Apa ada hubungannya dengan hubungan intim saya dengan suami? Karena terkadang saya mengalami sakit kencing setelah berhubungan, dan di hari-hari biasa kandung kemih terasa tidak nyaman. Mohon solusinya, Dok. Terimakasih.
Dee May (Wanita lajang, 26 tahun)
diniXXXXXX@gmail.com
Tinggi badan 159 cm, berat badan 48 kg
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Salam sehat, Dee May!
Terimakasih atas kepercayaannya kepada kami.
Ada beberapa petunjuk kunci terkait dengan kondisi Dee May, yaitu:
1. Pagi hari saat ingin berkemih, warna urin berubah cokelat kemerahan.
2. Terkadang sakit kencing setelah berseraga.
Tentang 'warna urin berubah cokelat kemerahan di pagi hari saat ingin berkemih' maka ada kemungkinan terjadi infeksi saluran kemih. Perlu diketahui pula, berubahnya warna urin menjadi cokelat kemerahan di dalam dunia kedokteran disebut sebagai hematuria (sering juga disebut 'kencing darah', meskipun terminologi ini sebenarnya kurang tepat).
Hematuria adalah keberadaan abnormal sel-sel darah merah (eritrosit) di urine.
Ada beberapa kemungkinan diagnosis terkait dengan hematuria:
1. Terkait dengan anatomi: kista ginjal, hidronefrosis, AVM.
2. Batu: batu ginjal, hypercalciuria.
3. Kanker: tumor Wilm, adenokarsinoma.
4. Infeksi: virus, bakteri, jamur.
5. Cedera saat berolahraga
6. Benda asing (familial): sindrom Alport
7. Glomerulonefritis
8. Hematologi: hemoglobinopati, koagulopati
Uniknya, selain hematuria, ada juga "kencing berdarah" yang disebut dengan red pigmenturia. Nah inilah beberapa kondisi tertentu yang juga menyebabkan kencing berwarna merah (red pigmenturia):
1. Sumber-sumber endogen, seperti: bilirubin, myoglobin, hemoglobin, porfirin.
2. Makanan tertentu, misalnya: rhubarb, blackberries, blueberries, paprika, beets, fava beans (semacam buncis), pewarna makanan artifisial.
3. Obat-obat tertentu, contohnya: adriamycin, chloroquine, cyclophosphamide, desferoxamine, levodopa, methyldopa, metronidazole, nitrofurantoin, prochlorperazine, phenazopyridine, phenolphthalein, quinine, rifampin, sulfonamide.
Perlu diketahui pula, hematuria ini dibagi menjadi dua, yaitu:
1. gross hematuria (macroscopic hematuria)
Disebut pula visible hematuria dapat sebagai hasil dari sedikitnya 1 mL darah di dalam 1 liter urin. Warna urin mungkin merah muda, merah, atau berwarna cola. Untuk memastikan, perlu dilakukan tes dipstick urin.
2. microscopic hematuria
Definisi menurut American Urological Association (AUA): terdapatnya tiga eritrosit per lapang pandang (3 RBCs/high-power field) pada pemeriksaan mikroskopik.
Dapat dipastikan dengan pemeriksaan laboratorium: studi koagulasi, erythrocyte sedimentation rate (laju endap darah), kreatinin, C-reactive protein. Kultur urin perlu dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya infeksi saluran kemih.
Lokasi kelainan hematuria (di ginjal) bisa dibedakan menjadi dua, yaitu:
1. Glomerular
Ciri khasnya: berwarna teh atau coklat, terdapat silinder eritrosit (RBC cast), cellular cast, terdapat di sel-sel tubular, nilai proteinuria lebih dari 2+, terdapat eritrosit dismorfik, volume eritrosit kurang dari 50 um3.
2. Non-glomerular
Ciri khasnya: urin berwarna merah-merah muda, ada gumpalan/bekuan darah, tidak ada proteinuria atau kurang dari 2, morfologi (bentuk) eritrosit normal, volume eritrosit lebih dari 50 um3.
