Anda sering mengalami nyeri dada yang tak tertahankan disertai sesak napas? Jika iya, Anda tidak sendiri. Beberapa pertanyaan terkait nyeri dada dan sesak napas menjadi salah satu pertanyaan paling populer di Konsultasi Umum detikHealth sepanjang 2014.
Seperti yang dialami Echa Nabila, wanita lanjang (14). "Sekitar dua bulan lalu saya merasakan sesak dan sakit di dada dan setelah saya periksa ke dokter, dia bilang saya asma. Namun akhir-akhir ini sakit yang dirasakan bertambah, antara lain pundak sakit dan pegal, terasa nyut-nyutan dan nyeri punggung bagian atas, kepala bagian bawah dan leher belakang terasa sakit. Sakit di dada atau jantung semakin menjadi seperti tiba-tiba tertimpa beban berat yang sedikit menjalar ke tangan namun tak begitu sakit dan sering, dan saya tetap merasakan sesak. Itu kenapa dan gejala apa ya Dok? Apa saya punya penyakit lain selain asma?"
dr Dito Anurogo, pengasuh rubrik Konsultasi Umum detikHealth mengatakan sesak napas karena asma terkadang muncul dengan disertai nyeri di otot bantu pernapasan, misalnya otot di pundak bagian atas, leher bagian belakang, serta otot kepala bagian bawah. Pada sakit asma, saat oksigen masuk ke paru-paru, maka oksigennya berkurang akibat terhambatnya jalan masuk oksigen ke paru-paru. Hal tersebut sering menyebabkan rasa nyeri di dada. Jantung mencoba mengompensasi dengan melakukan denyutan yang lebih cepat. Akibatnya dada seperti berdegup keras, terasa nyeri, dan terkadang dijalarkan ke lengan kiri, mirip nyeri dada pada serangan jantung.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
dr Dito juga merekomendasikan untuk seseorang yang memiliki gejala seperti itu agar segera memeriksakan diri ke dokter. Hal ini perlu agar semua keluhan terungkap sehingga membantu diagnosis lebih akurat.
Ia lantas menjabarkan penyakit nyeri dada yang terkait dengan gangguan organ jantung, yaitu sindrom koroner akut. Sementara yang terkait paru-paru ialah emboli pulmo, pneumonia, COPD, empiema, hemotoraks. Serta yang terkait dengan esofagus, antara lain GERD, benda asing, esofagitis. Sementara yang terkait pembuluh darah aorta, diantaranya aortitis, diseksi, aneurisma.
Kemudian nyeri dada yang terkait perut, yaitu pankreatitis, ulkus duodenum, penyakit hati. Sementara nyeri dada yang berhubungan dengan dinding dada, misalnya neuralgia, kostokondritis, kontusio, dan nyeri dada yang berkaitan dengan gangguan psikiatris ialah cemas, somatisasi.
Adapun penyebab nyeri dada yang membahayakan kehidupan antara lain: infark miokard akut, sindrom koroner akut, emboli pulmo, diseksi aorta, tension pneumotoraks, tamponade perikardial.
"Kondisi ini haruslah segera dirujuk ke UGD/IGD RS terdekat untuk mendapatkan penanganan segera dari tim medis," tutup dr Dito yang merupakan mantan pengajar di Universitas Surya.
(vit/vit)











































