Cuaca Terik

Cuaca Terik Berlanjut, Ini Wanti-wanti Dokter Bagi yang Ingin Marathon di Jakarta

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Sabtu, 18 Okt 2025 06:02 WIB
Cuaca terik akan berlangsung sampai akhir Oktober. Foto: ANTARA FOTO/Sulthony Hasanuddin
Jakarta -

Gelaran Jakarta Running Festival (JRF) 2025 pekan depan, 25-26 Oktober 2025, diprediksi akan berlangsung di bawah cuaca terik. Medical director event tersebut, dr Andi Kurniawan, SpKO sampai harus memberikan pesan khusus untuk keselamatan para pelari.

"Dalam kondisi panas, jangan paksakan mengejar Personal Best (PB) - utamakan keselamatan. Dengarkan tubuh Anda dan sesuaikan ritme lari dengan kondisi cuaca," pesan dr Andi dalam email resmi yang dikirim ke para peserta JRF 2025 baru-baru ini.

Imbauan tersebut banyak dibagikan di media sosial dan menjadi concern tersendiri mengingat tahun lalu event serupa juga dibayangi cuaca panas. Selain harus memastikan kondisi tubuh benar-benar fit, para peserta tampaknya harus berpikir realistis dan menyesuaikan target agar tidak terlalu ambisius.

Cuaca di Indonesia, khususnya di Jakarta, memang terasa terik belakangan ini. Kondisi ini diperkirakan akan berlangsung sampai akhir Oktober hingga awal November ketika masuk musim hujan.

Menurut dr Andi, cuaca panas ekstrem berisiko memicu heatstroke pada pelari. Heatstroke itu terjadi peningkatan suhu tubuh melebihi dari 39,5 atau 40 derajat celsius.

Berikut beberapa saran dr Andi bagi yang ingin berpartisipasi dalam event marathon di tengah cuaca panas.

1. Pastikan Tubuh Dalam Kondisi Fit

"Jadi memang kita harus mewaspadai cuaca panas ini. Untuk menghindari heat stroke, pertama kita memastikan teman-teman pelari itu fit dan sehat saat race," terang dr Andi dalam temu media daring, Rabu (15/10/2025).

Menurut dr Andi, hal itu dapat mempengaruhi kerja termoregulasi. Itu merupakan proses biologi yang dilakukan tubuh untuk menjaga suhu inti tetap stabil, dengan menyeimbangkan produksi panas dan kehilangan panas pada tubuh.

Tubuh mempunyai pusat pengaturan suhu yakni hipotalamus. dr Andi mengungkapkan saat tubuh sedang panas, tubuh menyesuaikan diri dengan menurunkan suhu tubuh dengan berkeringat.

"Jadi, kalau kita lagi nggak fit, itu pasti termoregulasi kita akan berkurang atau terganggu," katanya.

Maka dari itu, dr Andi menganjurkan untuk mendapatkan istirahat atau tidur yang baik. Ini berfungsi untuk mengembalikan fungsi metabolisme menjadi normal.



Simak Video "Video: Ngulik Menu Latihan Pelari Jakarta International Marathon 2025"


(sao/up)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork