Konsultasi Umum: Cegukan yang Tidak 'Sembuh-sembuh'

100 Konsultasi Terpopuler 2014

Konsultasi Umum: Cegukan yang Tidak 'Sembuh-sembuh'

- detikHealth
Jumat, 16 Jan 2015 12:50 WIB
Konsultasi Umum: Cegukan yang Tidak Sembuh-sembuh
Foto: Ilustrasi/Thinkstock
Jakarta - Siapapun pasti pernah mengalami cegukan. Umumnya cegukan hanya berlangsung singkat, menghilang setelah yang bersangkutan minum air. Namun ada yang mengeluhkan cegukan yang tidak 'sembuh-sembuh'. Sebenarnya apa sih penyebabnya? Bagaimana mengatasinya?

Pertanyaan seputar cegukan menjadi salah satu pertanyaan terpopuler di Konsultasi Kesehatan Umum detikHealth 2014. Antara lain ditanyakan oleh Simon, laki-laki menikah berusia 26 tahun. "Akhir-akhir ini saya sering sekali mengalami cegukan. Yang pertama saya alami sampai 3 hari berturut-turut tidak sembuh-sembuh setelah itu selang beberapa hari cegukan saya kumat lagi, tapi hanya 1 hari penuh. Pertanyaan saya apakah benar cegukan menandakan adanya penyakit di dalam tubuh saya? Bagaimana solusinya?"

dr Dito Anurogo, pengasuh Konsultasi Kesehatan Umum detikHealth menjelaskan ada beragam penyebab cegukan, antara lain: stres atau reaksi karena menderita kanker atau menderita penyakit berat tertentu, infark miokard, distensi esofagus atau lambung, penyakit hati, steroid intravena, lesi sistem saraf pusat, uremia, dan idiopatik. Iritasi nervus vagus atau diafragma adalah mekanisme patofisiologi cegukan yang umum.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Uremia adalah tingginya kadar urea di dalam darah, sebagai salah satu tanda gagal ginjal kronis, disebut juga azotemia," jelas dr Dito.

Dokter akan meresepkan obat sesuai indikasi dan penyebab yang mendasari. Beberapa obat yang direkomendasikan oleh dokter untuk mengatasi cegukan, antara lain:chlorpromazine, haloperidol, metoclopramide, phenytoin, valproic acid, carbamazepine, gabapentin, ketamine, baclofen, lidocaine intravena, lidocaine (oral), dsb.

Chlorpromazine adalah turunan dimethylamine dari phenothiazine. Bekerja secara sentral sebagai antagonis dopamin di hipotalamus. Efek samping yang ditimbulkannya serius, yaitu: hipotensi, retensi urin, glaukoma, dan delirium.

Haloperidol juga efektif mengatasi cegukan, melalui antagonis dopamin. Ditoleransi lebih baik daripada chlorpromazine.

Kombinasi obat juga sukses meredakan cegukan. Pemberian baclofen dan gabapentin bersamaan dengan omeprazole dan cisapride, sesuai petunjuk dokter, efektif mengatasi cegukan.

Beberapa terapi yang juga efektif meredakan cegukan antara lain: golongan sedatif, analgesik (orphenadrine, amitriptyline, chloral hydrate, morfin), relaksan otot, stimulan (ephedrine, methylphenidate, amphetamine, nikethamide), edrophonium, dexamethasone, amantadine, nifedipine. Semua obat ini hanya dapat dibeli dengan resep dokter, mengingat bahaya efek samping yang mungkin muncul.

Adapun obat golongan benzodiazepin memerburuk atau mencetuskan cegukan, sehingga harus dihindari.

Strategi efektif mengatasi cegukan menurut Woelk CJ (2011):
1.Pakailah pendekatan nonfarmakologis (bukan obat), terutama yang pernah berhasil dilakukan.
2.Resepkanlah simethicone, domperidone, atau metoclopramide, atau suatu proton pump inhibitor.
3.Resepkanlah baclofen jika fungsi ginjal baik.
4.Tambahkan gabapentin.
5.Berikanlah chlorpromazine atau haloperidol jika cegukan menetap (atau jadikanlah langkah nomor 3, bila fungsi ginjal menurun/buruk).
6.Pertimbangkan pemberian nifedipine, valproic acid, dexamethasone, atau sertraline.
7.Tambahkanlah midazolam.

"Stimulasi vagal seperti pijat karotid atau manuver valsalva, menghentikan siklus pernapasan (dengan bersin, batuk, menahan napas, hiperventilasi), iced gastric lavage, pijat sinus karotid, pijat ocular globe dengan jari, pijat rectum dengan jari. Pilihlah satu saja yang sesuai. Semua intervensi ini haruslah dilakukan oleh profesional," papar dr Dito.

Cara sederhana lainnya adalah berkumur dengan air, minum banyak air, menghisap ice water, menelan gula, menggigit lemon, mengunyah lemon, menghirup lada/merica sampai bersin, menghirup ammonia, memakan sesendok penuh peanut butter, timbulkan/munculkan respon ketakutan (misal: bernapas terengah-engah).

Cara lainnya, tarik lutut ke dada, lalu luruskan, lakukan berkali-kali. Stimulasi faring secara langsung dengan kateter (nasal/oral; 90% efektif). Intervensi lainnya adalah akupunktur, diaphragmatic pacing electrodes, gunakan continuous positive airway pressure, hypnosis, berdoa.

(vit/vit)

Berita Terkait