Konsultasi Jiwa: Akibat Sering Memendam Emosi

100 Konsultasi Terpopuler 2014

Konsultasi Jiwa: Akibat Sering Memendam Emosi

- detikHealth
Jumat, 02 Jan 2015 09:49 WIB
Konsultasi Jiwa: Akibat Sering Memendam Emosi
Foto: Ilustrasi/Thinkstock
Jakarta - Tidak jarang ada orang yang sulit mengungkapkan emosinya. Saat merasa kesal dengan orang lain, kekesalan itu dipendam sendiri. Apakah ada dampaknya jika sering memendam emosi?

Pertanyaan seputar dampak sering memendam emosi menjadi salah satu pertanyaan terpopuler sepanjang 2014 di Konsultasi Kesehatan Jiwa detikHealth. Salah satunya dilontarkan Srianti, perempuan menikah berusia 53 tahun.

"Saya mau bertanya, apa ya dampaknya selalu memendam emosi kita? Jujur saya kalau anak sedang tidak bisa diatur, kebetulan anak saya sudah SMA dan kuliah, itu saya sering pendam saat kesal. Begitu juga ketika tidak suka dengan saudara atau keluarga, saya sering pendam. Kadang ada rasa nyeri di dada kiri kalau saya sedang memendam kesal Dok."

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut pengasuh Konsultasi Jiwa detikHealth, dr. Azimatul Karimah, Sp.KJ, memendam emosi terutama emosi negatif (represi) merupakan sebuah mekanisme pertahanan manusia yang alamiah ketika menghadapi masalah. Latar belakang perilaku ini bermacam-macam, antara lain orang yang kesulitan untuk mengekspresikan emosi pada orang lain (tidak tahu caranya), khawatir akan menyakiti perasaan orang lain, khawatir bila emosi itu diekspresikan maka orang di sekitarnya tidak menerima perilaku tersebut. Serta, saat orang tersebut mengekspresikan emosinya malah menerima kritikan dari orang lain.

Selain beberapa faktor pemicu tersebut, ada juga faktor lainnya, seperti orang yang tidak mau membesar-besarkan masalah, tidak mau mencari keributan, dan ingin dinilai sebagai orang yang sabar. Menurut dr Azimatul, jika rasa kecewa menjadi pemicu emosi negatif, maka yang perlu dilakukan ialah mengubah mindset agar tidak terlalu berekspektasi besar terhadap orang lain. Perlu juga melakukan relaksasi untuk menghindari ketegangan yang muncul karena perasaan memendam masalah tersebut.

"Tiap orang punya cara masing-masing untuk melakukan relaksasi, bisa dengan cara meditasi, olah napas, mendengarkan musik yang menenangkan, mendatangi tempat menyenangkan, olahraga, pijat, dan kegiatan lain. Segala macam emosi negatif yang dipendam dan tidak terselesaikan akan memicu munculnya keluhan-keluhan badaniah yang sebetulnya hal ini sangat erat hubungannya dengan problem psikologis yang dialami," papar dr Azimatul.

Menurut dr Azimatul, psikis seseorang akan merasa lelah dan tidak dapat menampung emosi yang terpendam, sehingga secara alamiah represi akan berubah menjadi bentuk lain, misalnya yang dirasakan adalah nyeri dada. Ini merupakan sebuah mekanisme pertahanan yang lain yang disebut somatisasi. Sehingga dr Azimatul menyarankan untuk seseorang yang sering memendam masalahnya sendiri ini untuk belajar mengekspresikan emosi negatifnya dengan cara yang tepat dan tidak menyakiti perasaan orang lain.

"Ceritakan apa yang dirasakan pada orang yang mampu mendengarkan keluh kesah dan menyimpan rahasia Ibu. Bicarakan juga apa yang dirasakan dengan pihak yang bersangkutan dengan baik-baik, emosi yang lebih positif, dan mendiskusikannya dengan kepala dingin. Sehingga, orang tersebut mampu menerima pendapat Anda," ujar dr Azimatul.

Selanjutnya, menurut dr Azimatul jika upaya tersebut tidak membuahkan hasil, lebih baik segera berkonsultasi agar tekanan perasaan yang dialami tidak berdampak pada keluhan badaniah (fisik) yang lebih banyak. Jika sering merasakan cemas yang disertai gejala telapak tangan dan kaki sering berkeringat, dr Azimatul mengatakan bahwa hal ini perlu diketahui dahulu penyebabnya, sehingga psikiater akan menentukan terapi yang pas sesuai dengan kondisi seseorang.

(vit/vit)

Berita Terkait