Remaja yang Mengeluh Pembuluh Darah Melebar dan Menonjol

Remaja yang Mengeluh Pembuluh Darah Melebar dan Menonjol

Suherni Sulaeman - detikHealth
Jumat, 21 Jun 2013 14:16 WIB
Remaja yang Mengeluh Pembuluh Darah Melebar dan Menonjol
Ilustrasi (Foto: thinkstock)
Jakarta - Dok, saya remaja berusia 16 tahun yang memiliki masalah dengan melebar dan menonjolnya pembuluh darah, terutama di kaki dan lengan bagian bawah. Gejalanya hampir mirip dengan varises, hanya saja tidak terlalu berkelok-kelok. Biasanya muncul di saat habis olahraga/cuaca panas, kemudian warna kulit lengan dan kaki berubah menjadi agak lebih gelap dan panas, rasanya juga agak sedikit kaku dan berat saat muncul.

Saya perhatikan sejak pertama kali muncul pembuluh darahnya semakin banyak yang menggelembung/menonjol. Orang tua saya mengatakan ini karena saya dulu suka sekali beraktivitas secara berlebih. Saya sudah konsultasikan ke dokter tapi mereka berkata ini bukan varises. Lalu, ini penyakit atau kelainan apa, Dok? Apakah jika ini memang bukan varises, apakah ada cara untuk menyembuhkannya? Terimakasih.

Erdian (Pria lajang, 16 tahun)
waynestXXXXX@gmail.com
Tinggi badan 170 cm, berat badan 50 kg

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Jawaban

Dear Erdian yang cerdas, kami turut berempati dengan kondisi yang sedang Erdian alami.

Sebelum ke pembahasan inti, marilah kita ketahui apakah itu varises. Varises (varicose veins) adalah pembuluh darah vena yang membesar, membengkak, dan berkelok-kelok, biasanya berwarna biru atau ungu gelap. Umumnya dijumpai di bagian permukaan anggota gerak bagian bawah (kaki).

Meskipun demikian, varises juga bisa dijumpai pada vulva (organ genitalia eksterna wanita), spermatic cords ('tali penggantung/pengikat kantung sperma'. Varisesnya berupa varikokel), rektum (varisesnya berupa wasir, ambeien atau hemorrhoids), dan esofagus (varisesnya berupa esophageal varices).

Epidemiologi
Prevalensi (angka kejadian) global varises adalah 7%. Untuk kasus insufisiensi vena kronis, prevalensinya 0,86% dengan 0,48% disertai luka (ulcer). Insiden (kasus baru per tahun) mencapai 0,22% untuk varises dan 0,18% untuk insufisiensi vena kronis.

Referensi lain menyebutkan varises dijumpai pada 20-25% wanita dewasa dan 10-15% pria di negara-negara barat.

Menurut studi Framingham, kejadian varises lebih sering dialami wanita daripada pria. Namun demikian pria yang menderita varises berkaitan erat dengan sedikitnya aktivitas fisik yang dilakukan dan ada kaitannya dengan kejadian merokok. Pria yang menderita varises berkecenderungan lebih tinggi menderita penyakit jantung (atherosclerotic cardiovascular disease) dibandingkan dengan pria normal.

Faktor risiko terjadinya varises berdasarkan riset National Health Service di Inggris adalah jenis kelamin perempuan, meningkatnya usia, kehamilan, daerah geografis, ras. Belum ditemukan bukti bahwa riwayat keluarga atau pekerjaan adalah faktor risiko. Yang unik dari studi ini adalah obesitas (kegemukan) tidak menambah risiko terjadinya varises.

Dari studi ini juga diketahui ternyata setengah populasi dewasa memiliki minor stigmata tentang penyakit pembuluh darah vena (wanita 50-55 persen, pria 40-50 persen) namun kurang dari setengah jumlah ini memiliki varises yang jelas terlihat (wanita 20-25 persen, pria 10-15 persen).

Etiologi
Penyebab (etiology) varises adalah multifaktor. Beberapa di antaranya:

1. Meningkatnya tekanan intravena yang disebabkan oleh posisi berdiri yang lama. 2. Meningkatnya tekanan di dalam perut (intra-abdominal pressure) yang muncul karena tumor (benjolan), kehamilan, kegemukan (obesitas), atau sulit buang air besar dalam jangka waktu lama. 3. Faktor bawaan (kongenital) dan ada keluarga yang menderita varises (familial). Namun beberapa ahli membantah hipotesis ini. 4. Vaskularisasi sekunder yang disebabkan oleh kondisi deep venous thrombosis atau arteriovenous shunting. Yang disebut terakhir jarang dijumpai dalam praktik. 5. Kuatnya tenaga/daya robekan (shear forces) dan peradangan (inflamasi) adalah penyebab terpenting untuk penyakit-penyakit pembuluh darah vena.

Potret Klinis
Tanda dan gejala varises bervariasi, mulai dari tanpa gejala hingga disertai komplikasi seperti munculnya luka/borok (venous ulcer), perdarahan, dan thrombophlebitis. Gejala tersering adalah kaki terasa berat. Gejala-tanda lainnya seperti: gatal, sakit, kram, bengkak, rasa/sensasi terbakar, (mudah) merasa lelah (terutama bila berjalan kaki jarak jauh), warna kulit berubah (pigmentasi), eksim, luka (ulcer), keluhan kosmetik, perdarahan, tromboflebitis. Sedangkan deep vein thrombosis dan emboli paru-paru jarang dijumpai pada penderita varises.

Diagnosis
Bagaimana dokter beserta tim medis menegakkan diagnosis varises? Penderita varises akan menjalani pemeriksaan fisik, sebelum didiagnosis varises, misalnya: 1. tes batuk (cough test) 2. tes tap 3. tes Trendelenberg 4. tes Perthes

Namun, riset yang dilakukan oleh Kim J dkk (2000) membuktikan bahwa penilaian (assessment) menggunakan hand-held Doppler lebih akurat daripada keempat tes di atas. Meskipun demikian, keempat tes di atas masih dipergunakan oleh beberapa klinisi medis.

Literatur lain menyebutkan bahwa penilaian varises dilakukan dokter beserta tim medis menggunakan klasifikasi Anatomical and pathological (CEAP). Diagnosis dikonfirmasi dengan Duplex ultrasonography. Adapun penilaian varises paling sederhana adalah menggunakan kombinasi tes tourniquet dan hand-held doppler probe.

Inovasi terbaru untuk menegakkan kriteria varises serta melakukan terapi, maka dokter akan menggunakan pedoman (guideline) tahun 2012 yang direkomendasikan oleh American Venous Forum dan Society for Vascular Surgery. Pedoman ini berisi rekomendasi tentang evaluasi, klasifikasi, penilaian hasil dan terapi penderita varises dan kasus chronic venous insufficiency tahap lanjutan.

Diagnosis Banding
Varises memang unik dan penuh misteri. Sebab terkadang dapat mirip atau menyerupai kondisi, gangguan, atau penyakit berikut ini:

1. Cellulitis 2. Sindrom Osler-Weber-Rendu 3. Dermatitis stasis 4. Tumor perut (abdominal tumor) 5. Deep venous thrombosis 6. Sindrom Klippel-Trénaunay 7. Telangiectasias (spider veins) 8.Reticular veins

Jadi, bila menurut awam itu varises, maka boleh jadi bukan varises menurut dokter. Karena dokter mempertimbangkan banyak hal (anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang, dsb) secara komprehensif sebelum memastikan diagnosis varises.

Pencitraan
Pemeriksaan pencitraan (imaging) diperlukan terutama pada penderita varises yang gemuk atau dengan gejala berat. Pencitraan yang dapat direkomendasikan antara lain:

1. Duplex Doppler ultrasonography 2. Venography 3. Light reflex rheography 4. Ambulatory venous pressure 5. Photoplethysmography 6. Air plethysmography 7. Foot volumetry.

Terapi
Beberapa terapi konservatif varises antara lain: kompresi (menggunakan stocking), elevasi (meninggikan kaki yang menderita varises), modifikasi gaya hidup (menghindari berdiri terlalu lama, berolahraga, melonggarkan pakaian yang ketat, modifikasi faktor risiko pencetus penyakit jantung dan pembuluh darah), menurunkan berat badan bagi penderita varises yang gemuk (obesitas). Terapi lainnya adalah terapi intervensi atau endovenous, seperti: obliterasi endovena, terapi laser eksterna, skleroterapi. Operasi dengan ligasi, flebektomi, dan stripping dapat direkomendasikan oleh dokter spesialis.

Pembedahan
Teknik pembedahan (operasi) direkomendasikan oleh dokter sesuai indikasi. Kontraindikasi absolut dilakukan operasi varises (varicose vein surgery) adalah bila dijumpai deep vein thrombosis.

Berikut ini beberapa pilihan metode/teknik operasi yang direkomendasikan oleh dokter antara lain:
1. Kombinasi Trendelenburg’s operation, stripping, dan sub fascial ligation 2. Kombinasi Trendelenburg’s operation dengan stripping 3. Sub fascial ligation

Beberapa teknik baru juga dapat direkomendasikan oleh dokter spesialis, seperti:
4. Radio frequency ablation (RFA) 5.Endovenous laser treatment (EVLT) 6. Transilluminated powered phlebectomy (TIPP) 7. Stab avulsion phlebectomy

Pencegahan
Untuk mencegah terjadinya varises bagi orang normal serta agar varises tidak menjadi bertambah berat bagi penderita, maka dianjurkan untuk melakukan:
1. Pola hidup sehat dan seimbang.2. Olahraga secara rutin dan teratur.3. Pengendalian berat badan agar tidak obesitas.4. Pengendalian semua faktor risiko yang menyebabkan terjadinya penyakit jantung.

Demikian penjelasan kami. Semoga bermanfaat.

Salam sehat dan sukses selalu!

Dito Anurogo
Dokter online, konsultan kesehatan detik.com, penulis 12 buku, mengabdi dan berkarya di Neuroscience department, Brain and Circulation Institute of Indonesia, Surya University.

(hrn/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads