Rabu, 21 Jun 2017 11:23 WIB

Larang Ibu Hamil Makan Telur, Buklet Kesehatan di India Picu Kontroversi

Rahma Lillahi Sativa - detikHealth
Booklet kesehatan di India tuai kontroversi karena larang ibu-ibu hamil di sana untuk makan daging dan telur. (Foto: Ilustrasi/Thinkstock) Booklet kesehatan di India tuai kontroversi karena larang ibu-ibu hamil di sana untuk makan daging dan telur. (Foto: Ilustrasi/Thinkstock)
Jakarta - Baru-baru ini pemerintah India mengeluarkan booklet bertajuk 'Mother and Child Care'. Dari judulnya, sudah bisa diprediksi jika tujuan peluncuran booklet ini adalah untuk meningkatkan kualitas kesehatan ibu dan anak yang memang rendah di India.

Akan tetapi konten booklet ini ternyata tidak sesuai dugaan. Sebab salah satu isinya mengatakan ibu hamil disarankan untuk menghindari makan daging dan telur yang bermanfaat bagi kehamilan serta melarang aktivitas seksual.

"Wanita yang sedang mengandung juga harus melepaskan dirinya dari ambisi, amarah, rasa benci dan pikiran 'mesum'," tulis booklet tersebut.

Namun badan yang mengeluarkan booklet ini, Central Council for Research in Yoga and Naturopathy beralasan, isi dari booklet ini adalah 'kumpulan wawasan bijak tentang kesehatan ibu hamil yang telah dipercaya selama berabad-abad'.

"Kami mengumpulkan berbagai fakta yang relevan dari sudut pandang yoga maupun naturopathy," kata sang menteri, Shripad Naik.

Sebelumnya Perdana Menteri Narendra Modi juga mengeluarkan kebijakan untuk mengurangi konsumsi daging pada masyarakat India, dan kebetulan sang menteri adalah seorang vegetarian.

Baca juga: Antenatal Care, Jaminan Pencegah dan Penurun Angka Kematian Ibu di Indonesia

Rekomendasi ini pun menuai berbagai kritikan, utamanya dari para dokter. Apalagi India dikenal kurang memperhatikan kesehatan ibu hamil sehingga banyak di antara mereka yang mengalami malnutrisi dan anemia hingga kematian saat sedang mengandung.

Tercatat 174 kasus per 100.000 kehamilan di India berujung pada kematian di tahun 2015. Ini memang lebih baik dibandingkan lima tahun sebelumnya yang mencapai 205 kasus per 100.000 kehamilan, namun tetap lebih buruk ketimbang China yang angkanya hanya 27 kasus per 100.000 kelahiran atau AS yang hanya 14 kasus per 100.000 kehamilan.

"Alih-alih memastikan nutrisi ibu hamil terjamin, pemerintah malah memberikan saran yang tidak ilmiah dan tidak masuk akal terkait kesehatan mereka," tandas salah satu dokter kandungan, Arun Gadre yang berpraktik di Pune, India seperti dilaporkan The Guardian.

Seperti diketahui wanita hamil yang mengalami malnutrisi atau kurang gizi cenderung melahirkan bayi dengan berat di bawah rata-rata atau berisiko mengalami stunting. Padahal di tahun 2015, UNICEF telah melaporkan bahwa 48 persen anak India berusia di bawah 5 tahun digolongkan mengalami stunting.

"Ini jadi lingkaran setan ketika anak yang tumbuh dalam keadaan kurang gizi kemudian menikah di usia remaja dan mengandung saat usianya masih 17 atau 18 tahun," tegas Amit Sengupta, dokter yang juga aktivis Delhi Science Forum, organisasi yang mengadvokasi pemberian layanan kesehatan yang memadai untuk publik.

Baca juga: Dokter: Preeklampsia Tak Bisa Dicegah, Ibu Hamil Wajib Jaga Kesehatan (lll/up)