Di Konsultasi Kandungan detikHealth sepanjang 2014, pertanyaan seputar apakah posisi sungsang pada janin dapat dilakukan persalinan secara normal menjadi salah satu pertanyaan paling populer. Seperti yang ditanyakan Linda, perempuan menikah (27). "Bisakah seseorang ibu dengan usia kandungan cukup melahirkan normal meskipun kondisi janin di dalam kandungannya sungsang? Apa risiko yang akan dialami ibu dan bayi tersebut?"
Menurut dr Aryando Pradana, SpOG, pengasuh Konsultasi Kandungan detikHealth, janin yang terletak sungsang memiliki risiko mortalitas dan morbiditas yang lebih tinggi dalam persalinan normal. Kondisi head entrapment (kepala terjepit) atau nuchal arm (tangan menjungkit) ialah beberapa kejadian yang bisa terjadi selama proses persalinan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kondisi ini sebaiknya telah diketahui jauh sebelum masa persalinan terjadi, dengan melakukan kontrol dengan SPOG Anda secara teratur," ucap dr Aryando.
Menurut dr Aryando, pada umumnya ketika kehamilan muda mengalami posisi sungsang sangat sering terjadi karena janin melayang-layang akibat jumlah cairan ketuban masih sangat banyak. Tetapi kemungkinan janin dalam posisi sungsang menurun seiring makin besarnya usia kehamilan.
"Sekitar 20-25 persen janin posisinya sungsang di bawah usia 28 minggu, kemudian menurun hingga 7-16 persen saat usia 32 minggu dan hanya tersisa 3-4 persen saja tetap dalam posisi sungsang pada usia 9 bulan. Perputaran spontan dari sungsang menjadi letak kepala sangat sering terjadi, bahkan saat usia kehamilan sudah cukup bulan," ungkap dr Aryando.
Penelitian sebelumnya menyebutkan bahwa adanya kemungkinan perputaran spontan dari posisi menjadi sungsang ialah ketika letak kepala di atas usia 36 minggu atau sekitar 25 persen. Kemungkinan ini menurun dengan berbagai keadaan, seperti cairan ketuban yang sedikit, tali pusat yang pendek, anak pertama, kaki janin memasuki pintu panggul dan adanya kelainan janin atau rahim.
dr Aryando menyebutkan beberapa hal yang dapat meningkatkan risiko janin mengalami posisi sungsang, yaitu kelainan anatomi rahim, adanya tumor dalam rahim seperti myoma uteri, kelainan letak plasenta, makin seringnya hamil (contoh: anak ke-4 lebih tinggi resiko sungsang dibanding anak ke-2, dan seterusnya), cairan ketuban terlalu banyak atau terlalu sedikit, panggul sempit, dan kelainan janin.
"Tidak ada intervensi yang bisa dilakukan oleh ibu untuk mencegah bayinya letak sungsang. Satu-satunya hal yang bisa dilakukan untuk mengurangi risiko kehamilan letak sungsang adalah mencegah punya anak terlalu banyak," tutup dr Aryando.
(vit/vit)











































