Kenapa Doggie Style Bikin Pasangan Sakit Perut?

Kenapa Doggie Style Bikin Pasangan Sakit Perut?

detikHealth
Rabu, 29 Des 2010 12:43 WIB
Dr. Andri Wanananda MS
Ditulis oleh:
Dr. Andri Wanananda MS
Anggota Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan Asosiasi Seksologi Indonesia (ASI) serta pengajar di Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Jakarta.
Kenapa Doggie Style Bikin Pasangan Sakit Perut?
Jakarta -

Dok, ketika berhubungan intim saya selalu merangsang miss V istri sampai istri minta Mr P dimasukkan. Kemudian setelah dimasukan paling 1 menit saya langsung keluar. Apakah ini normal? Apa saya termasuk ejakulasi dini? Dan mengapa istri saya merasakan sakit perutnya jika berhubungan intim dengan gaya doggie style (posisi belakang)?  Normalkah rasa sakitnya itu? Jika dengan gaya biasa (istri di bawah) dia bisa menikmatinya tanpa rasa sakit. Terimakasih.

Anas (Pria Menikah, 28 Tahun), anasXXXX@yahoo.com
Tinggi Badan 170 Cm dan Berat Badan 62 Kg

Jawaban

Hubungan intim dengan isteri diawali dengan rangsangan awal pada vagina. Lalu isteri memberi aba-aba agar dilakukan penetrasi penis. Dalam 1 menit penis dalam vagina terjadilah ejakulasi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bila saat Anda ejakulasi diikuti pula oleh istri yang mencapai orgasme, hal ini relatif masih normal. Kecuali, bila saat itu istri belum orgasme, harus dipertimbangkan apakah saat itu Anda sedang letih atau mulai mengalami ejakulasi dini.

Nyeri perut isteri ketika melakukan hubungan intim 'doggie style' tapi dengan gaya 'man on top' tidak nyeri, kemungkinan karena dinding perut isteri yang tidak lentur sebab harus menanggung beban tubuhnya pada posisi agak membungkuk.

Coba lakukan 'doggie style' tidak pada posisi berdiri, tapi istri membungkuk atau rebahan miring di atas ranjang. Mungkin variasi 'doggie style' ini tidak akan membuat nyeri pada perut isteri. Kebaikan & keburukan 'doggie style' dapat dilihat pada blog: andriwanananda.blogdetik.com.

Dr. Andri Wanananda MS

Anggota Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan Asosiasi Seksologi Indonesia (ASI) serta pengajar di Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanegara Jakarta.

(ir/ir)

Berita Terkait