Apakah Saya Harus Menikah dengan Pria yang Bikin Saya Tidak Perawan?

Apakah Saya Harus Menikah dengan Pria yang Bikin Saya Tidak Perawan?

detikHealth
Selasa, 01 Mei 2012 15:23 WIB
Ditulis oleh:
Apakah Saya Harus Menikah dengan Pria yang Bikin Saya Tidak Perawan?
Ilustrasi (dok: Thinkstock)
Jakarta -

Saya sudah menjalin hubungan pacaran dengan seorang laki-laki yang sangat saya cintai. Pacar saya itu berjanji pada saya akan menikahi saya karena saya dan dia sudah merasa cocok dan keluarga kami juga mendukung. Cara berpacaran kami mungkin sudah terlalu jauh, sudah melakukan seks pranikah.

Belakangan saya ketahui bahwa pacar saya ternyata selingkuh dengan perempuan lain dan gosipnya mereka juga sudah pernah melalukan hubungan seksual. Saya merasa tidak terima, tapi karena saya juga sudah terlanjur cinta dan terikat dengan pacar saya ini, saya jadi tidak memutuskan hubungan saya.

Pacar saya juga sudah bilang pada saya kalau dia sudah memutuskan hubungan dengan selingkuhannya itu. Saya jadi merasa aman, walaupun dalam hati tidak terima ketika teringat bahwa pacar telah melakukan hubungan seks dengan perempuan lain.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sekarang hubungan saya dan pacar saya berjalan seperti biasa, tapi kendalanya saya merasa bahwa dia dan selingkuhannya masih berhubungan di belakang saya.

Sekarang saya hidup penuh dengan rasa curiga dan cemburu. Saya juga tidak berani mengungkit masa lalu atau menuduh pacar saya selingkuh lagi, dia selalu marah dan meyakinkan saya kalau dia sudah kapok dengan cara marah-marah.

Terkadang saya merasa sakit hati dan tidak yakin dengan perlakuan dia. Tapi saya tetap tidak bisa meninggalkan dia, saya sudah terlanjur terikat hubungan seksual dengan dia. Saya adalah tipe orang yang tidak mau bersuami selain orang yang sudah menghilangkan perawan saya. Tapi sikap dia yang begitu dingin membuat saya tidak kuat. Saya harus bagaimana? Mohon sarannya.

Amanda (Perempuan Lajang, 20 Tahun), amanda.XXXXXXX@rocketmail.com
Tinggi Badan 169 Cm dan Berat Badan 56 Kg

Jawaban

Amanda, saya tahu kalau cinta memang kadang-kadang tidak bisa memilih. Tetapi apakah Anda siap untuk menikah seumur hidup dengan orang yang selalu Anda curigai?

Saya mengerti bahwa cinta itu sebenarnya adalah hal-hal yang membuat kita merasa bahagia, merasa tenang dan percaya sama orang itu. Kalau di sini semua yang Anda ungkapkan merasa curiga, cemburu, tidak percaya, tidak kuat lagi, pacar selalu marah, Anda masih merasa sakit hati, saya yakin ini bukan cinta sebenarnya.

Dan kenapa sih Anda berpikir bahwa ketika Anda menyerahkan keperawanan pada si pria itu, si pria itu harus menikahi Anda? Anda tidak pernah tahu bahwa ada orang lain yang mungkin bisa membahagiakan Anda.

Kalau dia bisa berselingkuh pada saat dia pacaran dengan Anda, apa Anda yakin pada saat menikah dia tidak akan selingkuh lagi? Kalau sekarang saja Anda sudah tidak percaya, pada saat Anda menikah akan lebih menderita lagi, karena yang berselingkuh bukan cuma pacar tapi sekarang adalah suami. Apakah Anda akan bercerai atau Anda mau saja dipermainkan terus oleh suami Anda nantinya? Belum tentu dia akan berubah, kita harus berpikir yang terburuknya dahulu.

Pertama, untuk memastikan ini cinta atau bukan, cinta turunannya selalu positif bahwa cinta itu selalu membuat Anda merasa aman, nyaman dan Anda merasa curiga Anda mampu memafkan.

Kalau misalnya Anda masih merasa tidak nyaman dan curiga terus pada pacar Anda, coba cari tahu kira-kira apa yang bisa pacar Anda lakukan untuk membuat Anda percaya lagi, yang jelas harus konkret sampai Anda harus percaya lagi.

Anda tidak akan pernah merasa nyaman menikahi orang yang tidak membuat Anda cemburu atau yang terus membuat Anda curiga. Apalagi dia sering marah-marah pada Anda, seumur hidup kalau dia menikah ataupun tidak lalu bersikap dingin pada Anda sudah susah sebagai jaminan. Bayangkan kemungkinan-kemungkinan terburuk. Dengan seks tanpa seks sebenarnya Anda tidak spesial.

Zoya Amirin, M.Psi
Psikolog seksual bersertifikasi yang memiliki pendidikan seksual yang berlatar belakang psikologi. Ketua dalam Komunitas Studi mengenai Perilaku Seksual, anggota dari Asosiasi Seksologi Indonesia.

Pengajar mata kuliah Kesehatan Reproduksi, Ilmu Hubungan antar manusia, Public Relation, Ilmu Komunikasi Dasar di Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia.

(ir/up)

Berita Terkait