Kulit Bentol Seperti Kena Ulat Bulu Saat Digigit Nyamuk, Apa Sebabnya?

Kulit Bentol Seperti Kena Ulat Bulu Saat Digigit Nyamuk, Apa Sebabnya?

Suherni Sulaeman - detikHealth
Senin, 24 Feb 2014 11:20 WIB
Kulit Bentol Seperti Kena Ulat Bulu Saat Digigit Nyamuk, Apa Sebabnya?
Ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Jakarta -

Begini dokter, saya mau bertanya setiap kali ada nyamuk menggigit di salah satu bagian kulit saya bekas gigitan itu bukan titik merah tapi akan menjadi bentol-bentol besar seperti kulit yang terkena ulat bulu dan sangat gatal yang baru bisa hilang setelah satu jam. Apakah saya mengalami alergi dengan gigitan nyamuk Dok? Mohon jawabannya. Terimakasih.

Jhonny Edward Prastyawiguna (Laki-laki menikah, 30 tahun)
jhonny_edward_XXXXX@hotmai.com
Tinggi badan 167 cm, berat badan 65 kg

Jawaban

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bentol-bentol di kulit akibat gigitan nyamuk itu disebut hives, istilah medisnya urtikaria akut atau cukup disingkat urtikaria.

Urtikaria berkembang bila ada reaksi yang mengaktifkan sel-sel imun di kulit, yang disebut mast cells. Saat teraktivasi, sel-sel ini melepaskan (membebaskan) beragam zat kimiawi natural (alamiah). Salah satu senyawa kimiawi yang penting adalah histamin, yang menyebabkan rasa gatal, warna kulit memerah, dan pembengkakan kulit di sekitar "gigitan" nyamuk. Dalam banyak kasus, urtikaria ini muncul mendadak dan menghilang dalam beberapa jam.

Urtikaria ini memiliki beberapa tipe, yaitu: akut (berlangsung singkat), kronis (lama), fisik (dipicu oleh stimulasi fisik, seperti: panas, dingin, atau paparan sinar matahari/surya).

Urtikaria ini dapat pula disertai beberapa gejala, seperti: problematika pernafasan, rasa mencekik di tenggorokan/kerongkongan, mual dan/atau muntah, kram perut, nyeri perut. Bila mengalami hal ini, cepatlah ke UGD/IGD/rumah sakit terdekat, karena kondisi ini merupakan kegawatdaruratan yang harus segera diatasi.

Adapun beberapa kondisi berikut ini amat mirip dengan urtikaria, sehingga untuk kepastian diagnosis, perlu segera dikonsultasikan ke dokter:

1. Angioedema
2. Atopic dermatitis (eczema)
3. Chronic pruritus
4. Contact Dermatitis
5. Contact Dermatitis, Allergic
6. Dermatitis herpetiformis
7. Drug eruptions
8. Erysipelas
9. Erythema multiforme
10. Henoch-Schonlein purpura (Anaphylactoid Purpura)
11. Mastocytosis, Systemic
12. Pemphigoid
13. Pityriasis rosea
14. Scabies
15. Serum sickness
16. Thrombophlebitis
17. Urticaria pigmentosa
18. Urticarial vasculitis

Khusus pada wanita, kasus seperti ini patut pula diwaspadai, karena dapat mengarah ke diagnosis 'polymorphic eruption of pregnancy'. Penegakan diagnosis berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang, sesuai dengan EAACI/GA2LEN/EDF guideline.

Bila memang benar urtikaria, maka dokter dapat merekomendasikan beberapa medikamentosa berikut ini:

1. Antagonis H1 generasi pertama, misalnya: diphenhydramine, hydroxyzine, chlorpheniramine, cyproheptadine.
2. Antagonis H1 generasi kedua, misalnya: cetirizine, levocetirizine, desloratadine, loratadine, fexofenadine.
3. Antagonis H2, misalnya: ranitidine, cimetidine.
4. Corticosteroids (kortikosteroid), misalnya: methylprednisolone, prednisone, prednisolone.
5. Agen simpatomimetik, misalnya: epinephrine.
6. Terapi imunomodulator dan antiperadangan (anti-inflammatory), misalnya: cyclosporine, colchicine, dapsone.
7. Golongan antidepresan trisiklik.
8. Omalizumab (antibodi monoklonal terhadap IgE) pada kasus urtikaria kronis tampaknya menjanjikan, namun masih memerlukan studi/riset lebih lanjut.

Pencegahan
Untuk mencegah terjadinya urtikaria, berikut ini strateginya:
1. Hindari melakukan jogging setelah memakan udang (shrimp cocktail).
2. Berhati-hati bila diberi obat aspirin, golongan NSAID, opiat.
3. Hindari alkohol.
4. Menghindari serbuan/serangan serangga (termasuk nyamuk) dengan pola hidup bersih dan sehat.
5. Bila berobat ke dokter, maka berterusteranglah bila pernah alergi atau tidak cocok dengan obat tertentu. Sebutkan pula nama obatnya, misalnya: penisilin, tetrasiklin, dsb.

Demikian penjelasan ini, semoga memberikan solusi.

Dokter Dito Anurogo
Penulis 14 buku. Berkarya di Neuroscience department, Brain and Circulation Institute of Indonesia (BCII) Surya University, Indonesia.

(hrn/vta)

Berita Terkait