Suhu Ekstrem Saat Hamil Pengaruhi Risiko Persalinan Prematur

Suhu Ekstrem Saat Hamil Pengaruhi Risiko Persalinan Prematur

Rahma Lillahi Sativa - detikHealth
Jumat, 02 Sep 2016 16:33 WIB
Suhu Ekstrem Saat Hamil Pengaruhi Risiko Persalinan Prematur
Foto: iStock
Jakarta - Pemicu kelahiran prematur biasanya tak jauh-jauh dari kondisi sang ibu atau janin yang dikandungnya seperti preeklamsia. Namun suhu di suatu daerah ternyata juga ikut berpengaruh.

Setidaknya inilah yang ditemukan peneliti dari AS. Menurut mereka, ibu hamil yang tinggal di suatu daerah dengan suhu yang terlalu tinggi atau panas dan terlalu rendah atau dingin berisiko mengalami persalinan prematur, bahkan ketika paparan suhu ekstremnya terjadi di tujuh minggu pertama kehamilan.

Fakta ini didapat setelah peneliti mengamati rekam medis dari 223.375 persalinan yang terjadi di 12 klinik di penjuru AS. Mereka lantas membandingkannya dengan catatan suhu perjam dan cuaca yang terjadi sepanjang persalinan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Untuk menstandarkan temperaturnya, peneliti mendefinisikan suhu rendah ekstrim adalah suhu harian di bawah suhu rendah rata-rata, begitu juga sebaliknya dengan suhu tinggi.

Dari situ baru dapat dipilah-pilah dan ditemukan fakta bahwa mereka yang terpapar suhu rendah ekstrim di tujuh minggu pertama kehamilannya berisiko 20 persen lebih tinggi untuk melahirkan sebelum usia kandungannya memasuki 34 minggu.

Mereka juga berisiko 9 persen lebih tinggi untuk bersalin di minggu ke-34 hingga 36, dan 3 persen untuk persalinan di minggu ke-37 hingga 38, atau makin kecil peluangnya untuk melahirkan tepat waktu.

Begitu juga dengan ibu hamil yang terpapar panas ekstrim di tujuh minggu pertama kehamilannya berisiko 11 persen lebih tinggi untuk mengalami persalinan prematur di usia 34 minggu dan 4 persen di usia kehamilan 37-38 minggu.

Baca juga: Pesan Dokter Bagi Orang Tua yang Bayinya Lahir Prematur

Meski begitu, dibandingkan suhu rendah, para peneliti lebih mengkhawatirkan ibu hamil yang hamil di musim panas sebab dampaknya bisa bertahan hingga kehamilannya memasuki usia 21 pekan, sehingga risiko persalinan prematur pada wanita yang tinggal di daerah panas berkisar antara 6-21 persen.

Sayangnya, peneliti kurang tahu mengapa temperatur ekstrim dapat mengakibatkan persalinan dini.

"Bisa jadi karena ibu hamil lebih sulit untuk menghindar dari gerah dan panas dibandingkan dingin, apalagi jika mereka tidak bisa membeli AC misalkan," tandas peneliti, Dr Pauline Mendola seperti dilaporkan Medical Daily.

Tim peneliti Mendola dari Eunice Kennedy Shriver National Institute of Child Health and Human Development (NICHD) juga beranggapan, stres akibat kegerahan atau kedinginan mampu menghambat perkembangan plasenta.

"Jika tidak, suhu ekstrim ini bisa mengubah aliran darah yang menuju ke rahim, dan keduanya memang sama-sama bisa memicu persalinan dini," lanjutnya.

Baca juga: Hal-hal yang Bisa Dilakukan untuk Meminimalkan Risiko Bayi Lahir Prematur (lll/up)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads