Pemuda yang Ingin Berhenti Naksir Pria Tegap

Pemuda yang Ingin Berhenti Naksir Pria Tegap

detikHealth
Senin, 20 Des 2010 14:37 WIB
Dr. Andri Wanananda MS
Ditulis oleh:
Dr. Andri Wanananda MS
Anggota Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan Asosiasi Seksologi Indonesia (ASI) serta pengajar di Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Jakarta.
Pemuda yang Ingin Berhenti Naksir Pria Tegap
Jakarta -

Dok, kenapa saya selalu suka sama pria berbadan berisi, tegap, tegas dan baik hati? Bagaimana cara menghilangkan rasa cinta terlarang ini?

Apakah baik menahan sperma yang ingin keluar dengan cara menekan Mr. P lalu ia tidak jadi keluar? Bagaimana cara memperbesar Mr. P? Memperbanyak dan bikin kental sperma serta tahan lama Dok? Terimakasih atas bantuannya Dok.

Akira (Pria Lajang, 19 Tahun), akira.kusukai@gmail.com
Tinggi Badan 165 Cm dan Berat Badan 50 Kg


Jawaban


ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ketertarikan Anda pada pria bertubuh berisi, tegap, tegas dan baik hati, sebaiknya terbatas pada 'Kekaguman' saja. Kemolekan tubuh wanita yang ramping, berisi, sensual ditopang oleh sikap yang anggun dan cerdas tidak kalah menariknya.

Ungkapan hati Anda yg ingin mengatasi 'cinta terlarang' pada sesama jenis, menunjukkan bahwa Anda memiliki
'Insight' (pemahaman yang baik) terhadap masalah yang ingin Anda atasi. Artinya, pertanda baik Anda akan mampu mengatasinya.

Agar Anda tetap dalam koridor Heteroseksual, dianjurkan Anda berkonsultasi dengan Ahli Psikologi untuk mengatasi 'daya maknet' sesama jenis.

Mengenai menahan sperma, sebaiknya cairan sperma tidak ditahan saat ejakulasi. Jauh lebih sehat bila cairan sperma keluar tanpa hambatan seiring dengan terjadinya orgasme.

Mr P tidak perlu dibesarkan, yang penting Mr P dapat tegang cukup lama dan keras. Volume dan kekentalan cairan sperma amat bergantung pada jenis makanan dan minuman yang dikonsumsi, kadar testosteron darah yang semuanya akan menciptakan 'Sexual Fitness' yang prima.

Dr. Andri Wanananda MS

Anggota Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan Asosiasi Seksologi Indonesia (ASI) serta pengajar di Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanegara Jakarta.

(ir/ir)

Berita Terkait