Ada kemungkinan lokasi kelainan berada di glomerular, mengingat ada petunjuk
'warna urin berubah cokelat kemerahan'. Namun untuk lebih memastikan, silakan berkonsultasi ke dokter untuk dilakukan anamnesis komprehensif, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang demi kepastian diagnosis.
Terkait kondisi 'terkadang sakit kencing setelah berseraga', maka dapat dijelaskan sebagai berikut ini.
Banyak wanita yang merasa 'kebelet' (ingin sekali) kencing selama atau segera setelah berhubungan seksual. Hal ini berkaitan dengan kekakuan kerampang (bagian antara anus dan kelamin) dan nulliparity (kondisi belum pernah melahirkan), sehingga menyebabkan dinding posterior kandung kemih menjadi iritasi karena masuknya penis yang berkali-kali.
Nyeri kencing setelah berseraga (postcoital dysuria) dikenal sebagai honeymoon cystitis, dan seringkali diikuti dengan infeksi saluran kemih. Beragam organisme seolah dipijat menuju ke kandung kemih selama berseraga, dan jika organisme itu tidak dikosongkan (maksudnya: dibuang melalui berkemih) segera setelah berkembangbiak, maka tentunya menyebabkan infeksi.
Beberapa wanita memang rentan terkena infeksi saluran kemih. Mereka merasakan sensasi berkemih setelah kesulitan berseraga, mungkin karena tekanan intraurethral yang tinggi.
Solusinya:
1. Kosongkan kandung kemih sebelum berseraga.
2. Lakukan pemanasan (foreplay) sebelum berseraga.
3. Yang terpenting sebelum berseraga selain berdoa adalah berkomunikasi (intimate communication) atau disebut juga komunikasi seksual. Kunci dari komunikasi seksual adalah 3S: saling pengertian, saling setia, dan saling pengertian. Tidak boleh ada keterpaksaan dari salah satu pihak.
Komunikasi boleh verbal maupun non-verbal. Mengapa penting, karena kalau kedua belah pihak sudah siap maka proses berseraga ini akan berlangsung alami, tidak ada rasa sakit, tidak ada iritasi, dan yang terpenting adalah tidak ada infeksi.
4. Hindari anal sex (posisi berseraga dengan memasukkan penis ke anus) sebab anus adalah tempat para mikroorganisme berkumpul. Nah ini amat berpotensi terjadi infeksi.
5.Lakukan di tempat yang nyaman, diiringi musik klasik (atau musik natural, suara burung, gemericik aliran sungai, air terjun, dsb), udara sejuk, dan dilakukan dengan penuh kemesraan.
6. Kesehatan seksual juga dipengaruhi oleh kesehatan dan kebugaran jasmani serta ruhani. Sehingga keharmonisan dan keseimbangan di dalam pola kehidupan sehari-hari amatlah perlu diupayakan secara berkesinambungan.
Bila sudah melakukan tips di atas, namun masih merasakan sakit setelah berseraga, maka berkonsultasi ke dokter adalah langkah yang bijaksana.
Demikian penjelasan ini, semoga memberikan solusi.
Salam sehat dan sukses selalu!
Dokter Dito Anurogo
Dokter digital, penulis 14 buku. Bersama tim Surya University (Wasti Nurani) telah berhasil menjadi salah satu delegasi Indonesia di forum bergengsi “International Symposium: Integrating Research and Action on Dengue 2013” dengan karya tulis: (1) Aptamers as Novel Promising yet Potentially Affordable Therapeutics against Dengue Virus Infection, (2) Use of Aptamer as Novel Biosensor Agent in a Potentially Field-Applicable Dengue Virus Diagnostic Kit.
Saat ini mengabdi dan berkarya di Neuroscience Department, Brain Circulation Institute of Indonesia, Surya University (BCII SU), Indonesia.
(hrn/vit)











































