Saya salah satu fans Mbak Zoya. Sangat bersyukur dengan keberadaan Anda yang merupakan satu-satunya psikolog seksual di Indonesia. Saya punya pertanyaan mewakili teman-teman atau orang-orang di sekitar saya yang sudah menikah.
1. Menurut sudut pandang psikologi seksual, apakah kebutuhan seks itu suatu saat bisa jadi membosankan? Jika iya, kapan kira-kira itu terjadi? Dan bagaimana mengatasi hal tersebut tanpa sampai terjadi perselingkuhan?
2. Menurut orang-orang, daya tahan seks antara wanita dan pria berbeda, yaitu lebih lama wanita. Apa benar seperti itu? Kalau iya, bagaimana pengaruhnya terhadap psikis wanita? Apa bisa sampai timbul perceraian? Bagaimana solusinya?
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
4. Oral seks mungkin sangat digemari sebelum memulai hubungan seks, tapi sangat berkebalikan dengan mood si wanita. Artinya wanita, khususnya yang pertama kali berhubungan intim, masih merasa jijik. Bagaimana cara meyakinkan wanita agar mengerti semua kebutuhan psikis cowok saat seks, khususnya untuk oral seks.
Mohon dibalas ya Mbak Zoya. Terimakasih banyak.
Had (Pria Lajang, 24 Tahun), einsXXXXXXXX@rocketmail.com
Tinggi Badan 160 cm, Berat Badan 44 kg
Jawaban
1. Bukan kebutuhan seks yang membuat orang jadi bosan, tapi ketika cinta atau perasaan itu sudah tidak ada lagi. Passion atau gairah memang bisa hilang, masa expired-nya pada setiap orang rata-rata 18 bulan. Pada masa-masa itu orang bisa sangat bergairah. Tapi untuk masalah intimacy atau kedekatan hubungan, perlu dilakukan usaha untuk menjalin keintiman.
Jika ada lagu terkenal yang berjudul 'Jagalah Hati', maka memang itu yang harus dilakukan supaya orang yang jatuh cinta atau mencintai pasangannya mampu menjaga perasaan. Peribahasanya adalah 'Perlu Cinta untuk Bercinta'.
Kebutuhan seks pasti selalu ada pada setiap orang. Tapi yang harus dijalin atau dibangkitkan adalah rasa cintanya. Lakukan hal yang membuat pasangan sama-sama bahagia lagi seperti berkencan. Hal-hal yang dilakukan selama pacaran harus dilakukan terus sehingga tidak bosan.
2. Pria dan wanita memiliki ekspresi seksual yang memang berbeda. Wanita memiliki kemampuan untuk multiple orgasme sementara pria relatif tidak mampu. Karena memang secara emosi, hormon, ataupun fisik, pria dan wanita diciptakan sedemikian rupa berbeda. Itulah sebenarnya yang membuat kompleksitas hubungan seksual jadi lebih rumit dinamikanya.
Yang harus dicari solusinya adalah bagaimana mempertemukan 2 orang yang secara fisik memiliki hormon seksual yang berbeda. Itulah sebabnya mengapa ada ilmu seksologi untuk mengatasi perbedaan-perbedaan fisik. Karena manusia itu akan dipertemukan kebutuhan-kebutuhannya untuk bereproduksi dan menjalin cinta.
Memang dalam kenyataannya, seks itu tidak senatural yang orang katakan bahwa nanti juga bisa sendiri. Seks adalah sesuatu yang harus dipelajari perbedaannya supaya bisa dicari persamaannya, sama-sama membutuhkan untuk memenuhi tujuan seks, yaitu reproduksi atau memiliki anak dan rekreasi, dalam arti menjalin cinta sebagai suami dan istri.
Dari kebutuhan ini, kita harus cari hal yang sama bagaimana si pria sampai mampu memberikan kepuasan seks pada wanita di saat dia sendiri sedang loyo.
3. Secara psikosekual, oral seks itu tidak bisa dikatakan jorok. Yang dikatakan jorok adalah jika tidak mencuci alat kelamin lalu melakukan oral seks. Oral seks bisa dijadikan sebagai alternatif atau variasi hubungan seksual antara suami istri jika sama-sama nyaman. Bisa juga sebagai rangsangan hubungan seksual dalam pernikahan.
4. Kalau memang tidak nyaman ya jangan dilakukan. Mau gaya apapun hubungan seks yang dipilih untuk dilakukan, pastikan keduanya sama-sama happy, menikmati dan ingin menyenangkan pasangan.
Sebagai suami istri, idealnya adalah melakukan customer satisfaction. Istri adalah customer suami dan suami adalah customer istri. Jadi sebagai seorang customer relation yang baik, istri harus menanyakan 'Apakah kamu puas? Apakah kamu senang? Apa yang bisa saya lakukan untuk membuatmu bahagia?'. Itu yang harus dilakukan antara suami dan istri.
Zoya Amirin, M.Psi
Psikolog seksual bersertifikasi yang memiliki pendidikan seksual yang berlatar belakang psikologi. Ketua dalam Komunitas Studi mengenai Perilaku Seksual, anggota dari Asosiasi Seksologi Indonesia.
Pengajar mata kuliah Kesehatan Reproduksi, Ilmu Hubungan antar manusia, Public Relation, Ilmu Komunikasi Dasar di Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia.
(pah/vit)











































