Jiwa Terganggu karena Memikirkan Penyakit, Harus Bagaimana?

Jiwa Terganggu karena Memikirkan Penyakit, Harus Bagaimana?

detikHealth
Kamis, 22 Nov 2012 13:19 WIB
Ditulis oleh:
Jiwa Terganggu karena Memikirkan Penyakit, Harus Bagaimana?
(Foto: thinkstock)
Jakarta -

Beberapa bulan yang lalu sakit dan pada akhirnya beberapa hari yang lalu saya diopname dan dinyatakan sembuh.

Akan tetapi psikis saya jadi terganggu karena memikirkan penyakit yang saya derita selama ini, akhirnya dokter mendiagnosa psikosomatis.

Namun pertanyaan saya muncul kembali setelah saya berkunjung ke dokter spesialis jiwa, karena saya diberi obat alprazolam yang notabene mengakibatkan ketagihan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

1. Pertanyaan saya haruskah saya mengonsumsi obat tersebut agar tidak merasa cemas dan gelisah atau tidak usah karena menimbulkan ketergantungan?

2. Bagaimana mengatasi susah tidur yang belakangan ini muncul, haruskah dengan mengonsumsi obat tersebut yang efeknya juga menimbulkan kantuk, atau obat yang lain yang tidak mengakibatkan ketergantungan?

Budianto (Pria Menikah, 32 tahun), budiXXXXX@yahoo.co.id
Tinggi Badan 167 cm dan Berat Badan 55 kg

Jawaban

Dear mas Budi,

Penyakit psikosomatis artinya penyakit yang penyebabnya adalah psikis (jiwa), kemudian mengakibatkan penyakit fisik (soma). Jadi penyakitnya disebabkan karena pikiran kita.

Misalnya kita banyak pikiran, masalah, yang timbul adalah penyakit sakit kepala. Kita merasa terlalu banyak beban dalam kehidupan, yang timbul penyakitnya adalah pegal-pegal di bahu. Merasa kurang diperhatikan, terlalu banyak stres, penyakit yang timbul adalah sakit maag.

Obat yang diberikan biasanya adalah obat penenang, tujuannya supaya lebih tenang, tidak terlalu cemas, sehingga dengan sendirinya keluhan penyakit fisik juga berkurang.

Obat penenang untuk penyakit psikosomatis maupun untuk keluhan susah tidur, memang tidak boleh diberikan terus menerus, karena akan timbul ketagihan.

Maka selain obat penenang, seharusnya diberikan obat yang lain seperti obat anti depresi dan juga tentu dilakukan psikoterapi disertai dengan teknik-teknik relaksasi. Apabila gejala sudah teratasi, maka obat penenang harus diturunkan secara bertahap.

Dr. Elly Ingkiriwang, SpKJ
Psikiater di Psychiatric Clinic, Royal Progress International Hospital, Danau Sunter Utara, Sunter Paradise I, Jakarta 14350. Serta Staf pengajar di Jurusan Kesehatan Mental Fakultas Kedokteran Ukrida Jakarta.



(mer/vit)

Berita Terkait