Ibu yang Bingung Beri Pendidikan Seks pada Anak

Ibu yang Bingung Beri Pendidikan Seks pada Anak

detikHealth
Senin, 14 Jan 2013 15:17 WIB
Ditulis oleh:
Ibu yang Bingung Beri Pendidikan Seks pada Anak
ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Jakarta - Mbak Zoya, saya ibu rumah tangga dengan 2 orang anak. Sehubungan dengan cara pergaulan remaja zaman sekarang, saya sangat khawatir anak saya akan mencoba seks dengan wanita panggilan (PSK) yang notabene belum tentu bersih. Waktu membersihkan kamarnya, saya sempat menemukan banyak film porno yang disembunyikan di dalam buku-buku yang ditumpuk.

Saya sempat berpikir untuk memberikan pendidikan seks secara langsung dengan bersetubuh dengan saya. Saya sempat membicarakan ini kepada suami dengan pertimbangan daripada anak saya melakukan dengan wanita panggilan di luar sana, lebih baik dia melakukan dengan saya.

Suami sempat kaget tapi akhirnya membolehkan dan mengatakan bahwa semua terserah saya. Dear Zoya, apakah saya salah jika benar-benar memberikan pendidikan seks secara langsung kepada anak saya?

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

NF (Perempuan Menikah, 49 Tahun), nurfXXXXXXX@yahoo.co.id
Tinggi Badan 160 cm, Berat Badan 60 kg

Jawab

Ibu NF yang baik, pendidikan seks pada anak remaja bukanlah dengan mengajarkan cara berhubungan seksual, tidak dengan ibunya maupun dengan wanita manapun. Pendidikan seks mengajarkan perkembangan psikoseksual yang harus dipahami si anak ketika merasa terangsang terhadap lawan jenis, serta memberi pemahaman cinta dan hubungan yang sehat.

Melihat fakta Anda menemukan film porno di kamar anak Anda, mintalah suami untuk berbicara pada anak laki-laki Anda. Tentunya pada usia yang sama, suami mengalami seperti yang putra Anda juga alami. Minta suami menanyakan baik-baik apa yang anak Anda rasakan ketika menyaksikan film porno tersebut?

Setelah itu, diskusikan mengapa film porno itu salah dan tidak boleh disaksikan walaupun oleh pasangan suami istri. Film porno membuat persepsi yang salah tentang hubungan seksual dan relationship, sehingga membuat individu mempertanyakan kenormalan seksualitasnya. Biarkan mereka melakukan masturbasi dan menghayal dengan wanita yang mereka suka, asalkan tidak dengan film porno.

Jelaskan bahwa ketika putra Anda sudah mimpi basah, mereka punya potensi menghamili perempuan dan mungkin terkena infeksi menular seksual jika berhubungan intim dengan PSK. Coba browsing melalui Internet foto-foto infeksi menular Seksual dan HIV/AIDS bersama putra Anda.

Kedua ceritakan pengalaman manis ayah dan ibundanya dari pacaran sampai menikah. Berikan alasan secara logis dan penuh cinta, mengapa sebaiknya menunda hubungan seks sampai siap, yaitu sampai menikah. Mungkin godaan pacaran akan ada, bukan masalah pacar bersih atau tidak, tapi soal moral dan nilai yang dianut si anak.

Ceritakan mengenai cinta, patah hati dan hal-hal lain yang mungkin akan dilalui si anak pada masa aktif secara seksual. Katakan bahwa anak laki-laki yang jantan adalah yang tidak menghamili wanita sebelum menikahinya. Selalu tekankan untuk menjauhi hubungan seks sebelum menikah. Jika nafsu birahi sudah tak tertahankan, ingatkan untuk menggunakan kondom supaya tidak menimbulkan problem lanjutan.

Bicarakan kedua hal di atas dalam suasana nyaman sehingga terjadi diskusi dimana Anda berdua dan putra-putra Anda saling mengungkapkan kekawatiran dan memecahkan masalah bersama. Sekali lagi, jangan dengan berhubungan seks dengan Anda. Jika Anda belum menopause, Anda malah bisa hamil dan terjadi incest, bisa terkena pasal hukum meskipun niatnya baik.

Selamat memberikan pendidikan seks yang sehat seperti saran saya di atas. Jangan lupa peran suami Anda cukup besar pada putra Anda untuk memberikan pendidikan seks. Good luck, stay safe and save.

Zoya Amirin, M.Psi
Psikolog seksual bersertifikasi yang memiliki pendidikan seksual yang berlatar belakang psikologi. Ketua dalam Komunitas Studi mengenai Perilaku Seksual, anggota dari Asosiasi Seksologi Indonesia.

Pengajar mata kuliah Kesehatan Reproduksi, Ilmu Hubungan antar manusia, Public Relation, Ilmu Komunikasi Dasar di Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia.

(pah/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads