Jumat, 02 Jun 2017 11:38 WIB

Stres Saat Hamil Tingkatkan Risiko ADHD dan Penyakit Jantung pada Anak

Widiya Wiyanti - detikHealth
Foto: ilustrasi/thinkstock Foto: ilustrasi/thinkstock
Zurich - ADHD (Attention Deficit/Hyperactivity Disorder) adalah suatu gangguan pada perkembangan otak yang menyebabkan penderitanya menjadi hiperaktif, impulsif, serta susah memusatkan perhatian. Faktor yang menyebabkan ADHD adalah genetik dan keadaan saat kehamilan.

Sedangkan penyakit jantung adalah penyakit terbanyak di Indonesia yang menyebabkan angka kematian tertinggi. Banyak faktor yang menyebabkan sakit jantung, satu di antaranya adalah gangguan bayi saat berada dalam kandungan.

Pada saat masa kehamilan sebagian orang dapat dengan mudah mengalami kecemasan, baik dalam jangka pendek atau jangkan panjang yang sering disebut stres. Namun stres sangat tidak baik bagi janin yang dikandungnya.

"Kami mengetahui dari studi epidemiologi sebelumnya bahwa ada hubungan antara wanita yang telah melaporkan tingkat stres yang tinggi pada saat masa kehamilan dan kemudian anaknya mengalami perkembangan dengan kondisi seperti ADHD dan kardiovaskular," tutur Pearl La Marca-Ghaemmaghami, seorang peneliti dari Universitas Zurich yang dikutip dari Daily Mail.

Baca juga: Bayinya Diprediksi Lahir Cacat, Begini Cara Pasangan Ini Merespons

Menurut para peneliti Swiss, plasenta seorang ibu ditempatkan di bawah tekanan besar untuk jangka waktu yang lama mengakibatkan keluarnya kortisol atau biasa disebut hormon stres. Hal ini mempercepat pertumbuhan janin, sehingga menimbulkan masalah pada kematangan organ vitalnya.

Ketika seseorang merasa stres, tubuh melepaskan hormon untuk mengatasinya seperti Corticotropin-Releasing Hormone (CRH), yang berakibat pada peningkatan hormon stres. Akibatnya, sejumlah kecil hormon ini dapat masuk ke dalam cairan ketuban dan berdampak pada pekembangan bayi.

Para peneliti mengambil 34 wanita hamil yang sehat dan melakukan tes cairan ketuban. Mereka menguji apakah stres jangka pendek menyebabkan pelepasan hormon stres di plasenta. Para peneliti membandingkan tingkat kortisol pada air liur ibu dengan tingkat CRH dalam cairan ketuban dan ternyata tidak ditemukan adanya hubungan, yang berarti tidak ada peningkatan risiko bahaya pada bayi.

"Bayi itu jelas terlindungi dari dampak negatif jika terjadi tekanan jangka pendek pada ibu," kata Ulrike Ehlert, seorang psikolog di universitas tersebut.

Namun, para peneliti menilai tingkat stres jangka panjang ibu (yang diambil melalui kuesioner) memiliki kaitan antara meningkatnya kadar CRH dalam cairan ketuban mereka.

'Jika ibu stres untuk jangka waktu yang lebih lama, tingkat CRH pada cairan ketuban meningkat,' kata La Marca-Ghaemmaghami.

Sama halnya seperti yang dikatakan oleh kata Susan Andrews, PhD, ahli neuropsikologi klinis dan penulis buku "Stres Solutions for Pregnant Moms: How Breaking Free From Stress Can Boost Your Baby's Potential" bahwa stres yang benar-benar berbahaya adalah stres yang tidak hilang atau terjadi secara konstan. Demikian dikutip dari WebMD.

Ia menyarankan untuk mengatasi stres saat kehamilan dengan beberapa cara, seperti bicara dengan dokter tentang apa yang menyebabkannya stres. Kemudian secara bersama-sama mencari solusi, yang mungkin mencakup meditasi, yoga prenatal, atau terapi bicara.

Atau dapat menyanyikan satu dua buah lagu, karena musik membantu mengendalikan kadar kortisol. Bersantai, mandi air hangat, dan minum secangkir teh juga dapat membuat tubuh rileks dan mencegah stres.

Baca juga: Ini Sara Dokter Soal Olahraga Jelang Melahirkan

(up/up)