Namun pakar kesehatan tidur dr Andreas Prasadja, RPSGT memperingatkan risiko mendengkur pada ibu hamil. "Mendengkur ringan saja ternyata sudah memengaruhi aliran darah ke janin. Akhirnya janin berusaha melindungi diri dengan mengurangi aktivitasnya," kata dr Ade, demikian dia biasa disapa.
Ibu hamil yang mendengkur disebut mengalami risiko peningkatan tekanan darah, kelelahan dan memiliki bayi berukuran kecil. Berdasarkan penelitian, wanita hamil yang mendengkur cenderung akan melakukan operasi caesar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Seperempat Ibu Hamil Mengalami Gangguan Napas Saat Tidur
Selain itu, telah banyak penelitian yang menunjukkan bahwa mendengkur pada ibu hamil dapat meningkatkan risiko preeklampsia dan hipertensi. Apalagi jika ibu hamil sampai mengalami sleep apnea atau jeda napas saat tidur.
Sleep apnea menyebabkan preeklampsia lewat mekanisme yang sama dengan berkembangnya hipertensi pada orang dewasa tak hamil yang mendengkur. Nah, terapi CPAC atau Continuous Positive Airway Pressure bisa dilakukan untuk mengatasinya.
"Dengan menggunakan CPAP, mendengkur akan hilang dan menormalkan asupan darah ke janin sehingga janin pun kembali sehat," jelas dr Ade.
CPAP merupakan alat untuk meniupkan oksigen ke dalam hidung saja atau ke dalam hidung dan mulut. Udara bertekanan positif ini akan mencegah tenggorokan menutup dan meredakan gejala-gejala yang muncul akibat sleep apnea.
Baca juga: Meskipun Wajar, Ini Risiko Ngorok Saat Hamil Bagi Ibu dan Bayi
(vit/vit)











































