Pelatih Persib Bandung, Igor Tolic mengkritik jadwal padat Piala Presiden 2026. Menurut Igor, waktu istirahat untuk pemain disebut minim bahkan tak sesuai apa yang direkomendasikan FIFA.
Dikutip dari ESPN, FIFA pada 2025 mengumumkan telah mencapai konsensus dengan sejumlah perwakilan pemain mengenai perlunya minimal 72 jam waktu pemulihan antarpertandingan sebagai bagian dari upaya perlindungan kesehatan pemain, meski ketentuan tersebut belum menjadi aturan universal yang mengikat untuk seluruh kompetisi.
Keresahan Igor berangkat dari tim-tim yang akan tampil di final dan perebutan tempat ketiga hanya punya waktu istirahat dua hari setelah tampil di babak semifinal.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dalam peraturan FIFA ada ketentuan minimal 72 jam istirahat antar pertandingan. Jadi, ini bersifat wajib. Ini adalah aturan yang dibuat untuk melindungi kesehatan fisik dan mental para pemain di seluruh dunia," ucap Tolic dalam sesi konferensi pers setelah pertandingan lawan Persija.
Persib sendiri dipastikan lolos ke Final Piala Presiden 2026 usai menumbangkan Persija Jakarta. Di laga puncak, Maung Bandung akan melawan Persebaya Surabaya, usai Bajul Ijo mengalahkan Arema FC.
"Jadi itulah mengapa mereka perlu dilindungi. Saya perlu melindungi para pemain dan saya perlu melindungi kesehatan mereka, karena bayangkan kalau besok seseorang mengatakan dalam pertandingan dua hari ke depan, lalu ada pemain yang terkena serangan jantung, siapa yang akan bertanggung jawab?" ucap Tolic.
"Atau seseorang akan memberi tahu saya 'Ok Igor, Anda adalah pelatih, Anda yang menurunkan pemain itu dan dia meninggal' dan kemudian saya berkata 'Oke, tidak apa-apa.' Siapa yang akan bertanggung jawab?"
Serangan Jantung di Sepakbola
Ditanya mengenai hal ini, dokter spesialis jantung dan pembuluh darah RS Universitas Indonesia dr Berlian Idris, SpJP mengatakan memang ada hubungan antara masalah jantung dan olahraga berat, terlebih di level elit sepakbola.
"Bila tidak diberikan waktu yang cukup untuk pulih, jantung dapat mengalami kelelahan, yang meningkatkan risiko terjadinya serangan jantung dan atau gangguan irama jantung maligna yang bisa menyebabkan henti jantung," kata dr Berlian saat dihubungi detikcom, Rabu (5/8/2026).
dr Berlian yang juga staf pengajar di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) itu mengatakan meskipun belum ada bukti ilmiah terkait istirahat minimal seperti yang direkomendasikan FIFA, penting untuk mempertimbangkan atau mengikuti demi keselamatan medis pemain.
"Secara umum yang lebih berisiko tentu mereka yang sudah ada penyakit jantung, yang seringkali tidak diketahui karena tidak bergejala, dan atau tidak pernah diperiksa. Namun, kelelahan juga dapat menimbulkan masalah jantung bahkan pada mereka yang terlatih sekalipun," katanya.
Ia mencontohkan satu kasus masalah jantung di sepakbola dari Christian Eriksen yang mengalami henti jantung dua kali pada tahun 2021 di Euro 2020 dan Juni 2026 saat Denmark bertanding melawan Ukraina.
"Walau atlet profesional mestinya sudah menjalani pemeriksaan menyeluruh, pada beberapa kasus masalah jantung ini bisa tidak terdeteksi," katanya.
"Karena itu, penting bagi atlet agar mendapatkan waktu beristirahat yang cukup di antara pertandingan," tutupnya.










































