Hindari Risiko Bau Badan Meski Banyak Kegiatan

Hindari Risiko Bau Badan Meski Banyak Kegiatan

Suherni Sulaeman - detikHealth
Senin, 09 Des 2013 15:15 WIB
Hindari Risiko Bau Badan Meski Banyak Kegiatan
Ilustrasi (Foto: thinkstock)
Jakarta -

Saya ingin tanya apakah penggunaan cologne setiap hari itu diperbolehkan? Lalu bagaimana tips untuk membuat badan selalu beraroma segar walaupun banyak kegiatan (entah dengan parfum, dll)? Terimakasih atas jawabannya.

Eko (Pria lajang, 18 tahun)
gusdreamXXXXX@gmail.com
Tinggi badan 175 cm, berat badan 73 kg

Jawaban

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dear Eko, terimakasih atas kepercayaannya kepada kami. Langsung saja menuju inti permasalahan.

Penggunaan cologne diperbolehkan, sepanjang memperhatikan beragam zat, kandungan, komposisi atau ingredient yang ada di dalamnya. Sebab beberapa zat tertentu berpotensi menyebabkan dermatitis kontak alergi atau dermatitis kontak iritan.

Tips agar badan tetap beraroma segar dan wangi:
1. Mandi secara teratur.
2. Mencukur rambut ketiak secara berkala.
3. Penggunaan 'fragrant antiperspirants' adalah lini pertama untuk mengatasi bau badan. Hal ini efektif mengurangi volume berkeringat dan sekaligus sebagai antibakteri. Antiperspirants termasuk aluminum chloride (mengandung garam aluminium) mampu menghambat produksi keringat.
4. Berganti pakaian secara rutin, terutama bila berkeringat.
5. Beberapa deodoran mengandung antimikroba spesifik, berupa: ion-ion logam atau 'antimicrobial ceramics', termasuk zeolite antimicrobial ceramics dan calcium phosphate antimicrobial ceramics yang secara spesifik menghambat pertumbuhan bakteri di ketiak.
6. Penggunaan antibiotik topikal seperti clindamycin dan erythromycin serta sabun antiseptik secara klinis efektif menghambat pertumbuhan bakteri yang mendekomposisi sekresi apokrin, membebaskan asam-asam lemak yang memiliki bau khas. Antibiotik topikal (clindamycin, erythromycin, dsb) sebaiknya hanya digunakan ketika antiseptik lainnya tak efektif karena terkait erat dengan munculnya risiko resistensi bakteri yang lebih besar.
7. Menggunakan parfum (fragrances) hendaknya berhati-hati, sebab terkadang beberapa orang dapat terkena dermatitis kontak alergi setelah memakai parfum.
8. Iontophoresis mengganggu produksi keringat, berperan di dalam manajemen bau keringat karena kelenjar ekrin (eccrine bromhidrosis).
9. Injeksi lokal botulinum toxin A mengurangi bau ketiak. Aksi penghambatan botulinum toxin A untuk mengurangi produksi keringat dengan cara mendenervasi kelenjar keringat ekrin telah diaplikasikan dan sukses mengatasi kasus axillary hyperhidrosis.
10. Penggunaan laser frekuensi ganda jenis Q-switched Nd:YAG laser efektif mengatasi kasus axillary bromhidrosis.
11. Penggunaan solusi 20% aluminum chloride di dalam ethyl alcohol haruslah dengan resep dan rekomendasi dokter.
12. Penggunaan obat-obatan golongan antikolinergik sistemik menurunkan proses berkeringat, namun harus dengan resep dokter mengingat efek sampingnya.
13. Menghindari memakan makanan dengan aroma tajam yang berpotensi menghasilkan atau memproduksi bau badan tak sedap, misalnya: daging kambing, rempah-rempah tertentu, bumbu kari, bawang putih, bawang merah, alkohol, lemak hewan, dsb.
14. Melakukan bacterial swabs sesuai rekomendasi dokter untuk memastikan bakteri dan mikroflora penyebab bau badan, misalnya: spesies Staphylococcus, Micrococcus, Corynebacterium, dan Propionibacterium.
15. Mencari penyebab kelainan metabolisme dengan screening genetika untuk mencari penyebab yang mendasari terjadinya bau badan, misalnya: triethylaminuria, kelainan metabolisme yang jarang sebagai penyebab badan berbau amis.
16. Banyak mengkonsumsi beraneka-ragam buah dan sayuran.
17. Berpola hidup teratur dan seimbang, baik jasmani maupun ruhani.

Demikian penjelasan kami, semoga memberikan solusi.

Salam sehat dan sukses selalu!

Dokter Dito Anurogo
Dokter di Neuroscience Department, Brain Circulation Institute of Indonesia, Surya University (BCII SU), Indonesia.

(hrn/up)

Berita Terkait