Jaka Hartaya (Laki-laki menikah, 43 tahun)
jakaXXXXX@yahoo.co.id
Tinggi badan 172 cm, berat badan 68 kg
Jawaban
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mungkin anak Anda ada masalah traumatik dengan nasi dan sayur. Misalnya sewaktu masih kecil, masih belajar makan ada yang memaksakan dia untuk terus makan nasi dan/atau sayur walaupun dia sudah menolak, sudah kenyang atau memang tidak mau. Atau bisa juga pernah tersedak saat makan sehingga jadi takut lalu menimbulkan efek psikologis yaitu rasa mual dan mau muntah.
Menghadapi masalah seperti ini harus bersabar dan tidak bisa memaksakan karena nanti semakin trauma anak terhadap makanan. Beberapa cara yang dapat saya sarankan:
- ubah tekstur nasi, misal jadi lebih lembek atau sebagai bubur sekalian.
Sebenarnya tidak makan nasi juga tidak apa asal ada sumber karbohidrat lain seperti roti, mie, bihun ataupun kentang.
- selipkan sayur sebagai bahan pembuat makanan, tidak disajikan utuh. Misalnya membuat kroket atau chicken nugget di rumah lalu diselipkan cincangan brokoli, wortel, bayam. Bisa juga membuat masakan panggang seperti macaronni schotel/lasagna lalu diselipkan wortel parut, kentang parut, brokoli blender agar menyatu dengan sausnya jadi pasti termakan. Ide lain adalah membuat sup sayuran seperti mushroom soup, pumpkin soup, minestrone soup.
Untuk sementara waktu sampai konsumsi sayur bisa terbina, saya sarankan minum multivitamin. Jika ada kesulitan BAB bisa ditambah serat bubuk 1-2x/minggu.
Leona Victoria Djajadi MND
Master of Nutrition and Dietetics (Ahli Gizi) dari University of Sydney. Dengan minat khusus pada program diet untuk oncology, cardiology, diabetes, gastrointestinal and life modification program diets. Follow twitter @Leona_victoria.
(hrn/vit)











































