Suami di Jepang Kesemutan dan Sakit Kepala, Sakit Apa?

Suami di Jepang Kesemutan dan Sakit Kepala, Sakit Apa?

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Senin, 22 Apr 2013 13:31 WIB
Suami di Jepang Kesemutan dan Sakit Kepala, Sakit Apa?
Ilustrasi (dok: Thinkstock)
Jakarta -

Kalau boleh saya mau konsultasi buat suami saya yang sekarang berada di Jepang. Setelah 3 bulan, berada di Jepang, kok dia sering mengeluh sakit kepala dan tangannya sering kesemutan. Kadang sampai tidak bisa digerakkan kalau bangun tidur. Kira-kira kenapa ya dok? Apa pengaruh cuaca di sana yang dingin atau karena dia dalam area wifi tiap hari? Mohon jawabannya. Terimakasih.

Lely (Wanita menikah, 25 Tahun)
lely_XXX@yahoo.com
Tinggi 157 cm dan berat 55 kg

Jawaban:

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Terimakasih atas kepercayaannya kepada kami. Kami bersimpati dan berempati atas kondisi dan keadaan suami Ibu Lely Nursyifa .

Mari kita langsung menuju ke pokok permasalahan.

Dari kata kunci:

1. tangannya sering kesemutan. Terkadang sampai tidak bisa digerakkan saat bangun tidur.
2. sering mengeluh sakit kepala

Ada beberapa kemungkinan diagnosis, berdasarkan data singkat di atas:

1. spasmofilia (semacam kram hingga kaku otot)
2. hipokalsemia (penurunan kadar kalsium di dalam darah)
3. somatization disorders
4. allodynia
5. chronic fatigue syndrome
6. psikosomatis

Sedikit penjelasan, untuk spasmofilia ini biasanya sering tumpang tindih dengan penyakit lain, sehingga diagnosis pasti terkadang memerlukan waktu lama. Beberapa kondisi yang sering tumpang tindih itu antara lain:

a.gejala sindrom panik (sakit kepala, vertigo, cemas, takut, sesak nafas, dsb).
b.sindrom hiperventilasi kronis (menahun) dengan potret klinis: pusing, sesak nafas, denyut jantung cepat, nyeri dada, cemas, bahkan ada yang sampai pingsan.

Untuk memastikan diagnosis spasmofilia, perlu dilakukan pemeriksaan laboratorium (kalsium dan magnesium), biasanya keduanya di bawah normal, namun bisa juga normal. Pemeriksaan lainnya adalah EMG (elektromiografi).

Untuk gangguan somatisasi (somatization disorders), maka potret klinisnya (secara umum, baik pada pria dan wanita), antara lain:

1.gejala nyeri (ada empat atau lebih) berkaitan dengan beberapa tempat, yaitu: kepala, perut, punggung, sendi, anggota gerak tubuh (tangan dan/atau kaki), dada, atau rectum. Bisa juga berkaitan dengan fungsi tubuh seperti: menstruation (haid, datang bulan), persenggamaan (sexual intercourse), atau urination (berkemih).
2.Gejala gastrointestinal (lambung, usus, dan saluran pencernaan), dua atau lebih, tidak termasuk nyeri. Misalnya: mual, muntah (bukan selama kehamilan), kembung, diare, alergi atau tidak tahan terhadap makanan tertentu.
3.Gejala seksual (setidaknya satu, tidak termasuk nyeri), misalnya: tidak peduli terhadap urusan ranjang, asmara, alias enggan bercinta. Sulit ereksi atau ejakulasi. Haid yang tidak teratur. Banyak keluar darah saat haid. Sering muntah selama 9 bulan kehamilan.
4. Gejala pseudoneurologis (setidaknya satu), misalnya: kesemutan, mati rasa, gangguan keseimbangan atau koordinasi, otot lemah atau lumpuh, halusinasi, gangguan menelan, leher bengkak, hilang suara, sulit kencing, melihat berbayang atau dobel, penglihatan kabur hingga kebutaan, pendengaran berkurang hingga ketulian, kejang, hilang ingatan (amnesia), hilang kesadaran, dsb.

Adapun untuk sakit kepala, karena belum spesifik dan data yang kami terima belum lengkap, maka kami hanya memperkirakan beberapa kemungkinan diagnosis akibat sakit kepala:

1.Tension Type Headache (TTH)
Solusi TTH cukup sederhana, cukup dengan relaksasi, pemberian obat golongan NSAID, diberi obat pelemas otot (muscle relaxant), terapi pijat (therapeutic massage), atau teknik biofeedback.
2.Vertigo
3.Somatoform Disorder
4.Migraine Headaches (migraine sendiri ini banyak sekali tipe/jenisnya, antara lain: migren klasik, Basilar Migraines, Bickerstaff’s migraine, Ophthhalmoplegic Migraine, Carotidynia, dsb)
5.Cluster Headache
6. Posttraumatic Headache (biasanya ada riwayat jatuh, cedera kepala, leher, dan berat-ringannya penyakit tidak berkorelasi dengan tanda-tanda klinis. Sebagian kasus bisa tanpa disertai gejala)
7. Depressed Mood
8.Beragam tipe penyakit peradangan atau infeksi sistemik biasanya disertai sakit kepala dan demam.

Oh iya, ibu Lely Nursyifa belum menyebutkan secara detail kapan waktu terjadinya sakit kepala ini. Kalau sakit kepala berlangsung di pagi hari (early morning headache) maka ada kemungkinan menuju kondisi berikut:

1.Nocturnal hypoglycemia pada diabetis melitus (kencing manis) atau
2.Nocturnal hypoxemia pada penderita dengan sleep apnea.

Terus terang, kami belum berani memastikan adakah hubungan kesemutan dan sakit kepala pada suami ibu Lely Nursyifa dengan pengaruh cuaca (dingin di Jepang) dan pengaruh gelombang elektromagnetis (di area wifi tempatnya bekerja).

Untuk lebih memastikan, silakan berkonsultasi ke dokter terdekat, untuk dilakukan pemeriksaan yang komprehensif.

Demikian penjelasan ini semoga bermanfaat.

Dokter Dito Anurogo
Dokter online, konsultan Detik.com, penulis buku, pemerhati hematopsikiatri, neuroscience, farmakogenetik-farmakogenomik.

(up/vit)

Berita Terkait