Gagal Ereksi Sama Istri, Tapi Sama Selingkuhan Bisa

Gagal Ereksi Sama Istri, Tapi Sama Selingkuhan Bisa

detikHealth
Kamis, 10 Mei 2012 17:50 WIB
Dr. Andri Wanananda MS
Ditulis oleh:
Dr. Andri Wanananda MS
Anggota Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan Asosiasi Seksologi Indonesia (ASI) serta pengajar di Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Jakarta.
Gagal Ereksi Sama Istri, Tapi Sama Selingkuhan Bisa
Ilustrasi (dok: Thinkstock)
Jakarta -

Dok, saya pria menikah punya 1 orang anak, istri usia 35 tahun. Sudah kurang lebih 1 tahun ini saya sulit ereksi bila mau berhubungan dengan istri sehingga frekuensi berhubungan intim sangat sangat jarang bahkan dalam kurun waktu 6 bulan terahir saya tidak bisa ereksi bila mencoba mau berhubungan intim dengan istri.

Anehnya ketika saya melakukannya dengan WIL (wanita idaman lain) usia 35 tahun, tidak masalah. Apa problemnya dok? Bagaimana memperbaiki kondisi agar saya bisa ereksi ketika akan berhubungan dengan istri? Terimakasih

Erroanzory (Pria Menikah, 42 Tahun), erroanxxx@yahoo.co.id
Tinggi Badan 177 Cm dan Berat Badan 70 Kg

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Jawaban

Bila ML dengan isteri Mr P tidak bisa ereksi, dengan WIL (Wanita Idaman Lain) Mr P tegak perkasa. Masalah yg kerap dialami oleh pasangan suami isteri yg sudah sekian lama menikah adalah "BORING" (kebosanan, kejenuhan).

Jelasnya, dari aspek fisik, kebugaran seksual Anda masih optimal. Anda bukan penderita DE (Disfungsi Ereksi). Akan tetapi, hubungan intim bukan cuma faktor fisik, faktor psikis juga turut berperan. Ketika ML dengan WIL, faktor fisik didukung oleh faktor psikis yg prima, tidak "boring", hingga ML berjalan lancar. Dengan isteri, faktor psikisnya "mogok".

Disarankan agar Anda bicara dari hati kehati dengan isteri, agar saat-saat sensual yg indah ketika ML pada awal menikah bisa diulang kembali. Menggunakan obat-obat erektogenik pun tidak akan berhasil, sepanjang gairah seksual (libido) Anda "padam" ketika berhadapan dengan isteri.

Dr. Andri Wanananda, MS
Anggota Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan Asosiasi Seksologi Indonesia (ASI) serta pengajar di Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanegara Jakarta.

(ir/up)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads