari sejumlah kondisi, yaitu hipertensi, kadar gula darah yang tinggi, kadar kolesterol yang buruk, dan obesitas, yang dialami secara bersamaan. Kondisi ini dianggap berbahaya karena merupakan prediktor kuat dari penyakit jantung dan diabetes.
Menurut Jian-Min Niu dari Guangdong Women and Children Hospital, Guangzhou, tekanan darah yang terus naik selama kehamilan harus diwaspadai karena bisa menjadi tanda peringatan awal dari sindrom metabolik.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Niu menjelaskan, secara umum tekanan darah normal biasanya berada pada angka 120/80 mmHg, dengan ambang batas untuk tekanan darah tinggi atau hipertensi di angka 140/90 atau lebih. Kisaran antara tekanan darah normal dan tinggi disebut prehipertensi.
"Di banyak negara, setiap wanita hamil diharuskan melakukan setidaknya 10 kali pemeriksaan rutin. Namun kebanyakan mereka kurang mendapatkan informasi mengenai tekanan darah, terlebih jika hasilnya terus-menerus naik," papar Niu.
Dalam studinya, Niu mempelajari 506 wanita hamil tanpa riwayat tekanan darah tinggi atau gejala diabetes. Pada wanita ini, dilakukan pengukuran tekanan darah, berat badan dan metrik kesehatan lainnya beberapa kali selama kehamilan. Tes ini terus dilakukan sampai 1,5 tahun setelah mereka melahirkan.
Hasilnya, wanita dengan tekanan darah tinggi pada bulan-bulan terakhir kehamilan ditemukan enam kali lebih mungkin untuk mengalami sindrom metabolik, dibandingkan dengan wanita yang tekanan darahnya stabil selama hamil. Demikian ditulis dalam jurnal Hypertension.
Niu juga menjelaskan bahwa menjaga berat badan yang sehat sebelum dan selama kehamilan dapat membantu mengurangi risiko prehipertensi atau sindrom metabolik. Oleh sebab itu, menimbang berat badan secara rutin saat hamil juga tak kalah pentingnya.
Baca juga: Wajib Dipahami, Preeklampsia Tak Sekadar Tekanan Darah Naik Saat Hamil
(ajg/up)











































