Santi Yulianti (Wanita lajang, 29 tahun)
shanti_gaiaXXXXX@yahoo.com
Tinggi badan 156 cm, berat badan 55 kg
Jawaban
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dari uraian singkat di atas, kami menemukan petunjuk inti, yaitu: kesemutan.
Kesemutan dapat terjadi dari disfungsi bagian tubuh manapun di sepanjang jalur dari reseptor persarafan sensoris, termasuk korteks serebral. Mekanisme umum terjadinya kesemutan antara lain melalui proses berikut ini:
1. gangguan degeneratif (misalnya: neuropati herediter),
2. gangguan yang diperantarai sistim imun (misalnya: inflamasi paskainfeksi, seperti: transverse myelitis),
3. gangguan metabolisme (misalnya: diabetes, penyakit ginjal kronis, defisiensi thiamin atau vitamin B12),
4. gangguan demyelinating atau selubung-simpul saraf (misalnya: multipel sklerosis, sindrom Guillain-Barré),
5. infeksi (misalnya: HIV, lepra)
6. iskemia atau gangguan suplai darah ke jaringan/organ tubuh (misalnya: infark tulang belakang atau otak, vaskulitis)
7. kompresi/penekanan saraf secara mekanis (misalnya oleh tumor atau herniated disk [di dunia kedokteran biasa disebut nucleus pulposus], sindrom carpal tunnel)
8. obat-obatan atau toksin (misalnya: logam berat, obat-obat kemoterapi tertentu)
Penyebab
Kesemutan memiliki penyebab yang beragam. Untuk kesemutan yang hanya mengenai satu sisi bagian tubuh, maka kemungkinan penyebabnya:
1. disfungsi (gangguan fungsi) kortikal (misalnya: stroke, tumor, multipel sklerosis, gangguan otak degeneratif),
2. disfungsi thalamus atau batang otak bagian atas (misalnya: stroke, tumor, abses),
3. disfungsi batang otak bagian bawah (misalnya: stroke, tumor, gangguan otak degeneratif).
Untuk kesemutan yang hanya mengenai kedua sisi bagian tubuh, maka kemungkinan penyebabnya:
1. mielopati transversal (misalnya: kompresi tulang belakang, transverse myelitis),
2. disfungsi tulang belakang di bagian dorsal column (misalnya: multipel sklerosis, defisiensi vitamin B12, tabes dorsalis),
3. kompresi (penekanan) cauda equina, disebut juga sindrom cauda equina (dikarenakan penonjolan diskus atau herniated disk atau penyebaran spinal/ vertebral),
4. multipel mononeuropati, disebut juga mononeuritis multipleks (misalnya: terkait dengan gangguan jaringan konektif, infeksi, gangguan metabolisme seperti diabetes)
5. polineuropati, seperti: axonal polyneuropathies, demyelinating polyneuropathies.
Segeralah ke dokter atau unit gawat darurat (UGD) di RS terdekat, bila kesemutan yang dirasakan disertai:
1. kelemahan, kelumpuhan, kesulitan menggerakkan tangan/kaki
2. bingung
3. sulit berbicara, pelo, tidak bisa berkata-kata, dimana sebelumnya bisa
4. pusing
5. mendadak sakit kepala yang hebat, kepala terasa berat
Pemeriksaan Penunjang
Pendekatan diagnostik untuk kesemutan adalah dengan menggunakan
MRI atau Magnetic Resonance Imaging (terutama bila dicurigai terjadi disfungsi batang otak), CT scan. MRI dan/atau CT scan ini umumnya direkomendasikan dokter bila dijumpai riwayat cedera/trauma kepala, atau dokter mencurigai adanya tumor otak, atau deteksi dini stroke.
Pendekatan lain yang berbasis anatomis adalah dengan studi konduksi saraf dan elektromiografi (uji elektrodiagnostik testing). Hal ini dilakukan bila dicurigai ada gangguan di saraf tepi (perifer) atau akar saraf.
Bila ternyata diagnosis mengarah ke polineuropati, maka dokter akan menyarankan pemeriksaan penunjang/laboratorium lainnya, meliputi: hitung darah lengkap, elektrolit, tes fungsi ginjal, tes reagin plasma cepat, pengukuran glukosa plasma puasa, hemoglobin A1C, vitamin B12, folat, TSH (thyroid-stimulating hormone). Beberapa klinisi menyarankan pemeriksaan serum protein electrophoresis.
Pencegahan
Kesemutan dapat dicegah dengan cara berikut ini:
1. Hindari tidur hanya dalam satu posisi (miring).
2. Hindari menindih tangan/kaki saat duduk, tidur, berbaring.
3. Konsumsi vitamin B kompleks.
4. Hindari duduk dalam waktu lama.
5. Bila rutinitas di kantor/tempat kerja mengharuskan duduk, maka setiap 30 menit sempatkanlah melakukan peregangan sekitar 5-10 menit.
6. Bila pekerjaan mengharuskan di depan komputer, maka setiap 30 menit, berdirilah, berjalan-jalanlah di ruang, misalnya untuk mengambil air minum, melihat ke luar jendela, dsb.
7. Upayakan agar tidak terlalu sering memakai sepatu dengan hak tinggi.
Demikian penjelasan ini, semoga memberikan solusi.
Dokter Dito Anurogo
Penulis 14 buku. Berkarya di Neuroscience department, Brain and Circulation Institute of Indonesia (BCII) Surya University, Indonesia.
(hrn/up)











































