Kamis, 04 Mei 2017 13:03 WIB

Menjaga Ibu dan Bayi Melalui Rumah Tunggu Kelahiran

Suherni Sulaeman - detikHealth
Foto: Suherni Foto: Suherni
Kupang - Bangunan sederhana ini adalah rumah tunggu kelahiran bagi ibu hamil yang sudah menjelang waktu melahirkan. Meski sederhana, bangunan ini punya peran penting menjaga ibu dan bayinya selamat dan sehat.

Bangunan seperti rumah bercat hijau dan beratap seng ini merupakan rumah tunggu kelahiran di Puskesmas Siso, Kecamatan Mollo Selatan, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur. Bangunan tersebut memiliki tiga ruangan yakni kamar untuk ibu dan bayinya, ruangan untuk keluarga, dan ruangan untuk dapur. Untuk toilet, para ibu bisa menggunakan toilet yang ada di puskesmas.

"7 Hari sebelum melahirkan dan 7 hari sesudah melahirkan. Sehingga kita bisa pantau perkembangan waktu 7 hari yang mau melahirkan itu dan setelah melahirkan kita pantau lagi," tutur Yemi A Manafe, bidan Puskesmas Siso.

Dengan tinggal di rumah tunggu kelahiran, kesehatan ibu dan janin jelang persalinan bisa dipantau dengan baik. Ini penting untuk mengurangi risiko kematian ibu dan bayi. Apalagi rumah tunggu tersebut letaknya sangat dekat dengan puskesmas, yakni tepat di seberangnya.

Selama tinggal di rumah tunggu, ibu-ibu hamil juga mendapatkan jagung, ubi dan pisang untuk kudapan. Para ibu hamil juga dibekali buku kesehatan ibu dan anak (KIA) yang berisi tentang pengetahuan dari kehamilan mulai 0 bulan sampai anak usia 5 tahun. Sehingga saat pulang ke rumah, ibu diharapkan bisa merawat bayi dan mengetahui teknik menyusui dengan baik, serta memperhatikan juga gizi ibu dan anak.

Baca juga: Wow! Ibu Ini Lahirkan Bayi 5,8 Kg Lewat Persalinan Normal

Dikatakan Yemi, rumah tunggu memiliki penanggung jawab yang melibatkan masyarakat melalui kader-kader sehingga ada interaksi antara masyarakat dengan kader dan tenaga kesehatan setempat.

"Kalau sama petugas kan mereka jadi agak canggung. Ada tim atau piket untuk rumah tunggu ini. Kemudian bagian tenaga kesehatan kami ada piket tersendiri, jadi setiap hari 1 kali 24 jam," jelas Yemi.

Bidan YemiBidan Yemi Foto: Suherni
Selama bertugas, Yemi belum menemukan kendala-kendala yang signifikan. Menurut ia, biasanya kendala justru muncul dari masyarakat, sebab selama 14 hari meninggalkan rumah.

"Takut ada binatang yang tidak dikasih makan, takut rumahnya ini, masih kepikiran untuk pulang. Tapi untuk sementara tidak ada," ucap Yemi yang sudah 11 tahun menjadi bidan.

Rumah tunggu dibangun tahun 2014 dikelola oleh lintas sektor dan tokoh masyarakat serta pemerintah. Kemudian tahun 2015 dikelola oleh kader yang diberi pelatihan dan informasi apa yang harus dipersiapkan di rumah tunggu.

"Ini kita pakai juga yang rumah mess, rumah petugas yang ditinggal kita fasilitasi ini. 2017 Baru dibuat rumah tunggu," kata Yemi.



Baca juga: Hindari Kematian Bayi, Ibu Hamil Jangan Sampai Kekurangan Gizi

(hrn/vit)