Saya sempat periksa beberapa kali ke dokter umum dan kata dokter, saya hanya butuh bedrest. Akan tetapi masalah ini belum teratasi. Apakah saya perlu melakukan pemeriksaan lanjutan terkait dengan permasalahan yang saya alami ini? Mohon saran dan komentarnya. Terimakasih.
Aries Juan (Pria lajang, 24 tahun)
stonney_XXXXX@live.com
Tinggi badan 155 cm, berat badan 45 kg
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dear Aries Juan, terimakasih atas kepercayaannya kepada kami. Langsung saja kita menuju ke pokok persoalan.
Dari pertanyaan Aries Juan di atas, kami menemukan petunjuk kunci, yaitu: pusing, sakit punggung, setahun, bekerja di depan komputer.
Ada kemungkinan mengarah ke diagnosis chronic fatigue syndrome (CFS). CFS ini seringkali tidak terdeteksi oleh medis dikarenakan keluhan utamanya 'hanya' lelah, kecapekan, lemas. Sebagian medis bahkan beranggapan bahwa CFS ini hanyalah kelelahan yang amat dan gejala penyertanya yang berlangsung selama setidaknya enam bulan.
Berbagai riset menunjukkan bahwa CFS tidak sekadar manifestasi dari gangguan psikiatris (kejiwaan) yang mendasarinya, namun juga dikarakterisasikan oleh aktivasi sistem imun, beragam abnormalitas beberapa aksis hypothalamic-pituitary, dan reaktivasi agen-agen infeksi tertentu.
Kaushik N, dkk (2005) berhasil membuktikan bahwa penderita CFS memiliki perubahan yang reproducible di dalam pengaturan gen (gene regulation).
Patarca R (2001) juga berhasil membuktikan melalui risetnya bahwa penderita CFS menunjukkan bukti aktivasi imun, yang ditunjukkan oleh meningkatnya limfosit T teraktivasi, termasuk sel-sel T sitotoksik, di samping juga terdapat peningkatan kadar sitokin yang bersirkulasi (circulating cytokines). Fungsi sel imun penderita CFS menurun, disertai sedikitnya jumlah natural killer cell cytotoxicity (NKCC), sedikitnya respon limfosit terhadap mitogen di culture, dan sering dijumpainya defisiensi immunoglobulin, terutama IgG1 dan IgG3.
Disfungsi imun penderita CFS dengan predominan T-helper tipe 2 dan sitokin proinflamasi, dapat episodik dan terkait dengan penyebab atau efek kekacauan fungsi psikologis dan fisiologis dan/atau aktivasi virus laten atau berbagai patogen lainnya. Interaksi atau interplay di antara multifaktor ini dapat berpengaruh di dalam siklus eksaserbasi/remisi dari CFS.
Pada penderita CFS, juga ditemukan abnormalitas fungsi sel-sel natural killer dan penurunan enhancement sitotoksisitas di dalam kehadiran interleukin-2 (IL-2).
Dengan pemeriksaan proton magnetic resonance spectroscopy, maka jelas terlihat penurunan konsentrasi N-acetylaspartate yang signifikan di otak bagian hipokampus kanan dari penderita CFS.
Tantangan
Kesulitan yang umum dijumpai di dalam mengatasi penderita CFS adalah adanya problematika coping dengan:
1. gejala-gejala yang senantiasa berubah-ubah dan tidak dapat diprediksi
2. penurunan stamina tubuh yang mengganggu aktivitas harian
3. problem memori dan konsentrasi yang mengganggu kinerja di kantor/sekolah
4. hilangnya kebebasan, mata pencaharian, dan keamanan ekonomi
5. perubahan di dalam berinteraksi dengan sahabat, tetangga, dan keluarga
Perasaan marah, cemas, rasa bersalah, takut, khawatir, terasing, ditolak seringkali dijumpai pada penderita CFS dengan spektrum yang bervariasi.
Solusi
Tim medis akan segera melakukan upaya peningkatan kesehatan dan kualitas hidup dengan metode: cognitive behavioral therapy (CBT), dukungan kelompok (support groups), dan konseling dengan ahlinya.
Hal lain yang juga direkomendasikan adalah graded exercise therapy (GET), seperti: latihan aerobic, berenang, berjalan, jogging, dsb.
Obat-obatan diberikan dokter hanya bila diperlukan dan sesuai indikasi. Misalnya: antidepresan diresepkan dokter untuk menolong penderita CFS yang merasa nyeri atau memiliki masalah dengan tidur.
Metode 'pacing' juga bermanfaat untuk mengendalikan gejala CFS. Prinsipnya adalah keseimbangan antara periode beristirahat dengan beraktivitas. 'Pacing' berarti tidak memaksakan diri untuk melakukan sesuatu secara berlebihan, tidak mengerjakan sesuatu yang di luar kemampuannya.
Beberapa hal yang juga sering direkomendasikan oleh tim dokter adalah:
1. hindari situasi yang menimbulkan stres
2. hindari dan stop konsumsi alkohol, kafein, MSG, gula, dan pemanis
3. hindari makanan dan minuman yang membuat tubuh lelah dan alergi
4. teratur di dalam makan disertai dengan pola makan yang bergizi dan seimbang
5. luangkan waktu setiap hari untuk relaksasi (minimal 60 menit)
6. hindari begadang hingga larut malam atau tidur berlebihan
7. tingkatkan spiritualitas dan keimanan melalui kegiatan ibadah (ritual dan sosial)
Penderita CFS tentunya dapat segera pulih bila mereka dapat berkolaborasi dan kooperatif dengan tim dokter dan tim profesional lainnya, seperti: spesialis rehabilitasi, profesional kesehatan mental, terapis, dsb.
Demikian penjelasan ini, semoga memberikan solusi.
Salam sehat dan sukses selalu!
Dokter Dito Anurogo
Penulis 14 buku. Berkarya di Neuroscience department, Brain and Circulation Institute of Indonesia (BCII) Surya University, Indonesia.
(hrn/vit)











































