Konsultasi Umum: Penyebab dan Pencegahan Sariawan

100 Konsultasi Terpopuler 2014

Konsultasi Umum: Penyebab dan Pencegahan Sariawan

- detikHealth
Kamis, 08 Jan 2015 10:25 WIB
Konsultasi Umum: Penyebab dan Pencegahan Sariawan
Foto: Ilustrasi/Thinkstock
Jakarta -

"Kok malas ngomong, lagi sariawan ya". Kalimat semacam itu kerap terdengar untuk mengomentari seseorang yang malas buka mulut. Hmm, orang yang terkena sariawan bisa jadi pelit buka suara. Maklum, luka kecil di mulut itu pedih. Apa sih penyebab sariawan?

Pertanyaan tentang sariawan menjadi salah satu yang terpopuler di Konsultasi Kesehatan Umum detikHealth sepanjang 2014. Pertanyaan itu antara lain disampaikan Arif, pria lajang berusia 29 tahun. "Saya mudah sekali sakit sariawan. Bahkan kadang 2 minggu setelah sembuh, sariawan kambuh lagi. Meskipun tidak sampai parah tapi cukup mengganggu aktivitas saya, seperti ngobrol dengan keluarga, teman atau pelanggan usaha saya. Yang membuat saya sangat ingin tahu adalah apa penyebab dari sariawan dan apa pula tips pencegahan sebelum kambuh lagi?"

Menurut dr Dito Anurogo dari Neuroscience Department, Brain and Circulation Institute of Indonesia (BCII), sariawan dapat disebabkan oleh beberapa faktor, seperti infeksi (virus, bakteri, jamur), keberadaan beragam penyakit sistemik, defisiensi nutrisi (mikroelemen), injuri (cedera/luka) mekanis, fluktuasi kadar hormon, stres dan cemas, merokok, disregulasi imun, alergi makanan atau zat tertentu, dan predisposisi genetik.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Pada kasus sariawan berulang, umumnya disebabkan oleh faktor imunogenetik yang memiliki reaktivitas silang dengan Streptococcus sanguis atau heat shock protein. Beragam faktor predisposisi antara lain kekurangan atau defisiensi haematinic (zat besi, folat, atau vitamin B12), stres, alergi makanan, dan infeksi HIV," papar dr Dito.

Ia menambahkan biasanya dokter akan merekomendasikan pemberian kortikosteroid topikal dan atau modalitas imunomodulator untuk kasus tersebut. Sementara untuk mencegah sariawan, ia menyarankan untuk berhenti merokok sekaligus menghindari asap rokok, meningkatkan kewaspadaan saat mengonsumsi makanan tertentu seperti cokelat, kopi, kacang, almond, sereal, stroberi, keju, makanan yang mengandung asam benzoat, dsb.

"Segera berobat ke dokter, terutama bila menderita gangguan lambung dan saluran pencernaan serta penyakit sistemik, seperti chronic inflammatory bowel diseases, penyakit celiac, Crohn, ulcerative colitis, AIDS," saran dr Dito.

Imbuhnya lagi, sebisa mungkin orang yang sering sariawan dapat mengatur perilaku stres dan cemas, meningkatkan ketakwaan dan spiritualitasnya, mengonsumsi makanan yang kaya akan zat besi, asam folat, serta vitamin B12. Sementara untuk mengurangi nyeri akibat sariawan, dr Dito menyarankan untuk mengonsumsi vitamin C (ascorbic acid) dengan dosis 2.000 mg per harinya.

dr Dito menambahkan ketika seseorang mengalami sariawan setiap bulannya, hal itu dapat memicu bermacam-macam diagnosis bandingnya yang disebabkan faktor predisposisi, faktor risiko, epidemiologi, dan penyebab. Beberapa diagnosis bandingnya ialah kanker mukosa oral, herpes simpleks (akibat virus), syphilis (raja singa), dsb. Oleh karena itu untuk memastikannya perlu berkonsultasi dengan dokter umum atau dokter gigi terdekat agar segera dilakukan penanganan lebih lanjut.

(vit/vit)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads