Ibu Hamil Kena Penyakit Infeksi, Waspada Meningitis pada Bayi

Ibu Hamil Kena Penyakit Infeksi, Waspada Meningitis pada Bayi

Firdaus Anwar - detikHealth
Sabtu, 04 Feb 2017 13:05 WIB
Ibu Hamil Kena Penyakit Infeksi, Waspada Meningitis pada Bayi
Foto: Thinkstock
Jakarta - Ketika seorang ibu yang tengah mengandung terkena penyakit infeksi, ada risiko anaknya juga bisa ikut terkena. Nah salah satu kondisi yang patut diwaspadai adalah meningitis atau infeksi pada selaput otak anak karena memiliki tingkat mortalitas cukup tinggi.

Menurut dr Darmadi Darmawan, SpA, dari RS Evasari tingkat mortalitas akibat meningitis ini bisa mencapai 60 persen. Di dalam kandungan seorang anak bisa terkena meningitis secara langsung oleh bakteri, virus, dan jamur atau ketika terpapar cairan vagina saat persalinan.

"Anak bisa sudah kena (meningitis -red) di dalam rahim. Kalau misalnya si ibu ada keputihan yang bau, infeksi saluran kencing, air ketubannya hijau atau pecah lama sebelum persalinan nah itu bisa ke bayi," kata dr Darmadi ketika ditemui dalam acara temu media di RS Evasari, Rawasari, Jakarta Pusat, Jumat (3/2/2017).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Baca juga: Pengaruh Infeksi Saat Hamil pada Janin Seperti Dialami Istri Indra Bekti

"Ketuban itu kan kaya tembok pelindung, kalau jebol kuman-kuman ya bisa masuk. Apa lagi kalau bayi lahir prematur sistem imunnya belum terlalu bagus," lanjut dr Darmadi.

Ketika terkena meningitis, selaput otak anak dapat membengkak dan menekan saraf-saraf. Bila tak segera ditangani kerusakan saraf permanen bisa terjadi yang berujung pada kecacatan atau kasus terburuknya meninggal dunia.

Oleh karena itu dr Darmadi mengatakan orang tua harus selalu waspada dan rutin melakukan pengecekan kandungan. Alat Ultrasonografi (USG) dapat memberi petunjuk tanda dini bila terjadi masalah pada anak.

Baca juga: Ini Cara Mencegah Terjadi Infeksi Saluran Kencing pada Ibu Hamil

"Bisa dicek di USG kalau bayi jadi nggak banyak bergerak," kata dr Darmadi.

"Kalau sudah ketahuan bisa dirawat cuma rumit ya. Paru-paru harus dibantu obat untuk berkembang, napasnya dibantu alat, terus ditaruh di intensif care, benar-benar dipantau," kata dr Darmadi. (fds/vit)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads