Masih Remaja Tapi Sudah Stres Kronis, Harus Bagaimana?

Masih Remaja Tapi Sudah Stres Kronis, Harus Bagaimana?

detikHealth
Jumat, 09 Nov 2012 16:57 WIB
Ditulis oleh:
Masih Remaja Tapi Sudah Stres Kronis, Harus Bagaimana?
(Foto: thinkstock)
Jakarta -

Dok, saya adalah seorang remaja yang akan lulus SMA tahun ini. Namun karena masalah yang saya dapat, hingga sekarang selalu saya simpan sendiri, saya jadi mudah stres dan emosional.

Memang saya sering curhat teman saya agar stres berkurang, tetapi sampai sekarang saya masih gampang stres dan emosi bisa meledak sewaktu-waktu. Dan karena faktor stres itu saya jadi gampang terserang penyakit.

Apa itu bisa dikatakan "stres kronis" karena stres saya ini menahun? Bila iya, apa saja dampak yang akan saya dapat? Dan apakah wajar bila seorang remaja mengalami "stres kronis"? Atas perhatiannya, saya ucapkan terimakasih.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Angel (Wanita lajang, 17 tahun), hurtedXXXX@ymail.com
Tinggi Badan 158 cm dan Berat Badan 48 kg

Jawaban

Dear Angel,
Setiap orang pasti mengalami stres dan khusus untuk remaja, stres sering kali dirasakan berlebihan, karena dari segi fisiologis, tubuh seorang remaja banyak mengalami perubahan, terutama perubahan hormon yang dapat mempengaruhi emosinya.

Di samping itu, perkembangan psikologis seorang remaja memang sedang bergejolak, karena mereka sedang dalam tahap mencari identitas diri.

Stres membuat daya tahan tubuh atau fisik kita menurun. Oleh sebab itu, maka Angel sering terserang penyakit. Seseorang akan sakit atau tidak, tergantung dari faktor besarnya stres dan daya tahan fisik atau mentalnya.

Semakin besar stres dan semakin rendah daya tahan fisik atau mental, maka semakin besar kemungkinan seseorang akan sakit. Stres yang terus menerus atau kronis, akan menyebabkan gangguan dalam kesehatan, terutama penyakit-penyakit psikosomatik (penyakit fisik yang disebabkan oleh psikis), gangguan dalam pekerjaan atau pelajaran di sekolah dan lingkungan sosial.

Stres yang menyebabkan gangguan dalam pekerjaan dan lingkungan sosial, tentu tidak wajar karena sudah berlebihan, atau yang kita sebut distress, yaitu stres yang negatif.

Stres ada juga yang positif, kita sebut eustress, yaitu stress yang memang kita butuhkan untuk maju. Misalnya stres waktu ujian, akan membuat kita jadi rajin belajar. Stres waktu presentasi, akan membuat kita mempersiapkan diri dengan sungguh-sungguh.

Tetapi apabila stres itu sudah berlebihan, maka akan menjadi distress, jadi kita bukannya belajar sungguh-sungguh, tapi malah tidak bisa belajar sama sekali karena tidak bisa konsentrasi, tidak bisa tidur, makan atau berpikir saking stresnya. Distress yang demikian tentunya merugikan dan mengganggu sehingga perlu ditangani.

Dr. Elly Ingkiriwang, SpKJ

Psikiater di Psychiatric Clinic, Royal Progress International Hospital, Danau Sunter Utara, Sunter Paradise I, Jakarta 14350. Serta Staf pengajar di Jurusan Kesehatan Mental Fakultas Kedokteran Ukrida Jakarta.



(mer/vit)

Berita Terkait