Konsultasi Gigi: Dampak Menggosok Gigi Terlalu Keras

100 Konsultasi Terpopuler 2014

Konsultasi Gigi: Dampak Menggosok Gigi Terlalu Keras

- detikHealth
Selasa, 06 Jan 2015 14:19 WIB
Konsultasi Gigi: Dampak Menggosok Gigi Terlalu Keras
Foto: Ilustrasi/Thinkstock
Jakarta - Beberapa orang beranggapan menggosok gigi keras-keras efektif membuat gigi cepat bersih. Namun benarkah demikian? Apalagi menggosok gigi kuat-kuat membuat sikat gigi tidak berumur panjang lantaran bulunya cepat rusak.

Di sesi Konsultasi Gigi detikHealth sepanjang 2014, pertanyaan seputar cara menggosok gigi yang benar menjadi salah satu pertanyaan paling banyak ditanyakan. Salah satunya ditanyakan Tio, pria berusia 30 tahun. Saya punya kebiasaan menyikat gigi terlalu keras. Dalam satu bulan bisa 1-2 kali berganti sikat gigi karena bulu-bulunya sudah rusak. Tujuan saya tadinya supaya gigi saya lebih bersih, ternyata kebiasaan ini malah merusak gigi saya.

Menurut Tio, saat ini giginya sering terasa ngilu saat minum es atau menggigit sesuatu. Dua gigi seri bagian bawahnya sekarang malah sudah goyah. Akibatnya sekarang Tio sering mengalami gusi berdarah saat menggosok gigi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Guru Besar tetap FKGUI yang sekaligus menjadi pengasuh Konsultasi Gizi detikHealth, Prof Dr Lindawati S. Kusdhany, drg., Sp.Pros(K)., seringnya mengganti sikat gigi karena bulunya rusak menandakan kegiatan menggosok gigi dilakukan terlalu keras dan dengan tekanan kuat. Padahal menyikat gigi tidak perlu dengan tekanan kuat, yang penting seluruh permukaan terjangkau sikat gigi.

"Bila sudah terjadi pengikisan email dan menimbulkan keluhan seperti rasa ngilu segeralah ke dokter gigi untuk dilakukan perawatan sesuai kondisi Anda misalnya dilakukan tindakan desensitisasi dengan mengoles bahan varnish agar rasa ngilu berkurang bahkan dapat pula diberi tambalan tergantung kondisi gigi Anda," papar Prof Linda.

Dia menjelaskan menyikat gigi yang terlalu keras apalagi jika menggosoknya ke arah yang salah mampu menimbulkan rasa ngilu. Selain itu, dampaknya akan merusak email dan juga membuat gusi turun.

"Sehingga, akan membuat akar gigi terbuka dan menimbulkan rasa ngilu. Sebaiknya pasta gigi dipilih yang mengandung fluor sehingga dapat memberikan proteksi terhadap karies dan menghindari penggunaan pasta gigi yang bersifat terlalu abrasif terlalu sering," ucap terang Prof Linda.

Menurut dr Lindawati, penyikatan gigi cukup 2 kali sehari setelah sarapan pagi dan malam sebelum tidur. Yang tidak kalah penting saat memilih sikat gigi ialah memilih sikat yang bulunya halus agar tidak mengikis email. Melakukan sikat gigi sebelum tidur malam diperlukan karena pada saat tidur, kelenjar air liur tidak aktif mengeluarkan air ludah yang berfungsi sebagai 'self cleansing' dalam rongga mulut.

"Hal tersebut akan menyebabkan mulut dalam keadaan lengket, kering dan asam. Kondisi ini akan memicu bakteri untuk memakan sisa makanan yang tertinggal di gigi yang akan menyebabkan kerusakan gigi," imbuhnya.

Prof Linda mengatakan semakin cepat gigi dibersihkan akan semakin cepat pula menghilangkan sisa makanan yang tertinggal. Sehingga hal itu dapat menghambat terjadinya kondisi asam dalam mulut yang sangat disukai bakteri untuk bereaksi merusak gigi.

"Melakukan sikat gigi setelah sarapan akan menghilangkan sisa sarapan (kotoran) yang tertinggal di gigi lebih cepat," tutup Prof Linda.

(vit/vit)

Berita Terkait