Mendengkur Saat Hamil Bisa Timbulkan Risiko pada Janin, Bagaimana Mengatasinya?

Mendengkur Saat Hamil Bisa Timbulkan Risiko pada Janin, Bagaimana Mengatasinya?

Martha Heriniazwi Dianthi - detikHealth
Rabu, 10 Agu 2016 18:00 WIB
Mendengkur Saat Hamil Bisa Timbulkan Risiko pada Janin, Bagaimana Mengatasinya?
Foto: ilustrasi/thinkstock
Jakarta - Mendengkur saat hamil dianggap wajar karena uterus dan bayi terus tumbuh dan menekan diafragma. Ini juga terjadi akibat pembengkakkan selaput lendir dan rongga hidung karena peningkatan hormon estrogen dan tekanan darah yang memperluas pembuluh darah.

Namun pakar kesehatan tidur dr Andreas Prasadja, RPSGT memperingatkan risiko mendengkur pada ibu hamil. "Mendengkur ringan saja ternyata sudah memengaruhi aliran darah ke janin. Akhirnya janin berusaha melindungi diri dengan mengurangi aktivitasnya," kata dr Ade, demikian dia biasa disapa.

Ibu hamil yang mendengkur disebut mengalami risiko peningkatan tekanan darah, kelelahan dan memiliki bayi berukuran kecil. Berdasarkan penelitian, wanita hamil yang mendengkur cenderung akan melakukan operasi caesar.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mendengkur saat hamil juga dihubungkan dengan depresi selama kehamilan dan depresi pasca melahirkan. Kekhawatiran lain adalah diabetes gestational lantaran tidak memadainya oksigen yang mengubah metabolisme glukosa.

Baca juga: Seperempat Ibu Hamil Mengalami Gangguan Napas Saat Tidur

Selain itu, telah banyak penelitian yang menunjukkan bahwa mendengkur pada ibu hamil dapat meningkatkan risiko preeklampsia dan hipertensi. Apalagi jika ibu hamil sampai mengalami sleep apnea atau jeda napas saat tidur.

Sleep apnea menyebabkan preeklampsia lewat mekanisme yang sama dengan berkembangnya hipertensi pada orang dewasa tak hamil yang mendengkur. Nah, terapi CPAC atau Continuous Positive Airway Pressure bisa dilakukan untuk mengatasinya.

"Dengan menggunakan CPAP, mendengkur akan hilang dan menormalkan asupan darah ke janin sehingga janin pun kembali sehat," jelas dr Ade.

CPAP merupakan alat untuk meniupkan oksigen ke dalam hidung saja atau ke dalam hidung dan mulut. Udara bertekanan positif ini akan mencegah tenggorokan menutup dan meredakan gejala-gejala yang muncul akibat sleep apnea.

Baca juga: Meskipun Wajar, Ini Risiko Ngorok Saat Hamil Bagi Ibu dan Bayi


(vit/vit)

Berita Terkait