Benjolan di Anus, Periksa ke Dokter Bedah atau Dokter Penyakit Dalam?

Benjolan di Anus, Periksa ke Dokter Bedah atau Dokter Penyakit Dalam?

Suherni Sulaeman - detikHealth
Jumat, 04 Okt 2013 14:15 WIB
Benjolan di Anus, Periksa ke Dokter Bedah atau Dokter Penyakit Dalam?
Ilustrasi (Foto: thinkstock)
Jakarta - Dokter Dito, saya mau bertanya. Sudah beberapa bulan ini terdapat benjolan di anus. Benjolannya lunak dan tidak nyeri, kecuali saat buang air besar keras. Beberapa hari ini timbul lagi benjolan baru antara vagina dan anus. Bagaimana diagnosisnya, dok? Lalu saya harus periksa ke dokter bedah atau dokter penyakit dalam, dok?

Indie (Wanita lajang, 20 tahun)
indie_XXXXXX@rocketmail.com
Tinggi badan 163 cm, berat badan 76 kg

Jawaban

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dear Indie, terimakasih atas kepercayaannya kepada kami.

Dari penjelasan Indie di atas, kami menemukan ada beberapa hal:
1. benjolan di anus,
2. lunak dan tidak nyeri,
3. benjolan mengeras saat buang air besar,
4. timbul lagi benjolan baru antara anus dan vagina.

Perlu diketahui, di dalam memeriksa pasien atau penderita, seorang dokter wajib melakukan:
1. anamnesis,
2. pemeriksaan fisik,
3. pemeriksaan penunjang,
4. melakukan diagnosis banding,
5. memastikan atau menegakkan diagnosis,
6. memberikan penatalaksanaan sesuai indikasi,
7. memberikan edukasi dan follow up paskaterapi.

Seorang dokter haruslah berpikir dan bertindak secara profesional, komprehensif, berkesinambungan agar terapi yang berikan pun dapat paripurna. Namun tidaklah mengapa, kami tetap akan jelaskan sesuai keilmuan dan kompetensi yang kami miliki.

Dari data dan fakta yang 'minimalis' di atas, kami hanya dapat menduga beberapa kemungkinan diagnosis:
1. suspek hemoroid
2. polip pedunculated
3. abses perianal
4. fistula anal
5. anal fissures
6. prolaps rektal
7. proktitis
8. kondiloma akuminata
9. tumor kolorektal
10. kanker anus
11. pruritus ani

Dari 11 diagnosis banding di atas, maka kemungkinan terbesar adalah suspek hemoroid atau yang biasa diistilahkan masyarakat awam sebagai wasir.

Wasir biasa disebut juga ambeien, hemorrhoids (hemoroid), pile. Menurut medis, wasir adalah struktur pembuluh darah (vaskuler) yang normal di saluran anus. Secara garis besar, wasir dibagi dua, yaitu: wasir luar (hemoroid eksterna) dan wasir dalam (hemoroid interna).

Bedanya kalau wasir luar biasa menyerang anus. Berwarna biru – ungu. Biasanya terasa sakit, nyeri, (sedikit) gatal. Jika terdorong keluar oleh tinja, maka wasir ini menyebabkan penggumpalan (trombosis).

Pada wasir dalam, berwarna merah muda, ada pembengkakan di dalam rektum, tidak terlihat dan sulit diraba, kecuali oleh dokter dengan anuskopi.

Potret klinis wasir antara lain:
1. perdarahan
2. gatal
3. penonjolan
4. nyeri karena thrombosis

Potret klinis ini tidak harus ada semuanya, karena dipengaruhi banyak faktor, salah satunya stadium atau derajat keparahan wasir. Pada stadium dini atau awal, penderita bahkan tidak menyadari kalau sudah menderita wasir.

Untuk memastikan diagnosis, dokter perlu melakukan pemeriksaan fisik berupa rektal tussae (meng-observasi dan memeriksa anus dengan jari dalam kondisi memakai sarung tangan).

Kemudian dilakukan pemeriksaan penunjang, yaitu menggunakan peralatan canggih, antara lain:
1. sigmoidoskopi fleksibel
2. anoskopi
3. kolonoskopi

Pemeriksaan penunjang dengan peralatan canggih di atas dilakukan terutama pada penderita yang disertai perdarahan.

Untuk kolonoskopi, umumnya direkomendasikan pada penderita usia lanjut untuk membedakannya dengan penyakit pokok/mendasar lainnya yang lebih serius (misalnya: kanker anus).

Kami rekomendasikan agar saudari Indie segera periksa ke dokter umum di Puskesmas terdekat atau ke dokter keluarga.

Sekadar diketahui, diagnosis 'hemorrhoids' ini sudah tercantum di dalam 'Standar Kompetensi Dokter' yang diterbitkan resmi oleh Konsil Kedokteran Indonesia, sejak tahun 2006 yang lalu.

Tingkat kemampuan untuk diagnosis 'hemorrhoids' adalah 3A, yang berarti bahwa dokter umum di layanan primer (Puskesmas, dsb) berkompeten dan mampu membuat diagnosis klinik berdasarkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan pemeriksaan tambahan yang diminta oleh dokter (misalnya : pemeriksaan laboratorium sederhana atau X-ray). Dokter dapat memutuskan dan memberi terapi pendahuluan, serta merujuk ke spesialis yang relevan (bukan kasus gawat darurat).

Jadi, dokter umum masa kini, terutama yang memberikan pelayanan primer kepada masyarakat, telah menguasai 290 kompetensi diagnosis. Hal ini juga telah ditegaskan oleh wakil menteri kesehatan, Prof. Ali Gusfron Mukti.

Demikian penjelasan ini, semoga memberikan solusi.

Salam sehat dan sukses selalu!

Dokter Dito Anurogo

Pelopor dokter online (dokter digital), konsultan detik.com, penemu konsep hematopsikiatri, penulis 13 buku, salah satunya “5 Menit Memahami 55 Problematika Kesehatan”. Juara pertama kompetisi “2013 World Young Doctors’ Organization (WYDO) Indonesia Essay Contest Award”.

Penggagas dan pelopor konsep neuroedutainment (cara asyik dan mudah memahami medis, neurosains, dan neurologi) melalui permainan Brain Card Games (BCG).

Saat ini mengabdi dan berkarya di Neuroscience Department, Brain Circulation Institute of Indonesia, Surya University (BCII SU), Indonesia.

(hrn/vit)

Berita Terkait