Salam hormat, dokter Dito. Saya mau tanya lebih jelas mengenai hypokalemia atau kurangnya kalium dalam darah.
1. Apa penyebab utamanya?
2. Sangat berbahayakah?
3. Bagaimana mengobatinya?
4. Apakah sama dengan epilepsi?
5. Mungkinkah penderita bisa mengalami kelumpuhan? Terimakasih atas penjelasannya, Dok.
Terima kasih, salam hormat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tinggi Badan 158 Cm, Berat Badan 53 Kg
Jawaban:
Hypokalemia (hipokalemia) didefinisikan sebagai konsentrasi ion kalium (K+) plasma kurang dari 3,5 mmol/L.
1. Penyebab
Penyebabnya multifaktor. Beta-adrenergic agonists seperti yang banyak digunakan untuk mengobati bronchospasm (kejang saluran pernafasan, bronkus) adalah penyebab umum dari hipokalemia. Aktivasi beta 2-adrenergic receptors memicu pembuangan (uptake) seluler kalium (potassium) dan meningkatkan sekresi insulin oleh sel-sel beta islet pankreas.
Penyebab lainnya antara lain adalah menurunnya asupan (intake) bahan pangan (kondisi kelaparan, menelan dan proses pencernaan clay, yaitu: sejenis lempung atau tanah liat), redistribusi menuju sel-sel (keseimbangan asam basa, misalnya: kondisi alkalosis metabolik), pengaruh hormon (insulin, antagonis alpha-adrenergik, agonis beta-2 adrenergik endogen atau eksogen), keadaan anabolik (vitamin B12 atau asam folat untuk produksi sel darah merah, Granulocyte-macrophage colony stimulating factor untuk produksi sel darah putih, nutrisi parenteral total), kondisi/gangguan lainnya (seperti pseudohypokalemia, hipotermia, hypokalemic periodic paralysis, keracunan barium), meningkatnya kejadian tertentu (berkeringat, diare atau mencret).
Foscarnet adalah agen kuat yang digunakan sebagai cytomegalovirus yang kebal obat (drug-resistant CMV), herpes simplex virus (HSV) dan varicella-zoster virus (VZV). Foscarnet dapat menyebabkan gagal ginjal akut dan umumnya menyebabkan terjadinya hypokalemia, hypocalcemia, hypophosphatemia, dan hyperphosphatemia.
Keberadaan hipokalemia dan alkalosis metabolik menyarankan kondisi yang di dalam medis disebut sebagai sindrom Conn (primary hyperaldosteronism).
2. Gejala
Hipokalemia bila masih derajat ringan dan sedang, relatif tidak berbahaya. Kelelahan, nyeri otot (myalgia), kelemahan otot kaki adalah keluhan yang umum dirasakan penderita hipokalemia derajat ringan hingga sedang.
Bila berat, maka penderita hipokalemia mengalami kelemahan yang progresif (semakin lama semakin berat), hipoventilasi (terjadi karena keterlibatan otot respirasi/pernafasan), dalam waktu singkat menimbulkan kelumpuhan total (complete paralysis).
3.Tujuan terapi
Tujuan terapi adalah untuk mengkoreksi kekurangan ion kalium (K+) dan meminimalkan kehilangan (K+) yang sedang berlangsung.
Berkurangnya konsentrasi (ion) kalium plasma sekitar 1 mmol/L (dari 4,0 hingga 3,0 mmol/L) dapat menggambarkan keadaan defisit (kekurangan) ion kalium total sekitar 200-400 mmol, dan penderita dengan kadar kalium plasma di bawah 3,0 mmol/L seringkali memerlukan kelebihan sekitar 600 mmol ion kalium (K+) untuk mengkoreksi kekurangan. Umumnya lebih aman untuk mengkoreksi kondisi hipokalemia melalui rute oral (melalui mulut).
Pada penderita hypokalemia, maka penggunaan obat golongan diuretic (peluruh kencing) haruslah dilarang.
4. Hipokalemia berbeda dengan epilepsi
Kondisi hipokalemia berbeda dengan epilepsi. Namun pada tingkat molekuler, ada hubungan antara epilepsy dengan kalium (potassium). Gen KCNQ2 pada lokus 20q13.3 adalah salah satu gen yang berhubungan dengan epilepsi. Fungsinya adalah sebagai subunit "voltage-gated potassium channel". Mutasi di daerah pori-pori (pore regions) dapat menyebabkan pengurangan sekitar 20–40% kalium yang sedang bersirkulasi/beredar di dalam tubuh (potassium currents), yang akan memicu terjadinya pelemahan repolarization.
Riset yang dilakukan hingga 14 September 2012 pada 25.398 penderita epilepsi menemukan 96 orang (0,38%) diantaranya memiliki hipokalaemia. Fakta menarik lainnya adalah bahwa penderita epilepsi disertai dengan hipokalemia lebih sering dialami wanita (71,85%) daripada pria (28,15%).
Miura T, dkk pada tahun 1983 melaporkan kondisi generalized epilepsy pada pasien dengan hypokalemic periodic paralysis dan cardiac arrhythmia. Mungkin ini adalah salah satu contoh kasus langka, dimana kondisi epilepsi berhubungan dengan periodic paralysis (akibat hipokalemia) dan arrhythmia.
5. Risiko kelumpuhan
Penderita hipokalemia berat dapat (namun tidak selalu) mengalami kelumpuhan, terutama bila telah berlanjut atau telah menahun (kronis).
Demikian penjelasan ini, semoga bermanfaat.
dr. Dito Anurogo
Saat ini berkarya di RSI PKU Muhammadiyah, Universitas Palangka Raya, Universitas PGRI Palangka Raya. Konsultan kesehatan Netsains.com. Dokter peneliti hematopsikiatri dan medicopomology. Penulis buku 'Cara Jitu Mengatasi Impotensi' dan 'Cara Jitu Mengatasi Nyeri Haid', menulis karya ilmiah tentang Biomarker Stroke bersama ilmuwan di University Wisconsin, USA. Saat ini sedang melakukan riset tentang pharmacogenetic dan pharmacogenomic bersama ilmuwan dari University of California, Irvine, USA.
Peneliti hematopsikiatri (ilmu yang mempelajari hubungan golongan darah dengan kepribadian, gaya hidup dan kecenderungan pola penyakit, pencegahan serta solusinya). Peneliti Medicopomology (buah berkhasiat obat).
(up/ir)











































