Sering Merasa Gatal-gatal di Area Vagina

Sering Merasa Gatal-gatal di Area Vagina

Suherni Sulaeman - detikHealth
Jumat, 18 Okt 2013 12:45 WIB
Sering Merasa Gatal-gatal di Area Vagina
Ilustrasi (Foto: thinkstock)
Jakarta - Hampir 2 minggu ini saya sering mengalami gatal-gatal di area vagina bagian luar, apalagi kalau menjelang malam gatalnya mulai terasa. Apalagi kalau habis buang air kecil dan kena air biasanya gatalnya langsung datang lagi dan bawaannya mau digaruk terus.

Saya sudah pakai lactacyd untuk membersihkan area vagina saya tapi tetap saja rasa gatal itu datang lagi setelah 3 jam penggunaan. Mohon petunjuk mesti bagaimana agar tiap malam rasa gatalnya tidak datang lagi? Terimakasih atas jawabannya.

Arfiani (Perempuan menikah, 32 tahun)
alfan@XXXXXX.co.id
Tinggi badan 157 cm, berat badan 68 kg

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Jawaban

Dear saudari Arfiani, terimakasih atas kepercayaan kepada kami.

Dari pertanyaan di atas, kami menemukan beberapa petunjuk inti, yakni:
1. Gatal di area vagina bagian luar.
2. Gatal sudah berlangsung 2 minggu.
3. Gatal terutama dirasakan malam hari.

Dari petunjuk yang amat singkat dan minimalis ini, ada kemungkinan mengarah ke:
1. Vaginitis
2. Vaginitis et causa candida albicans (monilia)
3. Vulvovaginitis
4. Tinea cruris
5. Herpes genitalis
6. Herpes simplex
7. Condylomata acuminata
8. Warts (kutil)
9. Skabies
10. Pedikulosis pubis

Baiklah, akan kami uraikan beberapa diantaranya, yaitu: vaginitis, infeksi Candida, dan trikomoniasis.

Vaginitis
Vaginitis ini mencakup beberapa diagnosis yang lebih spesifik, misalnya:
1. Bacterial vaginosis (akibat bakteri)
2. Vulvovaginal candidiasis (akibat jamur)
3. Dermatitis kontak iritan atau DKI (biasanya karena sabun, tampon, douching, pakaian ketat, dsb)
4. Dermatitis kontak alergika (mirip DKI, namun disertai riwayat atopik atau alergi)
5. Trikomoniasis
6. Vaginitis atrofi (biasa dijumpai pada usia lanjut, wanita yang sudah menopause, kekurangan estrogen, gangguan imunologis, gangguan endokrin, riwayat kemoterapi, dsb)

Infeksi Candida
Gejala khas infeksi Candida yang paling sering muncul adalah gatal (vulvar pruritus) yang paling dirasakan di malam hari dan sebelum haid atau menstruasi. Beberapa penderita juga dapat mengeluhkan nyeri saat kencing (disuria). Beberapa bahkan berpotensi atau dapat berkembang menjadi nyeri saat bersenggama (dispareunia) yang kronis.

Trikomoniasis
Untuk trikomoniasis (infeksi karena Trichomonas), tanda dan gejalanya tidak khas, tidak spesifik, dan seringkali menyerupai bakterial vaginosis.

Beberapa data yang diperlukan untuk menegakkan diagnosis vaginitis antara lain (berdasarkan American Academy of Family Physicians, 2011)
1. Apa pekerjaan saudari saat ini?
2. Apakah disertai keputihan?
3. Apakah disertai keluarnya cairan? Berbau? Berwarna apa?
4. Apakah memiliki riwayat kencing manis yang tak terkendali?
5. Bagaimana dengan keluarga, baik dari pihak ayah, ibu, paman, pak de, nenek, dsb, adakah yang menderita kencing manis?
6. Seberapa sering menggunakan antibiotik (sistemik atau spektrum luas)?
7. Pernah melakukan vaginal douching? Jika ya, seberapa sering?
8. Bagaimana cara saudari membersihkan vagina? Dengan sabun, sirih, atau pembersih lainnya?
9. Adakah riwayat alergi obat tertentu, bersin-bersin di pagi hari, menderita asma, alergi makanan tertentu (ikan laut, udang, dsb)
10. Bagaimana pakaian dalam (terutama celana dalam, stocking, dsb) yang digunakan, apakah ketat? Maaf, kalau malam hari, apakah tetap menggunakan pakaian dalam yang ketat?
11. Adakah kelainan kulit (lesi) yang menyertai gatal?
12. Apakah rasa gatal disertai bersisik?
13. Maaf, saudari apakah merokok?
14. Maaf, menggunakan alat kontrasepsi apa sekarang?
15. Apakah rasa gatal disertai nyeri, perih, panas, dan/atau kemeng?
16. Adakah larutan antiseptik atau obat tertentu yang saudari gunakan untuk menjaga kebersihan daerah vagina?
17. Maaf, ada riwayat atau pernah menderita penyakit menular seksual?

Untuk memastikan diagnosis, biasanya dokter akan melakukan:
1. anamnesis secara holistik dan komprehensif dengan pendekatan simtomatologi (tanda dan gejala yang dirasakan penderita).
2. melakukan pemeriksaan fisik
3. merekomendasikan pemeriksaan penunjang atau laboratorium sesuai indikasi (misalnya: pH cairan vagina, kultur jamur, pemeriksaan secara mikroskopik, tes whiff, Polymerase chain reaction, kriteria Amsel, dsb)
4. membuat diagnosis banding.
5. menegakkan diagnosis.
6. memberikan penatalaksanaan berupa terapi, edukasi, termasuk upaya preventif.
7. melakukan follow-up (monitoring) hingga penderita sembuh.

Solusi

1. Menjaga kebersihan daerah vagina, misalnya: saat mencuci, yang benar dari depan (vagina) ke arah anus, bukan sebaliknya. Bila menggunakan larutan antiseptik tertentu, misalnya untuk vaginal douching, maka perhatikan kandungan, bahan aktif, atau zatnya. Lebih aman berkonsultasi ke dokter sebelum memakai, jangan mudah terbujuk iklan atau rekomendasi teman.
2. Memakai pakaian dalam yang nyaman dan bahannya yang tidak mengiritasi kulit.
3. Gaya hidup sehat dan seimbang, baik jasmani maupun ruhani.
4. Perbanyak konsumsi buah dan sayur. Diet 4 sehat 5 sempurna.
5. Pemberian terapi (oral-topikal) sesuai indikasi hanya boleh direkomendasikan oleh dokter, mengingat beragam efek samping yang mungkin timbul.

Demikian penjelasan kami. Semoga memberikan solusi.

Salam sehat dan sukses selalu!

Dokter Dito Anurogo

Pelopor dokter online (dokter digital), konsultan detik.com, penemu konsep hematopsikiatri, penulis 13 buku, salah satunya “5 Menit Memahami 55 Problematika Kesehatan”. Juara pertama kompetisi “2013 World Young Doctors’ Organization (WYDO) Indonesia Essay Contest Award”.

Penggagas dan pelopor konsep neuroedutainment (cara asyik dan mudah memahami medis, neurosains, dan neurologi) melalui permainan Brain Card Games (BCG).

Saat ini mengabdi dan berkarya di Neuroscience Department, Brain Circulation Institute of Indonesia, Surya University (BCII SU), Indonesia.

(hrn/vta)

Berita Terkait