Join Komunitas Olahraga tapi Minder karena Belum Jago? Psikolog Jelaskan 'Efek Strava'

Join Komunitas Olahraga tapi Minder karena Belum Jago? Psikolog Jelaskan 'Efek Strava'

detikHealth
Minggu, 16 Agu 2026 19:09 WIB
Devandra Abi Prasetyo
Ditulis oleh:
Devandra Abi Prasetyo
Lulusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Fans Manchester United yang juga eks pesepakbola semi-profesional. Banyak menulis soal olahraga dari sudut pandang hidup sehat.
Seorang warga menunjukkan aplikasi Strava usai berolahraga di kawasan Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, Jumat (3/7/2026). Langganan Strava Premium kini dikenai Pajak Pertambahan Nilai (PPN) Perdagangan Melalui Sistem Elektronik (PMSE).
Ilustrasi Strava (Foto: Gilang Faturahman/detikFoto)
Jakarta -

Bergabung ke komunitas olahraga biasanya jadi salah satu cara bagi seseorang untuk berinteraksi dengan sosial. Baik itu kelompok lari, padel, atau tenis.

Selain untuk hidup sehat, komunitas olahraga juga bisa menjadi medium yang tepat untuk menemukan relasi. Namun, sebagian orang justru merasa minder saat ingin bergabung dengan suatu kelompok, karena merasa belum jago.

Psikolog Olahraga Dian Wisnuwardhani mengatakan situasi ini memang banyak sekali dialami oleh mereka yang baru saja ingin belajar atau memulai olahraga. Khususnya, mereka-mereka yang usia remaja yang masih mencari identitas diri.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Ada research di Amerika yang menjelaskan tentang 'efek Strava'. Jadi bagaimana Strava itu bisa membentuk identitas diri kita menjadi lebih baik atau identitas sosial jadi meningkat. Tapi, sebenarnya, efek Strava itu juga bisa meningkatkan bagaimana kita berelasi dengan orang lain," kata Dian di acara detikSore, dikutip Minggu (16/8/2026).

Dengan kata lain, aktivitas di Strava, selain mampu membentuk 'personal branding' yang berujung pada dorongan dari orang lain untuk berolahraga lebih sering.

ADVERTISEMENT

Untuk menghilangkan rasa minder atau malu, Dian menambahkan bahwa seseorang bisa memulainya dengan memilih komunitas di mana seseorang merasa cukup jago di olahraga tersebut.

"Kita harus cari olahraga yang tepat sama kebutuhan kita sendiri. Lari nggak ok nih, tapi kalau bulutangkis ok banget. Kalau bulutangkis kan mainnya berdua, kalau lari kan pace-nya gimana, udah pusing sama efek dari komentar yang ada di media sosial," kata Dian.

"Kalau remaja itu biasanya langsung labil, langsung 'duh gue kalah nih'. Hari ini dia udah 10 km, gue baru 3 km, mau posting malu. Memang kita perlu tahu olahraga apa yang bikin kita punya semangat dan meningkatkan hormon endorfin," sambungnya.

Lebih lanjut, Dian menekankab bahwa olahraga apapun itu sebaiknya difokuskan kepada diri sendiri, baik itu untuk menjadi pribadi yang lebih baik atau alasan bahagia. Jangan sampai, olahraga justru menjadi ajang membandingkan diri dengan orang lain.



(dpy/up)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads