Kegemukan atau Memang Tulangnya Besar?

Kegemukan atau Memang Tulangnya Besar?

detikHealth
Kamis, 28 Mar 2013 15:46 WIB
Ditulis oleh:
Kegemukan atau Memang Tulangnya Besar?
Ilustrasi (dok: Thinkstock)
Jakarta -

Suami saya 28 tahun, 89 kg, 176 cm. Tulang memang besar, tapi sepertinya kegemukan. Terutama perut yang semakin membesar buncit. Saya kuatir, keluhan yang sering adalah kembung. Padahal makan sangat biasa. Benarkah kegemukan dan apakah solusinya? Terimakasih.

Ratna, perempuan, 27 tahun, menikah, tinggi badan : 155 cm, berat
badan : 55 kg, email: p_ratna_p@yahoo.com

Ratna (Wanita Menikah 27 Tahun)
p_XXX@yahoo.com
Tinggi 155 cm dan Berat 55 kg

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Jawaban:

Terimakasih atas kepercayaannya kepada kami.

Diagnosis kegemukan ditegakkan berdasarkan BMI atau Body Mass Index (Indeks Massa Tubuh, IMT). Cara mudah untuk mengukur BMI adalah dengan cara seperti berikut ini:

1. Ukur berat badan [BB] seseorang (dalam Kilogram).
2. Ukur tinggi badan [TB] seseorang (dalam meter).
3. Kuadratkan TB. (TB x TB dalam meter)
4. BMI didapatkan dengan hasil bagi BB dengan kuadrat TB.

BMI = BB (dalam Kilogram) dibagi dengan TB kuadrat (dalam meter)

Menurut WHO (World Health Organization) dan The National Heart, Lung,
and Blood Institute:

Normal: 18,5 sampai 24,9 kg/m2
Overweight: 25 sampai 29,9 kg/m2
Obesitas: lebih dari 30 kg/m2

Sedangkan Kriteria Asia-Oceania sedikit berbeda:

Normal: 18,5 hingga 22,9 kg/m2
Overweight: 23 hingga 24,9 kg/m2
Obesitas: lebih dari 25 kg/m2

Kriteria di atas ditambahkan oleh National Institutes of Health yang mendefinisikan sbb:

Morbid obesity (kegemukan tak wajar):

a. BMI 35 kg/m2 atau lebih tinggi dapat disertai dengan berbagai kondisi atau keadaan penyerta obesitas yang berat.
b. BMI 40 kg/m2 atau lebih tinggi tanpa gangguan/penyakit penyerta (comorbidity).

Dengan BMI yang sama, kadar lemak tubuh sekitar 12% lebih tinggi pada wanita dibandingkan dengan pria.

Nah, kembali ke pokok permasalahan. Suami ibu Ratna memiliki BB: 89 Kg dan TB:1,76 meter, maka BMI adalah:

89 dibagi (1,76)kuadrat = 28,732 Kg/m2

Nilai 28,732 Kg/m2 termasuk obesitas menurut Kriteria Asia-Oceania dan overweight menurut WHO (World Health Organization) dan The National Heart, Lung, and Blood Institute.

Sekadar tambahan, obesitas (kegemukan) bertanggung jawab atas 30 ribu kematian per tahun di Inggris. Prevalensi (angka kejadian) di USA meningkat dari 15% di tahun 1980 menjadi 32% di tahun 2004. Di Indonesia, angka obesitas juga cenderung meningkat, terutama pada anak-anak dan mereka yang berpola hidup kurang sehat.

Komorbiditas (penyerta)

Sekadar diketahui, komorbiditas obesitas adalah:

1. Diabetes melitus (kencing manis) tipe 2
2. Dislipidemia (elevated triglyceride and reduced high-density lipoprotein [HDL] levels)
3. Peningkatan tekanan darah
4. Meningkatnya risiko menuju penyakit jantung dan pembuluh darah (cardiovascular atherosclerotic disease).

Komplikasi

Obesitas ini harus segera diatasi, sebab bila tidak, maka dapat terjadi komplikasi sbb:

1. Hipertensi intrakranial
2. Stroke
3. Katarak
4. Penyakit paru-paru
5. Penyakit jantung koroner
6. Penyakit perlemakan hati (sirosis hepatis, steatosis, steatohepatitis)
7. Radang pankreas berat
8. Penyakit kandung kemih
9. Pada wanita dapat terjadi kelainan ginekologi (misalnya: haid abnormal, sindrom ovarium polikistik, infertilitas)
10. Kanker (misalnya: payudara, uterus, cervix, kolon, esophagus, pankreas, ginjal, prostat)
11. Rematik atau radang sendi (misal: osteoartritis)
12. Gout (encok)
13. Phlebitis (kelainan pembuluh darah di kaki, berupa venous stasis).

Solusi

Berikut ini beberapa tips mencegah sekaligus 'mengobati' kegemukan:

1.Diet rendah karbohidrat 13 gram/hari selama 6 bulan. Tetaplah sarapan pagi.
2.Batasi intake (asupan/konsumsi) makanan yang mengandung gula.
3.Batasi minuman jenis soft drinks, buah dalam kaleng, serta kemasan sari buah (terutama yang berpengawet dan berasa manis).
4. Hindari tidur setelah makan. Bila benar-benar mengantuk, maka lebih baik tidur dalam posisi duduk. Boleh tidur setelah makan setelah 2-3 jam.
5. Waktu makan malam sebaiknya jam 5 sore, maksimal jam 7 malam.
6. Berpola tidur yang teratur dan berkualitas.
7. Sering-seringlah berolah raga, misal: lari pagi, berjalan kaki, jogging, senam aerobik, sit-up, push-up, berenang. Idealnya dilakukan 30 menit setiap pagi hari atau minimal seminggu tiga kali.
8. Perbanyak konsumsi beraneka buah (anggur, jeruk, apel, kiwi, pir, dsb), sayuran (terung, bayam, buncis, wortel, dsb).
9. Penderita dislipidemia dianjurkan melakukan diet rendah lemak.
10. Pemilihan obat atau tindakan operasi harus atas rekomendasi/persetujuan dokter.
11. Rutin kontrol ke dokter apakah ada hipertensi, dislipidemia, gangguan toleransi glukosa, atau sindrom metabolik.

Bila ternyata dokter curiga ada sindrom metabolik, maka dokter akan merekomendasikan pemeriksaan fisik dan penunjang berikut ini:

1.lingkar pinggang
2.tekanan darah
3.trigliserida
4.Cholesterol HDL
5.Cholesterol LDL
6.Apo B
7.Glukosa Puasa
8.Glukosa 2 jam PP
9.HbA1C
10.Adiponektin
11.Hs-CRP
12.NT-Pro BNP
13.Kreatinin
14.Mikroalbuminurin Kuantitatif
15.GPT
16.Kolagen tipe IV

Strategi di atas akan lebih efektif bila disertai mewaspadai obat-obat berikut ini yang berpotensi meningkatkan berat badan:

1. Amitriptyline
2. Carbamazepine
3. Clozapine
4. Cyproheptadine
5. Gabapentin
6. Glukokortikoid
7. Imipramine
8. Insulin
9. Kontrasepsi
10. Mirtazapine
11. Nortriptyline
12. Olanzepine
13. Paroxetine
14. Pizotifen
15. Propranolol
16. Quetiapine
17. Resperidone
18. Steroid progestasional
19. Sulfonylurea
20. Terazosin
21. Thiazolidinedione
22. Thioridazine
23. Valproate


Komunikasikanlah langsung ke dokter bila Anda penderita overweight atau obesitas, namun diberi resep obat di atas oleh dokter.

Strategi/tips di atas tentunya harus disertai dengan doa dan tawakal kepada Allah disertai memanajemen (mengelola) hati-pikiran, sebab hanya Dialah sebaik-baik sang Penyembuh.

Demikian penjelasan kami, semoga bermanfaat.

Salam SEHAT!

Dokter Dito Anurogo
Konsultan kesehatan detik.com, dokter online, penulis 12 buku.



(up/vit)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads