Konsultasi Tulang: Infeksi Setelah Pemasangan Pen

100 Konsultasi Terpopuler 2014

Konsultasi Tulang: Infeksi Setelah Pemasangan Pen

- detikHealth
Kamis, 08 Jan 2015 09:45 WIB
Konsultasi Tulang: Infeksi Setelah Pemasangan Pen
Foto: Ilustrasi/Thinkstock
Jakarta - Dalam kasus patah tulang, umumnya hal itu diatasi dengan pemasangan pen. Pada beberapa kasus, setelah beberapa waktu pemasangan pen, terjadi infeksi bahkan sampai keluar nanah. Mengapa bisa terjadi demikian.

Soal infeksi usai pemasangan pen menjadi salah satu pertanyaan terpopuler di Konsultasi Tulang detikHealth pada 2014. Salah satu pertanyaan disampaikan Suro Gentho (50). "Pasca operasi tulang betis, kaki kiri dipasang pen. Sudah 1 tahun dan sekarang terjadi infeksi. Pada bagian yang dipasang pen bernanah. Bagaimana langkah terbaik untuk mengatasi masalah ini Dok?"

Menurut dr Benedictus Megaputera, MSi, SpOT, pengasuh Konsultasi Tulang detikHealth, kondisi infeksi pada bagian yang dipasangi pen diduga mengalami osteomyelitis kronis (OMK). Untuk menangani OMK, memerlukan rentang waktu yang cukup panjang. Sebab, prinsip penanganannya meliputi penanganan terhadap infeksinya, penanganan terhadap tulangnya dan penanganan terhadap jaringan lunak (kulit, otot) sekitarnya. Oleh karena itu, sangat diperlukan ketelatenan dan kesabaran dalam perawatannya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Hal pertama yang perlu dilakukan untuk menangani infeksi ialah melakukan kultur (pembiakan) kuman yang di dapat dari nanah (kultur pus dalam istilah kedokteran). Hal ini bertujuan untuk mengetahui secara pasti jenis kuman penyebab infeksi," tutur dr Benedictus.

Selanjutnya, dilakukan pula tes sensitivitas terhadap antibiotika yang dilakukan bersamaan dengan kultur plus. Tujuannya, supaya mengetahui jenis antibiotika yang paling sensitif untuk membunuh kuman penyebab infeksi tsb. Selanjutnya, cara pemberian antibiotika ini dilakukan dengan 'menanam'nya ke dalam bagian tulang yang mengalami infeksi, atau bisa juga dikombinasi dengan pemberian secara suntik (injeksi) maupun obat minum (oral).

Evaluasi terhadap kondisi kulit, otot, dan tulang di sekitar lokasi infeksi juga dilakukan dokter spesialis orthopedi. Apakah kondisi tulang saat ini dapat dipertahankan (dengan membuang sebanyak mungkin jaringan tulang yang terinfeksi), atau justru perlu dilakukan pencangkokan tulang (bone graft).

"Otot dan kulit di sekitar tulang yang terinfeksi juga harus dibuang, agar tidak menjadi sarang kuman yang dapat menyebabkan berulangnya kejadian infeksi di kemudian hari. Bila infeksi tulang ini telah terkendali, selanjutnya dapat dilakukan cangkok kulit & otot untuk menutup tulang," ungkap dr Benedictus.

Ia menambahkan jika akibat tindakan tersebut mengakibatkan stabilitas tulang berkurang, maka perlu dilakukan pemasangan pen. Sementara, jika pen telah terpasang, pen tersebut dapat dilepas dan diganti dengan pemasangan pen luar (fiksasi eksternal). Selain infeksi, pasca pengangkatan pen juga dapat menimbulkan rasa nyeri.

"Rasa nyeri dan tidak nyaman paska pengangkatan pen dapat disebabkan oleh jaringan parut (scar), perubahan struktur anatomi pasca cedera dan perubahan bentuk tulang (malalignment)," ucap dr Benedictus.

Menurutnya, kesembuhan suatu hasil operasi bergantung pada kondisi jaringan keras (tulang, sendi) dan jaringan lunak (kulit, otot, saraf, pembuluh darah) saat terjadi cedera. Pada saat terjadi cedera, yang perlu diperhatikan ialah keadaan jaringan kerasnya, yaitu tulang dan sendi yang mengalami patah.

"Hal ini tergantung seberapa besar derajat keparahan patah tulangnya, misalnya patah tulang sederhana atau kompleks, yang disertai luka atau tidak, mengenai sendi atau tidak. Serta, jaringan lunaknya yang harus diperhatikan keadaannya, yaitu: seberapa besar derajat kerusakan (kulit, otot, saraf, pembuluh darah), bagaimana penanganan awal dan berapa lama saat penanganan awal terhadap waktu kejadian," tutup dr Benedictus.

(vit/vit)

Berita Terkait