Rabu, 13 Nov 2013 14:15 WIB

Menjalin Hubungan dengan Pasien Bipolar

Ilustrasi (Foto: thinkstock) Ilustrasi (Foto: thinkstock)
Jakarta - Dokter, partner saya adalah penderita bipolar dan scizophrenia afektif. Kami sudah berhubungan hampir 2 tahun dan dalam kurun waktu itu sudah 3 kali tiba-tiba tanpa sebab yang jelas, dia minta putus hubungan dengan saya. Untuk kedua kali sebelumnya saya masih bisa antisipasi dan kami berbaikan kembali. Tetapi untuk yang ketiga kalinya dia semakin emosi dan bersikukuh untuk putus hubungan dengan saya dengan mengatakan bahwa kita berbeda tujuan.

Saya tidak mengerti kenapa karena malam sebelumnya kita masih baik-baik saja. Saya khawatir dia relapsed. Jadi saya berusaha untuk membawa dia ke jalur yang normal tapi dia semakin marah dengan saya dan saya diminta konsultasi dengan psikiater dan melepaskan dia. Saya tidak tahu apa lagi yang bisa saya perbuat. Dan saya untuk sementara ini hanya ikutin dia aja dan saya masih tetap sayang sama dia dan dia boleh hubungi saya kapanpun dia perlu.

Saya mohon saran dari dokter bagaimana saya harus merespon kemarahan and sikap negatif dia yang ekstrim terhadap saya itu. Sekarang ini seakan-akan saya adalah orang menurut dia. Saya masih mau mempertahankan hubungan kami karena saya juga kasihan sama dia. Dan apakah respon saya sudah benar kemarin? Apakah dia bisa kembali stabil mood dan emosinya? Butuh berapa lama untuk dia kembali stabil? Terimakasih.

Angela (Wanita lajang, 42 tahun)
angela_XXXXXX@ymail.com
Tinggi badan 167 cm, berat badan 58 kg

Jawaban

Dear Mbak Angela,

Menjalin hubungan dengan pasien bipolar ataupun skizoafektif memang butuh cara khusus saat kondisinya sedang tidak stabil. Kalau pasangan kita mengalami gangguan jiwa jenis ini, bekali diri kita dengan informasi yang cukup dulu agar kita bisa lebih memahami dan bisa berempati dengan kondisi pasangan kita.

Pengetahuan yang cukup juga bisa membuat kita lebih mampu menjadi 'caregiver' bagi pasangan yang mengalami masalah kesehatan jiwa. Salah satu yang paling penting adalah bagaimana kita bisa untuk mendukung upaya pengobatan pasangan kita. Sering kali gejala muncul disebabkan karena pengobatan tidak teratur.

Motivasi untuk berobat juga perlu didukung karena kadang mereka merasa bosan makan obat terus menerus. Jika sudah marah dan mempunyai sikap negatif, cara paling baik adalah memahami kondisi itu tanpa perlu terlibat secara emosional berlebihan dengan kondisi ini.

Pasien juga biasanya membutuhkan obat sepanjang hidupnya untuk membantu mengontrol emosinya. Semoga bermanfaat.

Dr. Elly Ingkiriwang, SpKJ
Psikiater di Psychiatric Clinic, Royal Progress International Hospital, Danau Sunter Utara, Sunter Paradise I, Jakarta 14350. Serta Staf pengajar di Jurusan Kesehatan Mental Fakultas Kedokteran Ukrida Jakarta.

(hrn/vit)